Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Greenland: Mengapa Pulau Terbesar Dunia Ini Begitu Memikat Ambisi Donald Trump?

2026-01-07 | 16:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T09:34:58Z
Ruang Iklan

Greenland: Mengapa Pulau Terbesar Dunia Ini Begitu Memikat Ambisi Donald Trump?

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai keinginan untuk mengakuisisi Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, kembali memicu ketegangan diplomatik dan sorotan global terhadap pulau terbesar di dunia tersebut. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada Senin, 5 Januari 2026, menegaskan penolakan keras negaranya, menekankan bahwa Greenland "bukan untuk dijual" dan konsisten menolak gagasan tersebut, bahkan memperingatkan bahwa langkah sepihak Washington dapat mengancam keutuhan aliansi NATO.

Ambisi Trump untuk menguasai Greenland bukanlah hal baru. Ia pertama kali memunculkan ide tersebut pada 2019, memicu kontroversi dan penolakan tegas dari Denmark, yang disebut Perdana Menteri Frederiksen kala itu sebagai "gagasan absurd". Trump membalas dengan menyebut komentar Frederiksen "menjijikkan" dan membatalkan kunjungan resmi ke Denmark yang telah direncanakan pada September 2019. Namun, gagasan itu dihidupkan kembali pada awal 2025 bersamaan dengan kembalinya Trump ke Gedung Putih. Mantan penasihat keamanan nasional Trump, Mike Waltz, pada Januari 2024, mengisyaratkan bahwa ketertarikan Washington terhadap Greenland berkaitan erat dengan akses terhadap "mineral kritis" dan kekayaan sumber daya alam lainnya, meskipun Trump sendiri mengatakan bahwa kepentingan Amerika Serikat semata-mata didorong oleh pertimbangan keamanan nasional, "bukan karena mineral". Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller bahkan mempertanyakan legitimasi kontrol Denmark atas Greenland, menyatakan bahwa "Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat" demi mengamankan kawasan Arktik serta melindungi dan membela kepentingan NATO. Miller juga tidak menutup kemungkinan operasi militer, berargumen bahwa "tidak ada pihak yang akan melawan Amerika Serikat secara militer terkait masa depan Greenland".

Greenland menempati posisi geopolitik kunci di antara Amerika Serikat dan Eropa, melintasi celah GIUK, sebuah rute maritim strategis yang membentang dari Greenland, Islandia, hingga Inggris, menghubungkan kawasan Arktik dengan Samudra Atlantik. Pulau ini dianggap vital bagi keamanan nasional AS, dengan keberadaan Pangkalan Udara Pituffik (sebelumnya Thule Airbase), fasilitas militer paling utara AS yang berfungsi sebagai bagian dari sistem peringatan dini dan pertahanan udara. Seiring mencairnya lapisan es Arktik, kawasan ini semakin menjadi arena persaingan global, dengan AS mengoperasikan pangkalan militer di sana yang berfungsi sebagai elemen penting dalam arsitektur keamanan AS dan NATO. Rusia, melalui Kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) Kirill Dmitriev, bahkan menyatakan keyakinan bahwa penguasaan AS atas Greenland tinggal menunggu waktu dan menyiratkan bahwa Kanada bisa menjadi target berikutnya.

Di balik hamparan esnya, Greenland menyimpan kekayaan alam yang melimpah dan menjadi incaran global. Wilayah seluas 2,16 juta kilometer persegi ini diperkirakan memiliki cadangan minyak dan gas lepas pantai sebesar 17,5 miliar barel (data US Geological Survey, 2023), serta 25% cadangan mineral tanah jarang (rare earth) dunia. Logam tanah jarang ini sangat krusial bagi ekonomi global, digunakan dalam produksi mobil listrik, turbin angin, dan peralatan militer, menjadikannya penting di tengah dominasi China dalam sektor ini. Selain itu, Greenland juga kaya akan mineral lain seperti titanium, vanadium, tungsten, nikel, seng, timbal, dan emas. Mencairnya es Arktik akibat perubahan iklim berpotensi mempermudah akses dan eksploitasi sumber daya alam ini, sekaligus membuka jalur pelayaran utara yang dapat menggeser peta perdagangan global.

Dampak perubahan iklim di Greenland semakin nyata dan memiliki implikasi global yang signifikan. Lapisan es Greenland, yang merupakan massa es terbesar kedua di dunia setelah Antartika dan menutupi sekitar 80% daratan pulau, terus mencair dengan kecepatan mengkhawatirkan. Antara tahun 1985 hingga 2022, Greenland kehilangan lapisan es seluas 5.091 kilometer persegi, setara dengan hampir dua kali luas negara Luksemburg. Jika lapisan es ini mencair seluruhnya, permukaan laut global akan naik sekitar 7,2 meter. Studi terbaru yang dipimpin Dr. Tom Chudley dari Universitas Durham menunjukkan bahwa retakan pada lapisan es Greenland berkembang jauh lebih cepat, dalam skala lima tahun, dibandingkan dengan catatan sebelumnya yang berskala dekade, berkontribusi pada kenaikan permukaan laut sekitar 14 mm sejak 1992.

Secara politik, Greenland memiliki status otonomi dalam Kerajaan Denmark sejak 1979, yang memberikannya kendali atas urusan domestik, sementara Denmark bertanggung jawab atas urusan luar negeri dan pertahanan. Perekonomian Greenland yang memiliki sekitar 57.000 penduduk, sebagian besar berasal dari latar belakang Inuit, sebagian besar bergantung pada sektor perikanan. Namun, pulau ini berupaya mendiversifikasi ekonominya, termasuk melalui pengembangan sektor pariwisata dan pertambangan. Perhatian global yang dipicu oleh pernyataan Trump secara ironis telah meningkatkan popularitas Greenland sebagai destinasi wisata. Pada November 2024, Bandara Internasional Nuuk telah dibuka untuk menampung pesawat berukuran lebih besar, dan landasan pacu baru di Ilulissat direncanakan selesai pada 2026. Maskapai United Airlines bahkan akan memulai penerbangan langsung dari New York ke Nuuk pada Juni 2025. Statistik menunjukkan peningkatan signifikan pada pariwisata kapal pesiar, dengan 74 kapal berbeda melakukan 183 perjalanan ke Greenland pada tahun 2023, naik dari 50 kapal dan 123 perjalanan pada tahun 2022. Jumlah malam menginap turis asing secara nasional menunjukkan pertumbuhan 1,3% dari 2022 ke 2023.

Penolakan keras dari Denmark dan Greenland, yang didukung oleh solidaritas dari negara-negara Eropa utama seperti Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Polandia, menegaskan prinsip kedaulatan dan menolak tindakan sepihak dalam konteks geopolitik yang semakin memanas. Para pemimpin Eropa menekankan bahwa stabilitas dan keamanan kawasan Arktik harus dijaga secara kolektif dalam kerangka NATO. Dinamika ini menempatkan Greenland di persimpangan antara peluang ekonomi besar dari kekayaan mineral dan pariwisata yang didorong oleh perubahan iklim, serta tekanan geopolitik yang berpotensi mengancam otonomi dan identitas budayanya. Masa depan pulau ini akan ditentukan oleh keseimbangan antara aspirasi kemandirian, perlindungan lingkungan, dan kepentingan strategis kekuatan-kekuatan global.