
Pergerakan penumpang angkutan udara di Indonesia mengalami penurunan tipis sekitar 2 persen pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026) dibandingkan periode Nataru sebelumnya, sementara moda transportasi darat dan laut mencatat kenaikan signifikan. Dinamika ini mengindikasikan pergeseran pola perjalanan masyarakat yang diduga dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem serta peningkatan pilihan moda transportasi lain yang semakin terintegrasi dan kompetitif.
Meskipun laporan Investortrust.id menunjukkan penurunan sekitar 2 persen untuk penumpang pesawat secara keseluruhan pada Nataru 2025/2026, beberapa bandara utama justru mencatat kenaikan. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali, misalnya, melayani 82.445 penumpang pada periode Nataru 2025/2026, lebih tinggi dari 81.500 penumpang pada Nataru 2024/2025. Demikian pula, Bandara Lombok melaporkan kenaikan penumpang sebesar 11 persen pada Nataru 2024/2025, mencapai 135.368 pergerakan penumpang dibandingkan 121.840 pada tahun sebelumnya. Pada Nataru 2024/2025, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat total 3.875.032 penumpang pesawat, meningkat 10,2 persen dibandingkan Nataru 2023/2024. Namun, angka awal untuk Nataru 2025/2026 mengisyaratkan adanya divergensi dari tren pertumbuhan yang dominan pada periode sebelumnya, dengan akumulasi penumpang angkutan udara mencapai 2.460.518 hingga H+1 Natal 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem selama periode Nataru 2025/2026, yang bertepatan dengan puncak musim hujan Desember 2025 hingga Januari 2026. Fenomena seperti Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin dan Rossby, La Niña lemah, serta bibit siklon tropis, berpotensi memperkuat intensitas hujan tinggi, angin kencang, dan gelombang laut tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan sebagian besar Kalimantan. Pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) juga menjadi tantangan utama bagi sektor penerbangan karena memicu hujan intensif dan turbulensi, meningkatkan kewaspadaan AirNav Indonesia terhadap cuaca ekstrem dan aktivitas gunung berapi. Pada Nataru 2024/2025, aktivitas vulkanik sejumlah gunung seperti Semeru, Marapi, Ibu, dan Lewotobi Laki-Laki bahkan telah berdampak pada beberapa rute penerbangan. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini dapat menjadi faktor penentu bagi sebagian masyarakat untuk menunda atau mengalihkan perjalanan udara mereka demi keselamatan dan kenyamanan.
Di sisi lain, moda transportasi lain mencatatkan pertumbuhan penumpang yang solid. PT Kereta Api Indonesia (Persero) melayani lebih dari 4 juta penumpang selama periode Nataru 2025/2026, meningkat 9,06 persen dibandingkan Nataru 2024/2025 yang mencatat 3.730.584 tiket terjual. Kereta Api Bandara juga melaporkan kenaikan sebesar 31,87 persen pada Nataru 2024/2025, melayani 405.770 penumpang. Angkutan laut di Maluku mencapai 55.829 orang pada Nataru 2025/2026, meningkat dari 52.768 orang pada 2024/2025. Secara kumulatif, total pengguna angkutan umum selama Nataru 2024/2025 meningkat 5,07 persen menjadi 17.182.298 orang. Namun, tren ini tidak merata di semua moda darat; Terminal Purabaya, misalnya, justru mengalami penurunan 7 persen penumpang bus pada Nataru 2025/2026 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan indikasi masyarakat memilih destinasi wisata jarak pendek menggunakan kendaraan pribadi.
Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, telah berupaya menstimulasi perjalanan udara dengan kebijakan seperti penurunan harga tiket pesawat sebesar 10 persen pada Nataru 2024/2025, berlaku dari 19 Desember 2024 hingga 3 Januari 2025. Kebijakan ini, yang juga didukung oleh penurunan biaya di kebandarudaraan dan avtur, diharapkan meningkatkan mobilitas dan menggerakkan ekonomi pariwisata. Peningkatan kontribusi pesawat terbang pada pergerakan penumpang Nataru 2024/2025 juga sejalan dengan kebijakan penurunan harga tiket ini. Meski demikian, persepsi masyarakat bahwa penurunan harga tiket pesawat masih belum signifikan dan adanya kesiapan infrastruktur moda lain yang memadai, memperkuat dugaan pergeseran preferensi perjalanan.
Dinamika ini menunjukkan evolusi pola perjalanan masyarakat Indonesia. Di tengah tantangan cuaca yang semakin intensif, dan opsi transportasi darat serta laut yang semakin andal dan terjangkau, masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan. Untuk industri penerbangan, fenomena ini menuntut adaptasi strategis, baik dalam hal penyesuaian operasional menghadapi cuaca, diversifikasi layanan, maupun inovasi dalam strategi harga dan promosi untuk tetap kompetitif. Ke depan, perencanaan infrastruktur dan kebijakan transportasi perlu mempertimbangkan pola mobilitas multimodus yang terus berkembang ini, mengintegrasikan data cuaca secara lebih proaktif dalam pengambilan keputusan operasional, serta memastikan keselamatan dan kenyamanan penumpang di semua moda tetap menjadi prioritas utama.