Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Wisata Guci Pasca Banjir Bandang: Potret Kondisi Terkini

2025-12-21 | 15:45 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-21T08:45:00Z
Ruang Iklan

Wisata Guci Pasca Banjir Bandang: Potret Kondisi Terkini

Pemandian air panas Pancuran 13 di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, hancur diterjang banjir bandang pada Sabtu, 20 Desember 2025, sekitar pukul 15.00 WIB. Peristiwa ini terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah hulu, menyebabkan meluapnya Sungai Gung dan Sungai Sawangan yang membawa material lumpur, batu, serta kayu. Meskipun tidak ada korban jiwa, bencana ini merusak infrastruktur penting seperti jembatan kecil, pipa air panas, dan tiga kolam utama, yaitu Pancuran 13, Pancuran 5, dan Kolam Barokah, yang kini tertutup material banjir.

Objek wisata Guci, yang selama lima tahun terakhir menarik lebih dari 2,88 juta pengunjung dan menyumbang Rp12,97 miliar Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2023, kini menghadapi tantangan pemulihan signifikan. Curah hujan tinggi akibat Badai Siklon 93S yang melintasi Gunung Slamet diidentifikasi sebagai pemicu banjir, serupa dengan kejadian di daerah lain seperti Sirampog Brebes. BPBD Jawa Tengah, melalui Kepala Pelaksana Harian M. Afifudin, menyatakan bahwa proses perbaikan fasilitas sudah dimulai segera setelah air surut, melibatkan tim gabungan dari BPBD, PMI, TNI, Polri, dan masyarakat.

Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, telah meninjau langsung lokasi dan memastikan bahwa secara umum kawasan wisata Guci aman untuk dikunjungi, kecuali Pancuran 13 dan Pancuran 5 yang masih ditutup sementara demi keselamatan. Pihak berwenang mengimbau masyarakat di sepanjang aliran Sungai Gung, termasuk wilayah Balapulang, Dukuhwaru, dan Adiwerna, untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah juga menegaskan bahwa Guci tetap akan dibuka secara terbatas selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), dengan area terdampak yang masih rawan tetap disterilkan.

Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi, mengingat Kepala Dinas Porapar Kabupaten Tegal, Akhmad Uwes Qoroni, menyebutkan bahwa banjir di Sungai Gung kerap menjadi peristiwa tahunan akibat curah hujan tinggi. Frekuensi bencana hidrometeorologi seperti ini menuntut evaluasi komprehensif terhadap tata ruang dan sistem mitigasi bencana di destinasi wisata pegunungan. Ketergantungan ekonomi lokal pada sektor pariwisata Guci memerlukan strategi jangka panjang yang berkelanjutan, tidak hanya reaktif.

Para ahli pariwisata menekankan pentingnya diversifikasi produk wisata dan penguatan edukasi risiko bencana bagi pengunjung serta pelaku usaha. Kejadian ini menjadi pengingat kritis akan kerentanan destinasi alam terhadap perubahan iklim ekstrem. Pemulihan infrastruktur saja tidak cukup; diperlukan integrasi manajemen risiko bencana ke dalam perencanaan pariwisata untuk menjaga keberlanjutan dan keamanan Guci sebagai magnet wisatawan, yang sebelumnya berhasil meluncurkan "Guci Medical Wellness Tourism" pada Oktober 2025. Ke depan, fokus harus bergeser pada pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan sistem peringatan dini yang efektif untuk melindungi aset vital pariwisata dan komunitas.