:strip_icc()/kly-media-production/medias/2361172/original/052423100_1537196508-GUNUNG_PRAU_4-Muhamad_Ridlo.jpg)
Pendakian Gunung Prau di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, akan ditutup total mulai 19 Januari 2026 hingga 20 Maret 2026 untuk mengantisipasi cuaca buruk, melakukan reboisasi, serta pembenahan jalur pendakian. Kebijakan tahunan ini, yang dikeluarkan oleh Forum Koordinasi Gunung Prau Indonesia (FKPI) berdasarkan surat edaran dari PT Palawi Resorsis Nomor: 1886/A.2/PAL-ABBWB/2025, bertujuan menjaga kelestarian ekosistem dan menjamin keselamatan pendaki. Selama periode penutupan, pengelola juga membuka kesempatan bagi masyarakat dan pegiat lingkungan untuk berdonasi bibit tanaman endemik guna mendukung program reboisasi.
Ketua Umum FKPI, Harsono, menjelaskan bahwa penutupan ini merupakan agenda rutin tahunan yang memanfaatkan musim hujan sebagai waktu ideal untuk penanaman pohon. "Selama penutupan, pihak pengelola akan melaksanakan reboisasi, penanaman, serta perawatan dan berbenah jalur di masing-masing basecamp," kata Harsono. Ia menambahkan bahwa jenis tanaman yang akan ditanam adalah pohon endemik Gunung Prau, seperti cemara gembel atau bintami, dengan harapan tingkat kelangsungan hidup mencapai 90 persen. Enam jalur pendakian yang ditutup meliputi Patak Banteng, Dieng, Dwarawati, Kali Lembu, Igirmranak, dan Wates.
Kebutuhan akan reboisasi dan revitalisasi ekosistem Gunung Prau semakin mendesak mengingat tekanan aktivitas pariwisata. Gunung Prau, dengan ketinggian puncak 2.590 meter di atas permukaan laut (mdpl), merupakan salah satu gunung favorit di Jawa Tengah yang dikenal dengan panorama matahari terbitnya. Pada tahun 2018, tercatat sekitar 125.000 pendaki, dan angka ini meningkat menjadi 165.800 pendaki pada tahun 2019 melalui jalur Patak Banteng saja, menunjukkan popularitasnya sebagai "Gunung Sejuta Umat". Data tahun 2023 menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 60.663 pengunjung, dengan perputaran ekonomi lokal mencapai sekitar Rp30 miliar per tahun. Namun, tingginya jumlah pendaki turut berkontribusi pada permasalahan lingkungan seperti penumpukan sampah dan degradasi jalur.
Alih fungsi lahan menjadi areal pertanian di lereng Gunung Prau, khususnya di wilayah Kabupaten Batang, juga telah menyebabkan kerusakan dan penggundulan hutan lindung, memengaruhi habitat satwa liar dan meningkatkan risiko bencana seperti tanah longsor serta kebakaran hutan. Penanaman kembali jenis pohon berbatang keras dan buah-buahan seperti aren, trembesi, sono keling, duwet, sirsak, dan duren diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi ekologis hutan sebagai penahan air dan pencegah erosi, tetapi juga dapat menjadi sumber makanan bagi satwa penghuni lereng gunung.
Penutupan ini juga merupakan bagian dari upaya konservasi yang lebih luas di Dataran Tinggi Dieng, yang menghadapi masalah lahan kritis akibat pertanian monokultur. Gerakan reboisasi dengan penanaman kopi di lereng Dieng, seperti yang digagas Jagat Tunas Bumi (JATUBU) bersama Universitas Pertahanan (Unhan) pada Oktober 2025, menunjukkan upaya kolaboratif untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus konservasi alam. Langkah-langkah ini krusial untuk memastikan keberlanjutan fungsi ekologis Gunung Prau dan kawasan Dieng secara keseluruhan, sejalan dengan desakan global untuk pariwisata yang lebih bertanggung jawab dan upaya mitigasi dampak overtourism pada destinasi populer. Para pendaki diimbau untuk mematuhi kebijakan ini demi keamanan pribadi dan kelestarian alam yang menjadi daya tarik utama Gunung Prau.