:strip_icc()/kly-media-production/medias/1699851/original/087735500_1504532607-Foto_Liputan6.jpg)
Pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali telah memperketat langkah-langkah pengawasan kesehatan dengan mengerahkan pemindai suhu termal canggih untuk memitigasi potensi penyebaran influenza berat yang berpotensi meluas, yang disebut sebagai 'Super Flu' di kalangan otoritas kesehatan. Upaya ini, yang dimulai secara bertahap pada awal tahun 2025 dan kini dioperasikan penuh, bertujuan untuk melindungi gerbang pariwisata utama Indonesia dari ancaman kesehatan global, memastikan keamanan para pelancong internasional dan penduduk lokal di tengah kekhawatiran global akan strain patogen pernapasan baru yang resisten.
Langkah preventif ini bukan tanpa preseden. Sejarah pandemi global telah secara signifikan membentuk respons bandara. Selama pandemi COVID-19, I Gusti Ngurah Rai, seperti bandara internasional lainnya, menerapkan protokol kesehatan ketat termasuk pemeriksaan suhu, pengisian kartu kesehatan, dan persyaratan tes PCR. Pengalaman tersebut telah membekali pihak berwenang dengan pemahaman mendalam tentang urgensi dan efektivitas langkah-langkah pengawasan di titik masuk utama negara. Pada tahun 2022, Angkasa Pura I, selaku pengelola bandara, menyatakan komitmennya untuk mempertahankan fasilitas kesehatan dan personel terlatih untuk menghadapi ancaman kesehatan masyarakat di masa depan, termasuk di bandara Ngurah Rai. Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur dan kesiapan untuk menghadapi ancaman seperti "Super Flu" sudah menjadi bagian dari perencanaan strategis.
Pemindai suhu yang digunakan adalah perangkat termografi inframerah non-kontak yang mampu memindai sekelompok individu secara bersamaan, mengidentifikasi mereka yang menunjukkan suhu tubuh di atas ambang batas yang ditetapkan. Individu yang terdeteksi memiliki suhu tinggi akan segera diarahkan untuk pemeriksaan kesehatan lebih lanjut oleh tim karantina kesehatan bandara. Juru bicara Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Denpasar telah berulang kali menekankan pentingnya deteksi dini di pintu masuk negara untuk mencegah impor dan penyebaran penyakit menular. Peningkatan kewaspadaan ini muncul seiring dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai munculnya varian influenza dengan potensi pandemi, meskipun belum ada konfirmasi spesifik mengenai strain "Super Flu" yang dimaksud secara luas sebagai ancaman global yang dominan pada awal 2026.
Implikasi dari langkah-langkah pengawasan yang diperketat ini sangat luas bagi sektor pariwisata Bali, yang sangat bergantung pada kepercayaan dan keamanan para pelancong. Setelah mengalami dampak ekonomi yang parah akibat pandemi sebelumnya, pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata telah berinvestasi besar-besaran untuk membangun kembali citra Bali sebagai destinasi yang aman dan sehat. Menurut data terbaru, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali telah menunjukkan pemulihan signifikan pada tahun 2024 dan 2025, mendekati tingkat pra-pandemi. Namun, ancaman kesehatan baru berpotensi membalikkan kemajuan ini. Penerapan pemindai suhu dan protokol kesehatan yang jelas bertujuan untuk memberikan kepastian kepada para pelancong bahwa kesehatan mereka adalah prioritas, meminimalkan gangguan sambil menjaga kewaspadaan. Langkah-langkah ini juga dapat menjadi standar baru bagi perjalanan udara internasional di era pasca-pandemi, di mana skrining kesehatan rutin menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman perjalanan.
Secara jangka panjang, strategi pengawasan kesehatan di Bandara Ngurah Rai mencerminkan pergeseran paradigma dalam manajemen risiko perjalanan udara global. Otoritas bandara, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan lembaga internasional, kini lebih proaktif dalam memprediksi dan merespons ancaman kesehatan daripada sekadar bereaksi. Kebijakan ini tidak hanya melindungi Bali dari kemungkinan gelombang pandemi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain yang bertanggung jawab dalam jaringan kesehatan global. Keberhasilan implementasi dan komunikasi efektif mengenai langkah-langkah ini akan menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara fasilitasi perjalanan dan perlindungan kesehatan masyarakat, terutama mengingat peran sentral Bali dalam perekonomian pariwisata Indonesia.