:strip_icc()/kly-media-production/medias/4664236/original/037374800_1701057833-20231127-Gunung-Etna-Italia-AP-5.jpg)
Puluhan pemandu wisata Gunung Etna di Sisilia, Italia, melancarkan aksi mogok kerja untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade pada tanggal 7 Januari 2026, memprotes pengetatan peraturan pariwisata lava oleh otoritas lokal Catania menyusul serangkaian letusan yang dimulai pada Malam Natal 2025. Peraturan baru yang mencakup larangan mendaki setelah senja, kewajiban menjaga jarak minimal 200 meter dari aliran lava aktif, dan penegakan ketat batas maksimal 10 orang per kelompok, dianggap mengancam mata pencarian dan menihilkan profesionalisme para pemandu.
Kebijakan yang diberlakukan oleh otoritas Catania ini muncul sebagai respons langsung terhadap fase erupsi Gunung Etna yang kembali aktif sejak 24 Desember 2025, dengan aliran lava yang terlihat jelas dari lereng gunung. Para pemandu, yang menentang keras pembatasan tersebut, menyatakan bahwa langkah-langkah ini secara efektif "meniadakan peran pemandu, menghilangkan keterampilan, fungsi, dan tanggung jawab profesional mereka." Mereka berpendapat bahwa aliran lava saat ini bergerak lambat dan dapat diamati dengan aman di bawah pengawasan profesional, sebagaimana telah dilakukan dalam erupsi sebelumnya.
Gunung Etna, gunung berapi paling aktif di Eropa dengan ketinggian sekitar 3.350 meter dan lebar 35 kilometer, merupakan daya tarik wisata utama Sisilia, menarik pendaki dan wisatawan yang ingin menyaksikan kekuatan alam. Menurut hukum Italia, pengunjung diwajibkan didampingi pemandu berlisensi di atas ketinggian tertentu di gunung berapi tersebut. Daya tarik utama bagi banyak pengunjung adalah menyaksikan aliran lava, terutama saat malam hari, sebuah pengalaman yang kini dilarang oleh peraturan baru.
Pihak berwenang bersikeras bahwa pengetatan ini sepadan dengan risiko yang ditimbulkan oleh aktivitas gunung berapi saat ini. Insiden masa lalu menggarisbawahi urgensi langkah-langkah keamanan ini. Pada Juni 2025, erupsi masif memaksa turis melarikan diri dari gunung berapi setelah gumpalan gas, abu, dan batuan panas membumbung tinggi. Meskipun tidak ada korban luka dalam insiden tersebut berkat sistem evakuasi cepat, insiden yang lebih serius terjadi pada 2017 ketika sepuluh orang, termasuk pemandu, terluka oleh ledakan hidro-magmatik dekat Torre del Filosofo. Laporan dari Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV) mengkonfirmasi bahwa erupsi masih berlangsung, namun front lava mulai mendingin dan tidak lagi bergerak maju secara signifikan, sehingga tidak menimbulkan ancaman langsung bagi area pemukiman terdekat. Meskipun demikian, kepolisian kehutanan yang bertugas di lereng gunung melaporkan 21 kasus pelanggaran peraturan baru pada Selasa malam, menandakan tantangan dalam penegakan.
Dampak dari perselisihan ini sudah mulai terasa pada sektor pariwisata. Claudia Mancini, seorang turis berusia 32 tahun dari Palermo, menyatakan kekecewaannya karena ekskursi yang telah direncanakan dibatalkan. Ia bersimpati dengan para pemandu namun juga menyuarakan frustrasinya atas situasi yang "tidak membuat siapa pun bahagia." Penggunaan drone untuk memantau kepatuhan menandakan tingkat pengawasan yang lebih ketat, yang menurut pemandu mengubah pekerjaan mereka menjadi lebih mirip tugas kepolisian. Situasi ini menyoroti ketegangan yang mendalam antara kebutuhan akan keselamatan publik, pelestarian lingkungan gunung berapi yang rentan, dan keberlangsungan ekonomi komunitas lokal yang sangat bergantung pada pariwisata vulkanik. Perdebatan ini kemungkinan akan membentuk kembali lanskap pariwisata Gunung Etna di masa depan, menyeimbangkan daya tarik petualangan dengan imperatif keamanan yang tak terbantahkan.