Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dokter Hewan Ungkap Keraguan Sukseskan Kelahiran Panda Rio di Taman Safari Bogor

2026-01-09 | 21:46 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T14:46:27Z
Ruang Iklan

Dokter Hewan Ungkap Keraguan Sukseskan Kelahiran Panda Rio di Taman Safari Bogor

Tim dokter hewan di Taman Safari Indonesia (TSI), Cisarua, Bogor, menghadapi momen kritis dengan ketidakpastian tinggi saat memantau kelahiran bayi panda pertama di Indonesia, Satrio Wiratama atau yang akrab disapa Rio, pada 27 November 2025. Proses ini melibatkan pemantauan intensif 24 jam terhadap induk panda, Hu Chun, yang akhirnya berhasil melahirkan seekor jantan seberat 100-180 gram melalui inseminasi buatan setelah empat kali upaya perkawinan alami gagal.

Drh. Bongot Huaso Mulia, Vice President Life Science Taman Safari Indonesia dan anggota tim medis yang mengawal kelahiran Rio, secara terbuka mengakui ketidakpastian yang ia rasakan selama proses persalinan. "Awal gak yakin, keyakinan gak bertambah di hari itu. Hari pertama gak yakin, hari kedua yakin sedikit, gak ada jawaban pasti," ujar Drh. Bongot pada 6 Januari 2026, saat pengumuman publik 40 hari kelahiran Rio. Tantangan utama bukan hanya pada aspek ilmiah reproduksi panda raksasa yang memang sulit, melainkan juga pada "endurance (daya tahan) daripada temen-temen kami dari tim medis, karena itu 24 jam, endurance kita-kita yang jaga," tambahnya. Jendela kesuburan panda betina yang sangat sempit, hanya 24 hingga 72 jam dalam setahun, menjadikan setiap upaya perkawinan atau inseminasi sebagai perlombaan melawan waktu yang penuh tekanan.

Kelahiran Rio, yang namanya diberikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, menandai tonggak penting bagi konservasi satwa langka di Asia Tenggara dan memperkuat posisi Indonesia sebagai penggerak konservasi global. Panda raksasa Hu Chun dan Cai Tao tiba di Indonesia pada 2017 sebagai bagian dari kemitraan konservasi jangka panjang selama 10 tahun dengan Tiongkok, sebuah program yang dikenal sebagai "Diplomasi Panda". Kemitraan ini melibatkan biaya sewa tahunan yang signifikan, mencapai USD 1 juta atau sekitar Rp 13 miliar per tahun, dan tambahan pajak sekitar USD 400 atau Rp 6 juta untuk setiap bayi panda yang lahir di penangkaran, dengan ketentuan bahwa anak panda tersebut pada akhirnya akan kembali ke Tiongkok.

Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi ilmiah lintas negara yang melibatkan tim ahli dari Taman Safari Indonesia, China Conservation and Research Centre for the Giant Panda (CCRCGP) Tiongkok, Leibniz-Institute for Zoo and Wildlife Research (IZW) Jerman, serta IPB University. Para ahli dari China bahkan tiba di Indonesia pada 30 November 2025 untuk mendampingi perawatan awal bayi panda, memastikan prosedur penanganan optimal pada fase paling kritis. Saat berusia 40 hari, berat badan Rio telah meningkat signifikan menjadi 1,9 kilogram, naik 46 persen dari 30 hari sebelumnya, dengan panjang tubuh bertambah 95 persen.

Meskipun saat ini kondisi Rio stabil dan menunjukkan perkembangan positif seperti vokalisasi kuat serta proses menyusu yang efektif, Taman Safari Indonesia untuk sementara belum membuka akses publik ke bayi panda tersebut. Keputusan ini diambil untuk memprioritaskan kesehatan induk dan bayinya, dengan rencana memperkenalkan Rio kepada masyarakat setelah mencapai usia 100 hari. Kelahiran ini tidak hanya menjadi simbol keberhasilan reproduksi, tetapi juga bukti kapasitas dan kompetensi tenaga ahli satwa Indonesia di tingkat global dalam upaya pelestarian spesies terancam punah. Program konservasi semacam ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan memperkuat hubungan diplomatik melalui kerja sama ilmiah dan lingkungan.