:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460437/original/015027600_1767250520-tanushree-rao-KmsYtQaJ9xM-unsplash.jpg)
Timor-Leste, bekas provinsi ke-27 Indonesia yang meraih kemerdekaan pada 2002, menempati posisi menonjol sebagai destinasi wisata wajib kunjung pada 2026 dalam rekomendasi terbaru CNN Travel, sebuah pengakuan yang menandai pergeseran signifikan dalam narasi pariwisata Asia Tenggara. Rekomendasi ini menyoroti bergabungnya Timor-Leste secara resmi ke dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada akhir 2025 sebagai faktor pendorong utama, memposisikan negara termuda di Asia ini sebagai "permata yang belum terjamah" bagi para pelancong yang mencari pengalaman otentik dan keindahan alam yang lestari.
Kehadiran Timor-Leste dalam daftar bergengsi tersebut menggarisbawahi potensi pariwisatanya yang kaya, khususnya dalam ekowisata bahari. Terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang, wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, Timor-Leste menawarkan lokasi menyelam dan snorkeling kelas dunia, dengan Pulau Atauro disebut-sebut memiliki perairan paling beragam hayatinya di dunia. Selain daya tarik bawah lautnya, negara ini memiliki pesona pegunungan yang luas, pantai-pantai asli seperti Pantai Area Branca, serta warisan budaya dan sejarah yang mendalam, mencerminkan pengaruh kolonial Portugis dan perjuangan panjangnya menuju kemerdekaan. Ibu kota Dili, dengan patung Cristo Rei yang ikonik dan Arsip serta Museum Perlawanan Timor, menjadi saksi bisu narasi sejarah yang kompleks.
Pengakuan internasional ini datang pada saat yang krusial bagi Timor-Leste, yang secara historis sangat bergantung pada pendapatan minyak dan gas. Sektor pariwisata dipandang sebagai diversifikasi ekonomi yang vital, berpotensi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Data tahun 2024 menunjukkan peningkatan jumlah wisatawan internasional sekitar 80.000 orang, tumbuh lima persen dari tahun sebelumnya, dengan pengeluaran rata-rata US$120 per hari atau US$840 per perjalanan. Wisatawan didominasi dari Australia (30%), Indonesia (25%), dan Portugal (15%), menunjukkan konektivitas historis dan geografis yang kuat. Pemerintah Timor-Leste telah aktif mempromosikan daya tarik wisatanya di forum-forum PBB dan berkomitmen memperkuat kerja sama internasional serta infrastruktur.
Namun, perjalanan menuju pengembangan pariwisata berkelanjutan tidak luput dari tantangan substansial. Laporan dari berbagai lembaga menyoroti kesenjangan infrastruktur yang persisten, terutama di daerah pedesaan, termasuk kondisi jalan yang memprihatinkan, sanitasi, akomodasi, dan konektivitas digital yang terbatas. Survei Sikap Masyarakat (CAS) 2024-2025 yang dilakukan oleh Organisasi Pariwisata Pasifik (SPTO) bersama Kementerian Pariwisata dan Lingkungan Hidup Timor-Leste mengungkapkan optimisme masyarakat terhadap potensi pariwisata, namun juga menyoroti kurangnya investasi pemerintah dan promosi yang lemah di kancah internasional. Isu keamanan, seperti insiden pelemparan batu dan tingginya tingkat kekerasan berbasis gender, juga menjadi perhatian dalam beberapa nasihat perjalanan dari negara lain, meskipun perlu konteks waktu dan lokasi spesifik.
Pemerintah Timor-Leste, melalui Kementerian Perencanaan dan Investasi, menyatakan bahwa peningkatan konektivitas merupakan prioritas, dengan proyek pembangunan dan rehabilitasi jalan yang menghubungkan area wisata utama, serta modernisasi pelabuhan dan bandara, tengah berjalan. Investasi dalam infrastruktur digital juga digenjot untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi di area wisata. Selain itu, kerja sama pariwisata dengan Indonesia terus ditingkatkan, mencakup promosi bersama, pengembangan destinasi, peningkatan kapasitas SDM, dan penjajakan kemungkinan visa kunjungan saat kedatangan (VoA) bagi wisatawan Timor-Leste ke Bali dan Nusa Tenggara Timur. Duta Besar RI untuk Timor Leste, Okto Dorinus Manik, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno, telah membahas tindak lanjut nota kesepahaman pariwisata yang mencakup kerja sama tersebut. Konsep "wisata sejarah" juga dipertimbangkan sebagai peluang kerja sama potensial, mengingat latar belakang hubungan kedua negara.
Prospek masa depan pariwisata Timor-Leste akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengatasi kendala infrastruktur dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor ini. Dengan keanggotaan penuh ASEAN, Timor-Leste memiliki platform yang lebih besar untuk menarik investasi dan wisatawan. Namun, pengelolaan pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan, yang menghormati lingkungan dan budaya lokal, akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa rekomendasi CNN Travel tahun 2026 tidak hanya menjadi sorotan sesaat, tetapi fondasi bagi industri pariwisata yang kuat dan memberikan manfaat jangka panjang bagi rakyatnya.