
Sebuah power bank yang terbakar di tengah penerbangan Asiana Airlines dari Incheon, Korea Selatan, menuju Hong Kong pada Kamis malam, 9 Januari 2026, melukai seorang penumpang dan menyoroti kembali bahaya yang ditimbulkan oleh perangkat bertenaga baterai litium-ion dalam penerbangan komersial. Insiden di dalam kabin pesawat OZ745 yang mengangkut 284 penumpang itu terjadi lebih dari dua jam setelah lepas landas dari Bandara Internasional Incheon, sekitar pukul 10 malam waktu setempat, ketika sebuah perangkat pengisi daya portabel tiba-tiba mengeluarkan api. Awak kabin segera merespons, berhasil memadamkan api dalam waktu kurang dari tiga menit dengan alat pemadam yang tersedia. Penumpang pemilik power bank tersebut menderita luka bakar pada tangannya, namun pesawat dapat melanjutkan perjalanannya dan mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Hong Kong sesuai jadwal tanpa memerlukan pendaratan darurat. Baik Otoritas Bandara Hong Kong maupun kepolisian setempat menyatakan tidak dipanggil untuk membantu situasi tersebut.
Kejadian ini merupakan yang terbaru dalam serangkaian insiden terkait baterai litium-ion yang terus meningkat di industri penerbangan global. Data Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat menunjukkan adanya 89 insiden baterai litium pada penerbangan komersial dan kargo sepanjang tahun 2024, menandai peningkatan 16% dari tahun sebelumnya dan peningkatan mengejutkan sebesar 388% sejak tahun 2015. UL Standards and Engagement (ULSE), sebuah organisasi keselamatan global, melaporkan rata-rata dua insiden thermal runaway terjadi per minggu pada tahun 2024. Hampir 40% dari seluruh insiden yang dicatat FAA selama dua dekade terakhir disebabkan oleh pengisi daya portabel.
Para ahli menyoroti risiko intrinsik baterai litium-ion. Profesor Amanda Ellis, kepala School of Chemical & Biomedical Engineering di University of Melbourne, menjelaskan bahwa meskipun kebakaran baterai litium tidak lebih mungkin terjadi di pesawat, lingkungan kabin yang terbatas menjadikan api sangat berbahaya karena gas beracun yang dilepaskan dalam ruang tertutup. David Wroth, direktur Thermal Runaway Incident Program di ULSE, menambahkan bahwa insiden thermal runaway, yaitu peningkatan suhu yang tidak terkendali, dapat sangat sulit dipadamkan karena baterai menghasilkan panas dan bahan bakarnya sendiri setelah terbakar. Wroth juga menggarisbawahi kurangnya kesadaran publik, dengan 44% orang Amerika tidak mengetahui apa pun tentang baterai litium-ion dan 58% tidak merasa risiko tersebut relevan secara pribadi.
Meningkatnya insiden ini telah mendorong berbagai otoritas penerbangan dan maskapai untuk memperketat peraturan. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DGCA) India, misalnya, pada 4 Januari 2026, melarang penggunaan power bank untuk mengisi daya perangkat atau mengisi ulang power bank itu sendiri selama penerbangan, termasuk melalui outlet listrik kursi pesawat. Aturan baru tersebut secara tegas menyatakan bahwa power bank dan baterai cadangan hanya diizinkan dalam bagasi kabin dan tidak boleh disimpan di kompartemen atas, di mana deteksi dan respons terhadap kebakaran akan lebih sulit. Maskapai juga diwajibkan untuk melaporkan semua insiden terkait baterai litium kepada DGCA dan memberikan pengumuman keselamatan dalam penerbangan mengenai aturan yang diperbarui.
Di Hong Kong, Departemen Penerbangan Sipil telah menerapkan aturan yang lebih ketat sejak 7 April 2025, melarang penggunaan power bank untuk pengisian daya atau penyimpanannya di kompartemen atas selama penerbangan. Southwest Airlines pada musim panas 2025 mulai mewajibkan power bank tetap terlihat saat digunakan dan tidak diisi daya di tempat penyimpanan di atas kepala. Bahkan Emirates, mulai 1 Oktober 2025, melarang penggunaan power bank jenis apa pun di dalam pesawat, meskipun penumpang masih diizinkan membawa satu unit. Otoritas seperti FAA, TSA, dan IATA, serta sebagian besar maskapai, telah lama mewajibkan power bank dibawa dalam bagasi jinjing (bukan bagasi terdaftar) dan menetapkan batas kapasitas, umumnya 100 watt-jam (Wh), atau hingga 160 Wh dengan persetujuan maskapai. Pip Spence, CEO dan direktur keselamatan penerbangan di Civil Aviation Safety Authority (CASA) Australia, menekankan bahwa baterai litium cadangan dan power bank tidak boleh sekali-kali dimasukkan ke dalam bagasi terdaftar dan harus selalu dibawa di kabin.
Insiden Asiana Airlines ini menambah daftar kejadian serupa yang terjadi baru-baru ini. Pada November 2025, sebuah power bank yang terlalu panas menyebabkan kebakaran kecil pada penerbangan Scoot dari Hong Kong ke Singapura, meskipun tidak ada cedera yang dilaporkan. Sebulan sebelumnya, pada Oktober 2025, penerbangan Air China dari Hangzhou ke Seoul terpaksa melakukan pendaratan darurat di Shanghai setelah baterai litium terbakar di dalam kabin, juga tanpa cedera. Pada awal 2025, Korea's Air Busan dan Hong Kong Airlines juga menghadapi insiden kebakaran yang menarik perhatian signifikan dari industri penerbangan.
Tren yang mengkhawatirkan ini menunjukkan tantangan berkelanjutan bagi keselamatan penerbangan di era ketergantungan yang semakin besar pada perangkat elektronik portabel. Meskipun maskapai dan regulator telah mengambil langkah-langkah proaktif, insiden terbaru menggarisbawahi pentingnya kepatuhan penumpang terhadap peraturan dan peningkatan kesadaran tentang potensi risiko yang ditimbulkan oleh baterai litium-ion. Keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama, dan adaptasi terhadap ancaman teknologi yang berkembang akan terus membentuk kebijakan dan prosedur perjalanan udara di masa mendatang.