Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

600 Turis Asing Terdampar di Socotra Yaman, Terjebak dalam Pusaran Konflik Saudi-UEA

2026-01-08 | 04:54 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T21:54:00Z
Ruang Iklan

600 Turis Asing Terdampar di Socotra Yaman, Terjebak dalam Pusaran Konflik Saudi-UEA

Ratusan turis asing, diperkirakan antara 400 hingga 600 orang, terdampar di Pulau Socotra, Yaman, setelah jalur penerbangan mendadak terputus menyusul eskalasi ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman daratan. Insiden ini terjadi setelah penarikan pasukan UEA dari Yaman pekan lalu di bawah batas waktu yang ditetapkan oleh Arab Saudi, yang secara efektif mengakhiri kendali Emirati atas bandara utama Socotra. Akibatnya, lalu lintas udara dihentikan, membuat banyak turis yang datang untuk perayaan Tahun Baru tidak dapat kembali.

Krisis ini mencerminkan keretakan yang semakin dalam antara dua kekuatan Teluk yang kini mendukung pihak-pihak yang berlawanan dalam perang saudara Yaman yang telah berlangsung sejak 2014. Socotra, yang terletak lebih dari 300 kilometer di selatan pantai Yaman, sebagian besar terhindar dari konflik daratan dan sebelumnya dapat diakses terutama melalui UEA. Pasukan Emirati mengambil kendali efektif atas pulau itu pada 2018, namun serangan udara yang didukung Saudi terhadap separatis yang bersekutu dengan UEA telah mengubah keseimbangan kekuatan.

Salah satu turis Lituania, Aurelija Krikstaponiene, yang bepergian ke Socotra selama Malam Tahun Baru, menyatakan, "Tidak ada yang punya informasi dan semua orang hanya ingin kembali ke kehidupan normal mereka." Ia dijadwalkan kembali ke Abu Dhabi, namun kini mungkin harus melalui Jeddah seiring dengan pergeseran kendali bandara. Maciej, seorang turis Polandia, menambahkan bahwa para wisatawan memiliki "jumlah uang tunai yang terbatas, dan kebanyakan orang akan kehabisan dalam dua atau tiga hari" karena tidak ada ATM atau pembayaran kartu di pulau tersebut. Kementerian Luar Negeri Polandia juga mengonfirmasi adanya warga negaranya yang terdampar.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi, dan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA, merupakan dua faksi utama yang terlibat dalam pertikaian ini. Ketegangan ini menyebabkan pembatasan yang lebih luas pada perjalanan udara ke dan dari Yaman. Meskipun ada peringatan perjalanan tingkat 4 dari Departemen Luar Negeri AS yang merekomendasikan untuk tidak melakukan perjalanan ke Yaman, termasuk Socotra, pulau ini tetap menjadi tujuan populer bagi para petualang dan influencer media sosial karena lanskapnya yang subur, satwa liar yang unik, dan perairan pirusnya.

Pada Rabu, 7 Januari 2026, Yemenia Airways melanjutkan penerbangan langsung antara Arab Saudi dan Socotra untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, sebagai upaya Riyadh untuk mengurangi pengaruh Emirati di negara itu. Maskapai nasional tersebut menyatakan akan mengoperasikan penerbangan langsung pertama ke Jeddah untuk mengevakuasi turis asing dari pulau itu. Mohsen Haida, wakil direktur urusan komersial di Yemenia Airways, mengatakan bahwa maskapai itu berencana mengoperasikan penerbangan mingguan antara Socotra dan kota di Saudi tersebut. Meskipun STC tetap menguasai pulau itu, bandara tidak lagi berada di tangan Emirati, menurut sumber bandara.

Keretakan antara Saudi dan UEA bukan hanya ideologis, melainkan juga mencerminkan proyek-proyek pengaruh regional yang bersaing. UEA berupaya mendominasi pelabuhan-pelabuhan utama seperti Aden, Mukalla, dan Socotra untuk mendapatkan pengaruh atas koridor perdagangan maritim, sementara Arab Saudi dengan Visi 2030-nya juga berambisi menjadi pusat finansial, teknologi, dan logistik di kawasan tersebut. Penarikan pasukan UEA pada 30 Desember 2025, yang diikuti dengan deklarasi keadaan darurat tiga bulan dan penutupan semua pelabuhan dan perbatasan di Socotra, menandai eskalasi yang signifikan. Perselisihan tajam juga dilaporkan di pelabuhan Socotra antara pasukan Saudi dan delegasi Emirati terkait pembongkaran kargo kapal. Insiden ini menyoroti bagaimana persaingan geopolitik antara Riyadh dan Abu Dhabi kini secara langsung memengaruhi kehidupan sipil dan stabilitas regional, mengubah sebuah surga wisata yang relatif tenang menjadi medan ketegangan geopolitik yang jelas.