
Jakarta – Dua lokomotif hidrolik lawas, D301 dan BB306, resmi kembali berbalut corak (livery) orisinal mereka, membangkitkan nostalgia dan menandai upaya pelestarian sejarah perkeretaapian Indonesia. Peluncuran lokomotif dengan tampilan vintage ikonik ini berlangsung pada Rabu, 14 Januari 2026, di Balai Yasa Manggarai, Jakarta, dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh komunitas pecinta kereta api Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Inisiatif ini bukan sekadar pengecatan ulang, melainkan representasi konkret dari komitmen untuk menjaga warisan transportasi nasional.
Lokomotif D301 dan BB306, keduanya merupakan jenis lokomotif hidrolik buatan Jerman, kini tergolong langka dan sebagian besar telah beralih fungsi menjadi mesin langsir di area depo seperti Balai Yasa Manggarai. Ricky Dirjo, Ketua IRPS, menegaskan bahwa pengembalian warna asli, yang sebelumnya kuning-hijau, bertujuan untuk memberikan "seragam baru" yang mencerminkan tampilan mereka saat pertama kali berdinas jarak jauh. Langkah ini melanjutkan tren PT KAI dalam mengaplikasikan livery lawas yang pernah digunakan selama 38 tahun, periode 1953 hingga 1991, pada lokomotif diesel pertama Indonesia, CC200, dan kemudian pada beberapa unit CC201 sejak tahun 2021. Program ini secara luas diinisiasi sebagai bentuk adaptasi dan apresiasi PT KAI terhadap masyarakat, sekaligus sebagai medium edukasi mengenai perkembangan perkeretaapian di Indonesia.
Kehadiran lokomotif dengan livery vintage ini memiliki implikasi signifikan terhadap sektor pariwisata minat khusus dan edukasi publik. Melalui program ini, PT KAI berharap masyarakat akan semakin akrab dengan sejarah panjang perkeretaapian Indonesia serta menumbuhkan rasa bangga terhadap moda transportasi kereta api. Penggunaan livery klasik pada lokomotif seperti CC201 di wilayah Daop 8 Surabaya, misalnya, diharapkan tidak hanya menghadirkan kenangan masa lalu, tetapi juga menarik minat masyarakat untuk menggunakan layanan kereta api dan mengenalkan sejarahnya kepada generasi muda. Dampak positif dari pengoperasian lokomotif vintage livery ini telah dirasakan di berbagai wilayah Pulau Jawa. Data menunjukkan adanya potensi pasar yang besar untuk pariwisata kereta api, dengan 694 ribu wisatawan mancanegara menggunakan kereta api jarak jauh pada tahun 2025. Upaya PT KAI untuk melibatkan depo-depo bersejarah seperti Depo Sidotopo dalam kegiatan wisata dan edukasi, yang baru-baru ini merayakan usia 100 tahun, turut memperkuat narasi pelestarian ini.
Secara historis, livery krem-hijau yang diperkenalkan Djawatan Kereta Api pada tahun 1953 menandai dimulainya era dieselisasi perkeretaapian nasional. Corak ini bertahan melalui transisi nama perusahaan dari Djawatan Kereta Api (DKA), Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), hingga Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Kebijakan mengembalikan corak ini mencerminkan pengakuan akan nilai sejarah dan identitas yang melekat pada aset-aset vital perkeretaapian. Upaya kolektif antara operator kereta api dan komunitas pelestari seperti IRPS menegaskan pentingnya pendekatan multidimensional dalam melestarikan warisan budaya dan teknologi, sekaligus mempromosikannya sebagai daya tarik wisata edukatif. Langkah ini berpotensi meningkatkan jumlah penggemar kereta api dan memperluas basis wisatawan yang mencari pengalaman perjalanan unik dan sarat makna sejarah.