
PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney pada Senin, 19 Januari 2026, merayakan hari ulang tahunnya yang keempat dengan menekankan kembali komitmennya terhadap kelestarian alam dan budaya Indonesia, mengusung tema "Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia". Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata ini menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO2 pada tahun ini, seiring dengan upayanya bertransformasi menjadi ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
InJourney, yang didirikan pada 6 Oktober 2021 sebagai hasil konsolidasi BUMN di sektor aviasi dan pariwisata, kini mengelola 37 bandara, berbagai destinasi wisata, perhotelan, hingga ritel, dengan tujuan untuk mengintegrasikan sektor-sektor ini dalam satu ekosistem yang kohesif. Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan bahwa tujuan utama perusahaan adalah mewariskan "legacy" positif bagi generasi penerus bangsa melalui pengelolaan aviasi dan pariwisata yang tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga melestarikan kekayaan alam dan budaya Indonesia.
Komitmen ini diwujudkan melalui serangkaian inisiatif konkret. InJourney telah memasang panel surya di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai sebagai langkah awal pengurangan emisi, dengan rencana perluasan ke 37 bandara lainnya. Selain itu, perusahaan juga fokus pada pengembangan area mangrove di Mandalika dan Nusa Dua, penerapan teknologi reverse osmosis untuk air bersih di Nusa Dua, serta penanaman pohon di berbagai aset destinasi. InJourney juga mendorong penggunaan kendaraan listrik (EV) dan menerapkan sistem pengelolaan limbah di seluruh hotel yang dikelolanya.
Dalam upaya pelestarian budaya, InJourney akan meluncurkan transformasi Grand Hotel De Djokja di Malioboro, Yogyakarta, dengan mengembalikan nuansa ikonik tahun 1911 yang kaya sejarah, termasuk pernah menjadi markas Jenderal Sudirman. Proyek ini merupakan bagian dari ambisi lebih luas InJourney untuk memodifikasi lima hingga tujuh bandara besar di Indonesia dengan konsep budaya dan alam pada tahun 2026, meniru keberhasilan transformasi Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta.
Maya Watono juga menekankan pergeseran fokus dari kuantitas ke kualitas wisatawan, bertujuan untuk menarik kunjungan yang memberikan dampak ekonomi lebih besar sambil meminimalkan jejak lingkungan. Pada tahun 2025, InJourney mencatat 9,8 juta pengunjung di destinasi yang dikelola dan 157 juta penumpang di 37 bandara, mencerminkan besarnya jejak karbon yang harus dikelola. Perusahaan berhasil membukukan pendapatan Rp30,539 triliun pada tahun 2024, menempatkannya di posisi ke-43 perusahaan dengan pendapatan terbesar di Indonesia, dengan laba bersih melonjak 119,4% menjadi Rp2,492 triliun.
Namun, tantangan dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia tetap signifikan, termasuk kurangnya kesadaran dan pemahaman di kalangan wisatawan dan pelaku industri, serta masalah infrastruktur ramah lingkungan dan pengelolaan sampah yang efektif di destinasi wisata. Asisten Deputi Pariwisata Berkelanjutan Kementerian Pariwisata, Amnu Fuadiy, juga menyoroti paradigma yang menganggap isu keberlanjutan sebagai biaya, meskipun dalam jangka panjang justru membuka peluang besar.
InJourney mengatasi tantangan ini dengan strategi yang melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan komunitas seperti Pandawara Group untuk pengelolaan sampah. Selain itu, InJourney juga berfokus pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program pelatihan hospitality di 17 kota dengan sekitar 4.000 peserta, khususnya di Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), untuk memberdayakan "local heroes" yang mampu menciptakan perubahan positif di daerahnya. Komisaris InJourney, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa pariwisata yang hebat harus didukung oleh pelestarian alam dan budaya, karena tanpa keduanya, tidak ada yang bisa disajikan kepada wisatawan dan generasi mendatang. Komitmen ini sejalan dengan visi InJourney untuk mendukung target PDB pariwisata dari 4,1% menjadi 6% pada tahun 2029.