Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dilema Penumpang: Langsung Berdiri atau Sabar Duduk Usai Pesawat Mendarat?

2026-01-12 | 23:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T16:06:39Z
Ruang Iklan

Dilema Penumpang: Langsung Berdiri atau Sabar Duduk Usai Pesawat Mendarat?

Perdebatan lama di antara penumpang pesawat udara mengenai apakah harus segera berdiri atau tetap duduk setelah pesawat mendarat kembali memanas, bahkan memicu tindakan regulasi baru di beberapa negara. Sementara sebagian penumpang merasa perlu meregangkan tubuh atau tergesa-gesa untuk keluar, otoritas penerbangan dan pramugari terus mengimbau pentingnya menjaga keselamatan dan ketertiban.

Fenomena penumpang yang langsung melepas sabuk pengaman dan berdiri begitu roda pesawat menyentuh landasan, seringkali sebelum pesawat berhenti sempurna atau tanda sabuk pengaman dipadamkan, bukan hal baru. Berdasarkan ilmu psikologi, ada beberapa alasan di balik perilaku ini. Psikolog Gaynor Parkin menjelaskan bahwa tindakan tersebut dapat memberikan "ilusi kendali" dalam situasi yang sebenarnya tidak terkendali, serta keinginan untuk segera "melanjutkan hari". Ketidaknyamanan fisik setelah duduk berjam-jam, seperti pegal dan kaku, juga menjadi pendorong utama. Penasihat perjalanan Nicole Campoy Jackson dari Fora Travel menyebut bahwa keinginan untuk melancarkan peredaran darah dan mengambil barang dari bagasi kabin lebih cepat adalah alasan yang masuk akal bagi sebagian orang. Selain itu, ada pula faktor fobia ketinggian atau penerbangan yang membuat individu ingin segera meninggalkan kabin untuk meredakan kecemasan emosional. Dorongan sosial, di mana melihat penumpang lain berdiri memicu keinginan untuk ikut berdiri, juga berperan.

Namun, dari perspektif keselamatan dan efisiensi operasional, praktik ini sangat tidak dianjurkan. PT Angkasa Pura I, BUMN pengelola bandara di Indonesia, secara tegas mengingatkan penumpang untuk tidak berdiri atau berjalan di kabin sebelum pesawat benar-benar berhenti dan sabuk pengaman dilepas atas izin awak kabin. Pramugari Tommy Cimato, melalui akun TikTok-nya, memperingatkan bahwa berdiri terlalu cepat "tidak aman" dan meminta penumpang untuk "tetap duduk sampai tiba di gate dan tanda sabuk pengaman dimatikan". Risiko cedera akibat guncangan mendadak atau barang bawaan yang jatuh dari kompartemen atas sangat nyata ketika pesawat masih bergerak atau bermanuver di darat. Sebuah survei Expedia pada tahun 2017 menunjukkan bahwa 35 persen responden merasa terganggu oleh penumpang yang terburu-buru berdiri, mengindikasikan bahwa ini adalah masalah etiket yang signifikan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Turki mengambil langkah lebih jauh dengan mulai memberlakukan denda sejak tahun 2025 bagi penumpang yang berdiri terlalu cepat atau mengakses kompartemen sebelum tanda sabuk pengaman dipadamkan. Direktur Jenderal Penerbangan Sipil Turki Kemal Yüksek menekankan pentingnya tidak memotong antrean dan memprioritaskan penumpang di baris depan untuk turun terlebih dahulu. Langkah ini menunjukkan tren global menuju penegakan aturan yang lebih ketat demi keselamatan dan kelancaran proses disembarkasi.

Meskipun sebagian penumpang beranggapan bahwa berdiri lebih awal akan mempercepat proses keluar, statistik menunjukkan bahwa trik ini hanya efektif untuk sekitar 30 orang pertama, sementara sisanya tetap harus mengantre. Hal ini seringkali justru menciptakan antrean panjang dan kekacauan di lorong pesawat, yang bertentangan dengan tujuan efisiensi. Istilah baru seperti "aisle lice" bahkan muncul di komunitas perjalanan udara untuk menggambarkan penumpang yang terburu-buru berdiri dan mengantre di lorong setelah pesawat mendarat.

Dalam konteks keselamatan penerbangan, periode tiga menit setelah lepas landas dan delapan menit sebelum mendarat dikenal sebagai "Critical Eleven", di mana 80 persen kecelakaan pesawat komersial terjadi. Meskipun hal ini lebih mengacu pada fase penerbangan kritis, ini menggarisbawahi perlunya kepatuhan penuh terhadap instruksi keselamatan, termasuk tetap duduk setelah mendarat, untuk memastikan keamanan semua penumpang dan awak. Maskapai seperti Garuda Indonesia dan PT Angkasa Pura I terus mengkampanyekan pentingnya etika dan keselamatan demi pengalaman penerbangan yang nyaman bagi semua pihak.

Keputusan untuk berdiri atau tetap duduk setelah pesawat mendarat bukan sekadar masalah preferensi pribadi, melainkan mencerminkan kesadaran akan keselamatan kolektif dan etiket perjalanan. Dengan semakin banyaknya otoritas penerbangan yang meninjau dan memperketat regulasi, diharapkan perilaku penumpang akan semakin selaras dengan standar operasional yang mengutamakan keamanan dan ketertiban.