Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gunungkidul Gempar! Jejak Harimau Viral, BKSDA Turun Tangan Selidiki

2026-01-03 | 22:27 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T15:27:14Z
Ruang Iklan

Gunungkidul Gempar! Jejak Harimau Viral, BKSDA Turun Tangan Selidiki

Jejak kaki besar yang viral di media sosial, diduga milik harimau, memicu pemeriksaan mendalam oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta di situs pembangunan pondok pesantren di Semanu, Gunungkidul, pada 2 Januari 2026. Temuan ini menyulut kembali perdebatan panjang mengenai keberadaan kucing besar di Pulau Jawa yang padat penduduk, sekaligus menyoroti tantangan konservasi di tengah geliat pembangunan dan pariwisata.

Pekerja proyek di Pondok Pesantren Semanu melaporkan penemuan jejak kaki tersebut pada Jumat, 2 Januari 2026, yang kemudian menjadi viral di media sosial. Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul BKSDA Yogyakarta, Tugimayanto, memimpin tim untuk mendatangi lokasi. Namun, investigasi langsung di lapangan menghadapi kendala signifikan. Jejak kaki yang dilaporkan telah hilang akibat hujan deras, menyulitkan tim untuk melakukan pengukuran dan analisis akurat. "Kami sudah melakukan pengecekan di lokasi dan hasilnya minim sekali data," kata Tugimayanto, pada Jumat, 2 Januari 2026.

Tugimayanto dengan tegas menyatakan bahwa habitat harimau di Gunungkidul maupun di Pulau Jawa secara umum sudah tidak ada. Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), subspesies endemik Pulau Jawa, telah dinyatakan punah sejak tahun 1980-an, utamanya disebabkan oleh perburuan intensif dan fragmentasi habitat. Namun, Gunungkidul masih menjadi salah satu wilayah sebaran macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), satu-satunya spesies kucing besar yang tersisa di Pulau Jawa. Macan tutul Jawa sendiri berstatus kritis (Critically Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), dengan perkiraan populasi global hanya sekitar 319 individu dan kurang dari 50 ekor dewasa.

Kemunculan laporan jejak ini, meskipun belum terkonfirmasi sebagai macan tutul, menggarisbawahi tekanan ekologis yang terus meningkat di Gunungkidul. Wilayah ini, yang dikenal dengan keindahan alamnya dan menjadi destinasi wisata populer, menghadapi alih fungsi lahan masif untuk pembangunan infrastruktur dan pariwisata. Dr. Dwi Sendi Priyono, S.Si., M.Si., dosen Fakultas Biologi UGM dan ahli DNA forensik satwa liar, telah menekankan bahwa penurunan populasi macan tutul Jawa tidak dapat dianggap remeh. Ia menyuarakan perlunya pendekatan respons yang integratif, meliputi perlindungan habitat, mitigasi konflik, penegakan hukum, keterlibatan masyarakat, dan pemantauan ilmiah.

Sejalan dengan kekhawatiran ini, sebuah survei komprehensif skala Jawa, Java-Wide Leopard Survey (JWLS), telah diluncurkan sejak awal tahun 2024 untuk memetakan keberadaan, sebaran, dan struktur populasi macan tutul Jawa. Survei ini menggunakan teknologi kamera trap dan analisis genetik sebagai metode pemantauan yang komprehensif. Hasil awal dari tujuh bentang alam yang telah disurvei menunjukkan deteksi macan tutul Jawa di enam lokasi, dengan 34 individu teridentifikasi.

Meskipun BKSDA belum dapat memastikan jenis jejak di Semanu, monitoring akan terus dilakukan di lokasi tersebut. Kejadian ini mengingatkan akan konflik manusia-satwa liar yang tak terhindarkan seiring menyusutnya habitat alami. Kehadiran macan tutul di wilayah non-kawasan lindung menambah kompleksitas upaya konservasi. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sendiri berencana membangun tempat konservasi satwa lokal di Kalurahan Giritirto, Purwosari, yang juga akan berfungsi sebagai edukasi dan destinasi wisata, namun fokusnya lebih pada pengendalian monyet ekor panjang dan satwa lokal lainnya.

Bagi industri pariwisata Gunungkidul, insiden semacam ini membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, viralnya jejak "harimau" dapat menarik perhatian pada kekayaan alam dan potensi ekowisata. Namun, di sisi lain, ketidakpastian mengenai keberadaan hewan buas dapat menimbulkan kekhawatiran bagi wisatawan dan masyarakat lokal, terutama yang berinteraksi langsung dengan alam. Edukasi yang tepat dan komunikasi yang transparan dari pihak berwenang mengenai satwa liar di Gunungkidul menjadi krusial untuk mencegah kepanikan dan memitigasi konflik yang mungkin timbul. Penguatan kolaborasi antara pemerintah, komunitas lokal, dan ahli konservasi adalah kunci untuk memastikan koeksistensi yang harmonis antara manusia dan satwa liar di lanskap Gunungkidul yang terus berubah.