Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

60+ Penerbangan Asia Batal Jelang Tahun Baru 2026: Liburan Kacau dari Indonesia ke Hong Kong

2026-01-01 | 07:45 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T00:45:02Z
Ruang Iklan

60+ Penerbangan Asia Batal Jelang Tahun Baru 2026: Liburan Kacau dari Indonesia ke Hong Kong

Pembatalan lebih dari 60 penerbangan melanda beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia dan Hong Kong, saat puncak libur Tahun Baru 2026, menyebabkan ribuan pelancong terlantar dan menyoroti kerentanan infrastruktur penerbangan regional terhadap cuaca ekstrem serta tekanan operasional. Gangguan yang dilaporkan pada 29 dan 30 Desember 2025 ini mencakup rute domestik dan internasional, mengular dari Jakarta dan Surabaya hingga ke bandara-bandar sibuk seperti Hong Kong International Airport.

Pada 29 Desember, setidaknya 60 penerbangan dibatalkan di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Hong Kong. Indonesia mengalami pembatalan penerbangan terbanyak di kawasan itu, memengaruhi beberapa bandara besar seperti Bandara Internasional Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, dan Bandara Internasional Juanda di Surabaya. Maskapai seperti Batik Air dan Garuda Indonesia membatalkan sejumlah rute domestik. Di Hong Kong, penerbangan Cathay Pacific CPA424 ke Kaohsiung dan Hong Kong Airlines HGB822 ke Xuzhou termasuk di antara yang dibatalkan pada 22 Desember, yang menggarisbawahi dampak berantai masalah operasional di kawasan tersebut terhadap pusat penerbangan Hong Kong. Selain itu, penerbangan jarak jauh dari Hong Kong, seperti CX840 ke JFK, juga terdampak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia sebelumnya telah memperingatkan potensi cuaca ekstrem selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), dengan puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pertumbuhan awan Cumulonimbus dan gelombang tinggi perlu diwaspadai di rute penerbangan sekitar Laut Natuna Selatan, Selat Karimata, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda, dan Papua bagian Utara pada Desember 2025, yang diperkirakan berlanjut hingga Januari 2026 dengan sebaran lebih luas. Fenomena atmosfer aktif seperti Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta pengaruh La Nina lemah dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan signifikan. Curah hujan diperkirakan kembali meningkat tajam antara 29 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026, bertepatan dengan arus balik liburan.

Selain faktor cuaca, masalah operasional juga menjadi penyebab signifikan. Data pelacak operasi maskapai yang dihimpun pada 22 Desember menunjukkan 22 pembatalan penerbangan di lima pasar Asia, termasuk dua keberangkatan dari Hong Kong, menunjuk pada tantangan penjadwalan kru dan perputaran pesawat selama periode puncak. Analis penerbangan John Grant dari OAG memprediksi tantangan kapasitas maskapai akan berlanjut hingga 2026 karena masalah Pemeliharaan, Perbaikan, dan Perombakan (MRO) serta penundaan produksi dari produsen pesawat besar. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Bayu Sutanto, mengakui industri menghadapi tantangan biaya operasional dan kurs dolar, meskipun beberapa maskapai telah menambah armada untuk mengantisipasi lonjakan permintaan. Kementerian Perhubungan Indonesia sendiri telah menyiapkan 326 pesawat untuk melayani periode Nataru 2025/2026.

Dampak pembatalan penerbangan ini dirasakan luas oleh penumpang, yang banyak di antaranya terdampar di hub tersibuk di kawasan tersebut dan menghadapi ketidakpastian. Hong Kong International Airport, misalnya, menjadi titik fokus gangguan regional yang lebih luas. Otoritas terkait menyarankan penumpang untuk menghubungi maskapai atau platform pemesanan mereka segera setelah menerima pemberitahuan pembatalan, mencari opsi pemesanan ulang, dan menyimpan semua tanda terima untuk klaim asuransi. Selain itu, beberapa kota seperti Hong Kong, Paris, dan Tokyo telah membatalkan perayaan Tahun Baru 2026 karena masalah keamanan, risiko iklim ekstrem, dan tekanan anggaran publik, yang mungkin secara tidak langsung memengaruhi sentimen perjalanan.

Masa liburan Tahun Baru Imlek 2026, yang dimulai pada 17 Februari, diperkirakan akan menambah tekanan pada jaringan penerbangan Asia, dengan potensi kepadatan dan penundaan di pusat transit utama seperti Singapura dan Hong Kong. Ini menunjukkan bahwa tantangan operasional dan cuaca yang dihadapi industri penerbangan di Asia kemungkinan besar akan berlanjut, memerlukan strategi mitigasi yang lebih adaptif dari maskapai dan otoritas.