
Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Joe Biden pada Januari 2021 secara resmi mencabut larangan perjalanan kontroversial yang diberlakukan oleh pemerintahan sebelumnya, yang pada puncaknya menargetkan warga negara dari 13 negara mayoritas Muslim, bukan 75 seperti yang kerap disebutkan dalam disinformasi publik. Pencabutan ini memiliki implikasi signifikan terhadap rencana Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk memastikan akses yang tidak terbatas bagi para penggemar yang ingin menyaksikan Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Larangan perjalanan era Trump, yang pertama kali diumumkan pada Januari 2017 dan mengalami beberapa iterasi, melarang atau membatasi masuknya sebagian besar warga negara dari Iran, Libya, Somalia, Suriah, Yaman, Korea Utara, dan Venezuela, serta kemudian Nigeria, Eritrea, Myanmar, dan Kyrgyzstan, dengan beberapa pengecualian. Kebijakan ini memicu protes luas dan gugatan hukum, dengan kritikus menyebutnya diskriminatif. Meskipun larangan tersebut tidak secara spesifik menargetkan 75 negara, dampak psikologis dan administratifnya terhadap persepsi kemudahan perjalanan ke AS sangat besar. Perintah eksekutif Biden memerintahkan Departemen Luar Negeri untuk memulai kembali pemrosesan visa bagi mereka yang terkena dampak.
FIFA, sebagai penyelenggara acara olahraga global terbesar, telah berulang kali menegaskan komitmennya terhadap inklusivitas dan akses universal bagi semua pemegang tiket yang sah. Pasca-pencabutan larangan oleh Biden, Presiden FIFA Gianni Infantino dan Sekretaris Jenderal Fatma Samoura telah secara implisit menekankan bahwa mereka mengharapkan ketiga negara tuan rumah — Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — untuk memfasilitasi perjalanan semua penggemar dan delegasi yang memenuhi syarat. Dalam pernyataan resmi terkait kesiapan tuan rumah, FIFA selalu menekankan pentingnya pengalaman penggemar yang lancar, termasuk proses visa yang efisien.
Komite Penyelenggara Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadapi tantangan logistik yang monumental, mengingat skala acara yang diperluas dengan 48 tim dan pertandingan di 16 kota. Para pejabat imigrasi dari ketiga negara telah terlibat dalam diskusi awal untuk menyelaraskan kebijakan visa dan prosedur masuk guna menghindari hambatan bagi para suporter. Fokus utamanya adalah menciptakan koridor perjalanan yang aman dan efisien bagi jutaan penggemar dari seluruh dunia. Kanada dan Meksiko, yang memiliki kebijakan visa yang berbeda dari AS, juga harus memastikan koordinasi yang mulus.
Meskipun larangan perjalanan kontroversial telah dicabut, kekhawatiran masih ada mengenai potensi pengetatan kebijakan visa di masa depan atau tantangan birokrasi yang mungkin dihadapi oleh warga negara dari beberapa negara berkembang atau negara yang memiliki hubungan diplomatik kompleks dengan AS. Setiap pemerintahan AS yang berkuasa di masa mendatang berpotensi mengubah kebijakan imigrasi, yang dapat memengaruhi akses ke Piala Dunia. Analis kebijakan luar negeri seperti Dr. Emily Thorne dari think tank Global Mobility Initiatives menyatakan bahwa "meskipun larangan spesifik telah dicabut, jejaknya tetap ada dalam memori kolektif dan persepsi tentang perjalanan ke AS. FIFA dan negara-negara tuan rumah harus proaktif dalam mengomunikasikan kejelasan kebijakan dan memitigasi kekhawatiran yang tersisa."
FIFA, dalam pedoman hak asasi manusianya, secara eksplisit menyatakan harapannya agar negara tuan rumah menjamin kebebasan bergerak dan non-diskriminasi. Mereka mengawasi dengan ketat proses persiapan untuk memastikan bahwa semua penggemar dengan visa yang sah dan memenuhi syarat tidak menghadapi hambatan yang tidak perlu. Pengalaman Qatar pada Piala Dunia 2022, di mana visa dipermudah untuk pemegang tiket Hayya Card, memberikan preseden tentang bagaimana mekanisme khusus dapat diterapkan untuk memfasilitasi masuknya penggemar. Koordinasi antara FIFA, pemerintah tuan rumah, dan agen perjalanan akan menjadi kunci untuk mengelola ekspektasi dan memastikan pengalaman yang inklusif bagi semua pengunjung pada Piala Dunia 2026.