Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak Relaksasi Kolonial: Sinyo-Noni Belanda di Parijs van Sumatera

2025-11-27 | 07:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-27T00:33:02Z
Ruang Iklan

Menguak Relaksasi Kolonial: Sinyo-Noni Belanda di Parijs van Sumatera

Pada masa kolonial Hindia Belanda, sebuah kota di Pulau Sumatera mencuat dengan kemegahan dan gaya hidup kosmopolitan, yang kemudian dijuluki "Parijs van Sumatera". Julukan ini merujuk pada Kota Medan, yang berkembang pesat berkat kejayaan perkebunan tembakau Deli, komoditas primadona yang sangat digemari di Eropa pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Sebagaimana Bandung dijuluki "Parijs van Java", Medan menjadi kota modern pertama di luar Jawa, dilengkapi dengan infrastruktur kolonial dan komunitas internasional yang beragam.

Membayangkan Sinyo dan Noni Belanda melepas penat di "Parijs van Sumatera" membawa kita pada gambaran kehidupan sosial yang glamor dan dinamis. Mereka akan memulai hari dengan kegiatan di pusat kota yang dibangun dengan arsitektur gaya Eropa yang elegan. Kawasan Kesawan, yang dulunya merupakan sentra perdagangan dan pemukiman etnis Tionghoa, menjadi saksi bisu hiruk pikuk aktivitas kala itu. Di sini, berbagai gedung megah berdiri kokoh, seperti Gedung London Sumatra yang menjadi gedung pertama di Medan yang dilengkapi elevator. Tidak jauh dari sana, Warenhuis, yang kini hanya tersisa sebagian, dulunya merupakan pusat perbelanjaan pertama dan terbesar di seluruh Pulau Sumatera, menyediakan kebutuhan dan gaya hidup ala Eropa.

Untuk tempat bersantai dan bersosialisasi, tidak ada yang menandingi kemewahan Hotel De Boer, yang kini dikenal sebagai Grand Inna Medan. Dibangun pada tahun 1898 oleh pengusaha Belanda, Aeint Herman de Boer, hotel ini awalnya hanya memiliki restoran, bar, dan tujuh kamar, namun kemudian diperluas hingga 40 kamar pada tahun 1909 dan 120 kamar pada tahun 1930. Hotel ini menjadi tempat menginap terbaik di Sumatera pada masanya dan pernah menjamu tamu-tamu kehormatan pemerintah Belanda serta artis-artis Barat terkenal seperti Raja Léopold II dari Belgia dan mata-mata legendaris Mata Hari. Keunikan hotel ini adalah klaimnya yang bebas nyamuk dan serangga, sebuah kemewahan yang sangat dihargai oleh bangsa Eropa saat itu. Sinyo dan Noni Belanda akan menikmati hidangan lezat dan minuman di restoran serta bar yang bergengsi, berdansa di aula pertemuan, atau sekadar berbincang di teras hotel yang sejuk.

Di sekitar Lapangan Merdeka, ikon-ikon kolonial lainnya juga turut menunjang kehidupan sosial dan ekonomi. Gedung Balai Kota (dibangun tahun 1908 oleh Hulswit dan Fermont), Kantor Pos Medan (dibangun tahun 1909-1911 dan kini menjadi Pos Bloc Medan), serta Gedung Bank Indonesia (dibangun tahun 1906, dulunya De Javasche Bank) adalah contoh arsitektur megah yang masih bisa dinikmati hingga kini. Mereka mencerminkan citra Eropa dan kebanggaan para "Deliaan" (sebutan untuk masyarakat Eropa di Deli) terhadap warisan mereka. Tren-tren terbaru dari Paris, mulai dari baret Prancis, pertunjukan opera, hingga roman picisan bertema percintaan dan detektif, dengan cepat diadopsi dan ditemukan di Medan.

Kota Medan di era kolonial adalah sebuah destinasi impian yang menggabungkan kemewahan Eropa dengan pesona tropis. Banyak bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda di Medan masih berdiri kokoh dan mempertahankan bentuk aslinya, menjadikannya daya tarik wisata yang kuat. Bagi wisatawan masa kini, menelusuri jejak-jejak masa lalu ini di Medan tak hanya menawarkan keindahan arsitektur, tetapi juga pengalaman imersif untuk membayangkan kembali kemeriahan dan gaya hidup "Parijs van Sumatera" yang pernah ada.