
Sektor perjalanan domestik Indonesia menunjukkan momentum pertumbuhan signifikan memasuki tahun 2026, ditandai dengan lonjakan jumlah penumpang maskapai Citilink sebesar 20% sepanjang tahun 2025, yang sejalan dengan kemampuan kawasan ikonik Blok M di Jakarta Selatan untuk tetap kondusif meski dibanjiri ribuan wisatawan. Keberhasilan ini menyoroti strategi adaptif dan investasi infrastruktur yang mendukung pemulihan dan pengembangan pariwisata pasca-pandemi.
Citilink Indonesia mencatat kenaikan jumlah penumpang sebesar 20% sepanjang tahun 2025, sebuah angka yang melampaui target operasional awal maskapai tersebut. Direktur Utama Citilink, Darsito Hendroseputro, menjelaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari reaktivasi armada yang berhasil, di mana 37 pesawat telah beroperasi penuh pada akhir tahun 2025, melampaui target 36 unit. "Keberhasilan mengoperasikan 37 armada di akhir tahun merupakan hasil dari konsistensi dan komitmen Citilink dalam menjaga kesiapan armada. Langkah reaktivasi yang kami lakukan senantiasa mengedepankan aspek keselamatan penerbangan dan kepatuhan terhadap regulasi," ujar Darsito. Maskapai ini juga memperluas jaringannya dengan mengoperasikan 83 rute sepanjang 2025, termasuk penambahan tiga rute baru yakni Jakarta–Bangkok, Jakarta–Silangit, dan Surabaya–Palangkaraya. Pertumbuhan ini mencerminkan tren positif di industri penerbangan domestik secara keseluruhan, yang mengalami peningkatan 10% penumpang angkutan udara selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025, dengan Garuda Indonesia Group (termasuk Citilink) mencatatkan kenaikan 24% pada Nataru 2025.
Di sisi lain, kawasan Blok M di Jakarta Selatan membuktikan kapasitasnya sebagai destinasi urban yang menarik dan terkelola dengan baik. Pada malam pergantian tahun 2026, Blok M Hub, pusat integrasi transportasi dan ruang publik, menerima 145.855 pengunjung. Meskipun kepadatan pengunjung tinggi, situasi tetap kondusif berkat manajemen keramaian yang efektif. Asep, petugas keamanan di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu Blok M, menyatakan bahwa "arus wisatawan tetap kondusif bahkan sejak semalam, walau ramai, karena posisinya bergantian ya ada yang datang dan ada yang pulang jadi tidak ada penumpukan apalagi kerusuhan." Penempatan personel keamanan di berbagai titik strategis seperti Blok M Square, Blok M Hub, dan M Bloc berperan vital dalam menjaga ketertiban. Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Sudin Parekraf) Jakarta Selatan, Jonie Paulus Rumimper, mengkonfirmasi antusiasme warga merayakan malam tahun baru di Taman Literasi Blok M yang digelar sederhana, sesuai arahan Gubernur DKI Jakarta.
Revitalisasi Blok M sebagai pusat hiburan dan perdagangan telah berlangsung sejak kemunculan MRT Jakarta pada tahun 2019, yang secara signifikan meningkatkan aksesibilitas dan kembali menghidupkan kawasan tersebut. Blok M Hub, yang dulunya adalah Mal Blok M, kini telah bertransformasi menjadi penghubung Stasiun MRT, Terminal Bus TransJakarta, dan layanan transportasi publik lainnya, dengan lorong bawah tanah yang dihiasi mural "Betawi Mosaic", menawarkan pengalaman modern dan artistik. Kawasan ini kini merupakan perpaduan elemen klasik dan modern, menarik berbagai generasi dengan beragam pilihan kuliner, budaya, dan tempat berkumpul, seperti M Bloc Space. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara aktif mengoptimalkan potensi wisata perkotaan melalui pengembangan kawasan terpadu, termasuk Blok M-Senopati-Kebayoran Baru, serta mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di ruang publik. Meski demikian, peningkatan jumlah wisatawan juga membawa tantangan, seperti volume sampah yang mencapai 14,5 ton di Jakarta Selatan setelah perayaan Tahun Baru 2026, yang memerlukan strategi pengelolaan sampah berkelanjutan.
Pertumbuhan Citilink yang substansial mencerminkan kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap perjalanan udara domestik, didorong oleh peningkatan kapasitas armada dan rute baru. Sementara itu, Blok M berfungsi sebagai studi kasus keberhasilan dalam mengintegrasikan transportasi publik dan revitalisasi ruang kota untuk menciptakan destinasi yang dinamis, mampu menampung lonjakan pengunjung tanpa mengorbankan ketertiban. Kedua fenomena ini secara kolektif mengindikasikan prospek yang kuat bagi sektor pariwisata dan perjalanan Indonesia, menuntut perhatian berkelanjutan terhadap inovasi layanan, infrastruktur, dan pengelolaan destinasi.