Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ancaman Terkini: Bahaya Mengintai di Pantai Australia

2026-01-21 | 23:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T16:58:56Z
Ruang Iklan

Ancaman Terkini: Bahaya Mengintai di Pantai Australia

Australia, yang dikenal dengan pesona pantai-pantainya yang ikonik, kini menghadapi ancaman ganda berupa serangan hiu yang meningkat dan dampak perubahan iklim yang memperparah kondisi perairan, memicu penutupan pantai-pantai secara beruntun dan menimbulkan kekhawatiran serius bagi keselamatan wisatawan. Pada 20 Januari 2026, puluhan pantai di kawasan Northern Beaches, Sydney utara, ditutup setelah serangkaian serangan hiu yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 48 jam, melukai setidaknya empat orang, dengan dua di antaranya dalam kondisi kritis. Insiden ini terjadi setelah hujan deras menyebabkan air laut keruh dan menarik hiu banteng mendekat ke pesisir.

Secara historis, Australia memiliki reputasi sebagai salah satu negara dengan pantai paling berbahaya di dunia, bukan hanya karena hiu tetapi juga karena hewan laut mematikan lainnya seperti ubur-ubur, serta arus rip yang kuat. Cape Tribulation di Queensland bahkan dinobatkan sebagai pantai paling berbahaya di dunia pada analisis 2023 oleh weather.com, karena menjadi rumah bagi ubur-ubur mematikan, ular berbisa, buaya, dan kasuari. Ubur-ubur Irukandji, yang ukurannya tidak lebih besar dari koin lima sen, dikenal dapat menyebabkan "Irukandji Syndrome" yang fatal, dan kini bermigrasi ke selatan Australia karena perubahan iklim, mencapai wilayah seperti Hervey Bay dan Fraser Island, bahkan diperkirakan bisa mencapai Gold Coast. Pada tahun 2018, seorang perempuan perenang disengat ubur-ubur Irukandji di Pantai Cable, Broome, Australia Barat, menyebabkan pantai tersebut ditutup.

Data dari Taronga Conservation Society Australia menunjukkan bahwa Januari 2026 menjadi periode terburuk untuk insiden hiu di New South Wales sejak tahun 2015, meskipun rata-rata Australia mencatat sekitar 20 serangan hiu per tahun dengan kurang dari tiga di antaranya fatal. Pada tahun 2023, Australia menduduki peringkat kedua secara global dengan 15 insiden serangan hiu, di mana empat di antaranya berakibat fatal, terutama di perairan Australia Barat dan Australia Selatan. Para ahli menduga luapan air limbah akibat hujan deras menciptakan kondisi ideal bagi hiu banteng, spesies yang dikenal menyukai perairan payau dan merupakan predator oportunistik. Profesor Biologi Kelautan James Cook University, Jodie Rummer, menjelaskan bahwa hiu banteng cenderung masuk ke muara dan perairan keruh setelah hujan deras karena kondisi tersebut mendukung aktivitas berburu mereka. Steven Pearce, CEO Surf Life Saving NSW, memperingatkan masyarakat untuk tidak berenang di pelabuhan atau sistem sungai lainnya di seluruh NSW saat ini karena kualitas air yang buruk sangat kondusif bagi aktivitas hiu banteng.

Ancaman lain yang terus menghantui adalah arus rip, yang disebut sebagai bahaya nomor satu di pantai Australia, menyumbang hampir seperempat dari semua kematian tenggelam. Tahun lalu, Surf Life Saving Australia (SLSA) melakukan 10.000 penyelamatan, sebagian besar terkait arus rip, dan sekitar 36 dari 141 kematian tenggelam di pantai dikaitkan dengan fenomena ini. Arus rip sulit dikenali karena sering terlihat sebagai area air tenang di antara gelombang berbuih, namun memiliki kecepatan 0,85 hingga 1 meter per detik yang mampu menyeret orang ke tengah laut.

Di samping bahaya biologis dan oseanografis, perubahan iklim semakin memperburuk kerentanan pantai-pantai Australia. Laporan Index Risiko Iklim untuk industri pariwisata Australia pada September 2024 menunjukkan bahwa hingga 68 persen destinasi wisata, termasuk pantai-pantai ikonik seperti Bondi Beach dan Great Ocean Road, akan menghadapi risiko perubahan iklim yang signifikan. Bencana iklim seperti kebakaran hutan, badai, dan kekeringan mengancam aset pariwisata, dengan perkiraan 80 persen objek wisata akan mengalami peningkatan risiko di bawah skenario pemanasan global ekstrem dengan kenaikan suhu rata-rata 3 derajat Celsius. Menteri Energi dan Iklim Chris Bowen pada September 2025 menegaskan bahwa seluruh wilayah Australia rentan terhadap risiko iklim, termasuk kenaikan permukaan laut yang mengancam jutaan penduduk pesisir. Diperkirakan 75.000 hingga 250.000 properti tepi pantai dapat terancam oleh kenaikan permukaan laut dan erosi pada tahun 2050, dengan nilai properti yang berisiko mencapai US$30-90 miliar.

Pihak berwenang dan organisasi keselamatan, seperti Surf Life Saving Australia, terus mengimbau wisatawan untuk berhati-hati dan selalu berenang di area yang diawasi oleh penjaga pantai, antara bendera merah dan kuning. Edukasi mengenai cara mengidentifikasi dan menghadapi arus rip juga menjadi krusial. Namun, kompleksitas ancaman yang tumpang tindih—mulai dari perilaku hewan liar yang dipengaruhi iklim hingga fenomena alam yang diperparah oleh cuaca ekstrem—menuntut pendekatan holistik yang lebih kuat. Dampak kumulatif dari bahaya-bahaya ini tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga berpotensi merusak citra pariwisata Australia dan membebani perekonomian lokal dalam jangka panjang. Meningkatnya frekuensi dan intensitas insiden mengharuskan evaluasi ulang kebijakan keselamatan dan investasi yang lebih besar dalam mitigasi risiko, baik melalui pengawasan maritim yang canggih maupun strategi adaptasi iklim yang komprehensif.