:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473382/original/046039200_1768438822-san_francisco_international_airport.jpg)
Dunia aviasi global di penghujung tahun 2025 menyoroti dua bandara dari Amerika Serikat dan Tiongkok yang berhasil meraih penghargaan sebagai "Bandara Terindah di Dunia" versi Prix Versailles, sebuah pengakuan arsitektur dan desain internasional yang didukung UNESCO. San Francisco International Airport (SFO) dengan Terminal 1 Harvey Milk-nya, dan Yantai Penglai International Airport Terminal 2 di Tiongkok, keduanya diakui tidak hanya karena estetika yang memukau tetapi juga komitmen kuat terhadap desain rendah emisi karbon yang berkelanjutan.
Penghargaan Prix Versailles 2025, yang diserahkan di markas besar UNESCO di Paris pada Desember 2025, secara khusus menobatkan Terminal 1 Harvey Milk SFO sebagai "Bandara Terindah di Dunia." Terminal yang dibuka sepenuhnya pada tahun 2024 ini dipuji juri sebagai "buah dari transformasi ambisius" yang "menyediakan suasana menenangkan dan memulihkan bagi para pelancong." Lebih lanjut, proyek ini mencatat pengurangan emisi karbon sebesar 79% dan penurunan penggunaan energi sebesar 59%, menurut rilis pers dari Gensler, firma arsitektur dan desain yang mengawasi proyek tersebut. Mike Nakornkhet, Direktur Bandara SFO, menyatakan, "Kami merasa sangat terhormat dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia oleh Prix Versailles. Terminal 1 Harvey Milk dirancang untuk menetapkan tolok ukur baru bagi pengalaman bandara yang luar biasa, mewujudkan misi kami untuk mengutamakan manusia dan planet." Desain terminal tersebut menekankan keberlanjutan dan kesejahteraan, sambil merayakan seni dan budaya kawasan Bay Area, dengan fitur-fitur seperti ruang yang dipenuhi cahaya alami, area kesehatan, dan pameran bergerak yang menghormati nama Harvey Milk.
Di sisi lain, Yantai Penglai International Airport Terminal 2 di Tiongkok juga dinobatkan sebagai bandara terindah di dunia untuk tahun 2025 oleh Prix Versailles. Terminal seluas 167.000 meter persegi ini dirancang oleh Aedas bekerja sama dengan CSWADI dan Shanghai New Era Airport Design and Research Institute, mengambil inspirasi langsung dari lanskap pesisir dan pegunungan Kunyu yang unik. Desainnya yang terinspirasi pantai dan struktur fleksibel yang dipenuhi cahaya diapresiasi atas konstruksi yang sadar lingkungan dan integrasi budaya lokal yang cermat. Tata letak berbentuk E terminal ini dirancang untuk mengoptimalkan aliran penumpang sekaligus meminimalkan dampak pada medan yang ada.
Pengakuan ini menegaskan tren global yang berkembang dalam perencanaan infrastruktur perjalanan, di mana fungsionalitas kini berjalan seiring dengan keindahan arsitektur dan komitmen lingkungan yang kuat. Portland International Airport (PDX) di Oregon, Amerika Serikat, juga termasuk dalam daftar "Bandara Terindah di Dunia" 2025 versi Prix Versailles untuk terminal utamanya yang baru. Terminal PDX yang baru, yang diresmikan pada Agustus 2024, terinspirasi oleh lanskap alam Oregon dengan atap kayu masif bergelombang, menggunakan 50% lebih sedikit energi meskipun ukurannya dua kali lipat, dan mencapai pengurangan emisi karbon sebesar 70%. Materialnya sebagian besar bersumber dalam jarak 500 kilometer dari lokasi, menyoroti praktik keberlanjutan rantai pasok.
Jérôme Gouadain, Sekretaris Jenderal Prix Versailles, menyoroti peran bandara yang terus berkembang dalam pertukaran internasional. Ia menekankan, "Fasilitas baru ini juga dapat dilihat sebagai karya seni, atau setidaknya sebagai sesuatu yang indah. Bahkan, kita harus berupaya mewujudkan hal ini, mengingat tak terhindarkannya keberadaan mereka dalam lingkungan binaan dan lanskap kita." Ia menambahkan bahwa penghargaan tersebut mengakui "keberlanjutan cerdas, di mana budaya melayani dan melampaui gagasan lingkungan."
Pergeseran paradigma desain bandara ini sangat relevan mengingat tekanan global untuk mengurangi jejak karbon sektor penerbangan. Administrasi Penerbangan Sipil Tiongkok (CAAC) telah menetapkan peta jalan untuk pembangunan hijau dan rendah karbon, menargetkan intensitas emisi karbon penerbangan sipil Tiongkok untuk terus menurun pada tahun 2025, dengan puncaknya pada tahun 2035. Bandara seperti Taiyuan Wusu International Airport di Tiongkok secara ambisius menargetkan emisi karbon nol bersih dalam operasional dengan beralih secara komprehensif ke energi terbarukan, yang diperkirakan akan mengurangi emisi karbon tahunan sebesar 119.200 metrik ton. Demikian pula, Beijing Daxing International Airport yang ikonik di Tiongkok, dirancang oleh mendiang Zaha Hadid, telah dipromosikan sebagai model infrastruktur hijau, didukung oleh panel surya dan sistem pemulihan panas limbah.
Keberlanjutan telah menjadi persyaratan inti bagi bandara di seluruh dunia, dengan otoritas seperti FAA dan ICAO mendorong fasilitas yang lebih hemat energi, mengurangi emisi, dan pengelolaan sumber daya yang lebih cerdas. Para desainer kini fokus pada pengurangan emisi, bangunan yang hemat energi, penggunaan energi terbarukan, pengelolaan air yang bijaksana, dan peningkatan kenyamanan penumpang. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi biaya operasional tetapi juga selaras dengan tujuan ramah lingkungan, menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih sehat dan tahan lama. Para ahli industri melihat ini sebagai titik balik, di mana teknologi melampaui prototipe dan komitmen publik diterjemahkan menjadi implementasi nyata dalam infrastruktur.