:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473392/original/072553800_1768440623-WhatsApp_Image_2026-01-15_at_06.52.44.jpeg)
Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari (MINHA) di Jombang, Jawa Timur, kembali membuka layanan kunjungan masyarakat setelah menjalani revitalisasi ekstensif, menawarkan akses gratis selama periode uji coba mulai 13 Januari hingga 31 Januari 2026. Pembukaan kembali museum yang berlokasi strategis di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, berdekatan dengan makam Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ini bertujuan untuk memperkuat fungsinya sebagai pusat pelestarian warisan budaya dan edukasi sejarah Islam di Nusantara. Pengelola museum akan memberlakukan tiket berbayar secara penuh mulai 1 Februari 2026, setelah masa uji coba ini berakhir.
Revitalisasi MINHA, yang berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, telah berlangsung sejak September 2024. Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin, menyatakan bahwa pembaruan ini diharapkan meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung dalam memahami perjalanan peradaban Islam di Indonesia. Penataan ulang meliputi area pamer di lantai satu dan dua, penambahan ruang serta zona tematik, dan penguatan narasi sejarah yang disusun lebih komprehensif, menampilkan wajah baru yang lebih modern, informatif, dan kontekstual.
MINHA pertama kali diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 18 Desember 2018, setelah proses pembangunan yang dimulai sejak tahun 2014 atas gagasan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari. Gus Sholah menginisiasi pembangunan museum ini sebagai respons terhadap kebutuhan dokumentasi dan pengenalan sejarah perkembangan Islam di Indonesia yang damai, sekaligus memberikan edukasi kepada sekitar 9.000 peziarah harian yang mengunjungi makam Gus Dur. Museum ini didirikan untuk mengajarkan nilai-nilai Islam yang menekankan toleransi terhadap keberagaman budaya Nusantara dan mengangkat tokoh-tokoh utama sejarah Islam seperti KH Hasyim Asy'ari dan Gus Dur.
Koleksi museum mencakup sekitar 200 artefak dan replika yang mendeskripsikan perkembangan Islam di Nusantara dari abad ke-11 hingga ke-19 Masehi, terbagi berdasarkan wilayah geografis seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, hingga Papua. Di antara koleksi unggulan, terdapat replika batu nisan makam Fatimah binti Maimun tahun 1080 serta memorabilia pribadi KH Hasyim Asy'ari, termasuk jubah asli, tongkat kayu, kursi, dan kitab kuno. Ruangan audio visual dan pojok konservasi juga disediakan untuk memperkaya pengalaman pengunjung. Pasca revitalisasi, koleksi benda bersejarah di MINHA juga mengalami penambahan.
Masa uji coba gratis ini merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan publik di sektor kebudayaan, sekaligus sebagai sarana evaluasi kesiapan operasional, fasilitas, dan sistem layanan museum sebelum dibuka secara penuh. Diharapkan, dengan tampilan baru ini, MINHA tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan koleksi, tetapi juga menjadi pusat dialog budaya dan pembelajaran publik yang berkontribusi pada penguatan identitas bangsa yang inklusif dan berkelanjutan. Kehadiran museum yang telah diperbarui ini memiliki potensi signifikan dalam memperkaya narasi Islam moderat di Indonesia, menarik minat generasi muda untuk memahami sejarah dan nilai-nilai luhur peradaban Islam, serta mendukung sektor pariwisata edukasi di Jombang, Jawa Timur.