:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466158/original/020979300_1767836681-000_89W496L.jpg)
Badai Salju Goretti melumpuhkan jaringan transportasi di seluruh Eropa dari Inggris hingga Balkan sepanjang awal Januari 2026, memicu pembatalan ribuan penerbangan, penangguhan layanan kereta api, dan gangguan luas pada perjalanan darat. Topan multi-bahaya ini, yang disebut oleh Kantor Met Office Inggris sebagai "bom cuaca," membawa angin kencang hingga 216 kilometer per jam di Prancis dan salju terberat dalam satu dekade di beberapa wilayah, mengakibatkan setidaknya delapan kematian dan memutus aliran listrik ke ratusan ribu rumah.
Dampak paling parah terasa di sektor penerbangan. Maskapai penerbangan Belanda KLM membatalkan total 2.400 penerbangan antara 2 hingga 7 Januari 2026, mencakup sekitar 50% dari total operasinya, dengan puncaknya mencapai 600 pembatalan dalam satu hari pada 7 Januari. Bandara Schiphol Amsterdam, salah satu penghubung tersibuk di Eropa, menyaksikan lebih dari 3.200 pembatalan penerbangan sejak 2 Januari, memaksa lebih dari seribu penumpang menginap di terminal. Di Prancis, Bandara Charles de Gaulle Paris mengalami ratusan penundaan dan pembatalan, termasuk pemotongan 40% penerbangan terjadwal pada 7 Januari, sementara Bandara Orly mengurangi 25% penerbangan. Beberapa bandara lain, termasuk Birmingham di Inggris dan Nantes di Prancis, sempat ditutup sementara. Krisis ini diperparah oleh kekurangan cairan anti-es, sebuah kerentanan struktural dalam rantai pasok yang krusial untuk keselamatan operasional.
Jaringan kereta api juga lumpuh. Operator rel nasional Inggris, National Rail, menyarankan penumpang untuk menghindari perjalanan yang tidak penting. Layanan SNCF di Normandy dan Brittany ditangguhkan, sementara Deutsche Bahn Jerman secara substansial mengurangi layanan jarak jauh di utara negara itu dan membatasi kecepatan di beberapa rute. Layanan Eurostar yang menghubungkan London dengan Paris, Brussels, dan Amsterdam mengalami penundaan parah dan pembatalan. Operator kereta api Belanda NS memperkenalkan jadwal yang dikurangi dan sempat menangguhkan semua operasi domestik karena kombinasi cuaca buruk dan kegagalan IT. Salju dan es juga menyebabkan gangguan pada layanan kereta api di Austria, Republik Ceko, Lithuania, dan Serbia, dengan kereta api terjebak selama berjam-jam.
Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot, "sangat menyarankan" agar semua perjalanan darat di wilayah Ile-de-France dihindari dan memberlakukan pembatasan kecepatan. Larangan truk diberlakukan di Prancis bagian barat dan wilayah Paris, yang menurut CEO Carrefour Alexandre Bompard dapat mengganggu rantai pasok, terutama untuk produk segar. Di Inggris, lebih dari 43.000 properti di Inggris Barat Daya kehilangan daya, dan sekitar 380.000 rumah di Prancis, terutama di Normandy, mengalami pemadaman listrik. "Badai Goretti akan menjadi peristiwa multi-bahaya," kata kepala peramal Met Office Neil Armstrong, menyoroti salju lebat, angin yang sangat kencang, dan hujan lebat yang mengganggu. Seorang juru bicara KLM mencatat, "Kami belum pernah melihat cuaca seekstrem ini selama bertahun-tahun."
Gangguan yang meluas ini menggarisbawahi kerapuhan infrastruktur perjalanan Eropa terhadap peristiwa cuaca ekstrem. Kerugian ekonomi akibat peristiwa terkait cuaca dan iklim di Uni Eropa diperkirakan mencapai EUR 822 miliar antara tahun 1980 dan 2024, dengan 25% di antaranya terjadi antara tahun 2021 dan 2024. Rata-rata kerugian ekonomi tahunan telah meningkat secara signifikan, mencapai EUR 44.9 miliar untuk periode 2020-2024. Analis data Swiss Re, Lucia Bevere, menekankan bahwa suhu beku dapat memecahkan pipa air, mengganggu infrastruktur perkotaan, dan memicu gangguan rantai pasok. Peristiwa cuaca ekstrem ini tidak hanya membebani perjalanan penumpang, tetapi juga rantai pasok kargo, seperti yang dicatat oleh Maersk dan Hapag-Lloyd, yang melaporkan penurunan produktivitas terminal di pelabuhan-pelabuhan utama seperti Rotterdam dan Hamburg.
Pemerintah dan operator transportasi kini dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur. Meskipun ada pengorbanan dan frustrasi di antara para pelancong yang terdampar, beberapa warga Eropa memanfaatkan salju yang jarang terjadi, seperti di Montmartre Paris, di mana orang-orang terlihat bermain ski dan kereta luncur. Namun, bagi sebagian besar, badai Goretti berfungsi sebagai pengingat akan implikasi masa depan dari pola cuaca yang semakin tidak terduga dan kebutuhan akan investasi berkelanjutan dalam adaptasi dan mitigasi untuk mengurangi dampak ekonomi dan sosial dari gangguan serupa di masa mendatang.