
Penerapan sistem kerja jarak jauh atau Work From Home (WFH) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern, terutama pasca-pandemi COVID-19. Meskipun menawarkan fleksibilitas, WFH juga memicu kebosanan dan tantangan mental bagi sebagian pekerja, mendorong mereka mencari "terapi" baru melalui media sosial. Fenomena ini mengubah cara individu menemukan inspirasi dan hiburan, bahkan dalam konteks destinasi wisata.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa WFH dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mental, seperti isolasi sosial, stres, kecemasan, kelelahan, dan kesulitan menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Kurangnya interaksi langsung dengan rekan kerja dan lingkungan kantor yang statis seringkali menjadi pemicu kejenuhan. Akibatnya, banyak orang beralih ke media sosial sebagai saluran untuk mencari pelarian dan pengalaman baru secara virtual.
Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube kini menjadi "destinasi" virtual yang populer. Pengguna dapat dengan mudah menjelajahi keindahan alam, budaya unik, dan "permata tersembunyi" dari berbagai penjuru dunia tanpa harus beranjak dari rumah. Konten-konten visual yang memukau, seperti foto dan video perjalanan, rekomendasi tempat, serta cerita petualangan dari para travel influencer, berfungsi sebagai terapi visual yang menginspirasi dan menghadirkan pengalaman "jalan-jalan" secara daring. Survei Statista pada tahun 2024 bahkan menunjukkan bahwa 86% responden di Indonesia dan India mengandalkan influencer media sosial sebagai sumber informasi utama mengenai topik perjalanan.
Konsep "wisata virtual" ini semakin berkembang, menawarkan pengalaman imersif melalui teknologi virtual reality (VR) yang memungkinkan pengguna "bepergian" ke tujuan-tujuan yang jauh, seperti situs bersejarah atau keajaiban alam, dengan dampak lingkungan minimal. Pengalaman VR ini dilaporkan dapat mengurangi kecemasan perjalanan dan menyegarkan kondisi mental, terutama saat mobilitas fisik terbatas.
Meskipun pengalaman virtual tidak dapat sepenuhnya menggantikan sensasi perjalanan fisik, konten media sosial dan teknologi imersif telah menjadi alat penting untuk menjaga semangat petualangan dan memberikan "terapi" bagi mereka yang merasa bosan di rumah akibat WFH. Hal ini juga membuka peluang baru bagi industri pariwisata untuk beradaptasi, dengan agensi perjalanan semakin memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan destinasi dan paket wisata menarik, serta berkolaborasi dengan influencer untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan demikian, media sosial telah berevolusi menjadi lebih dari sekadar platform komunikasi; ia kini adalah jendela menuju dunia, menawarkan pelarian dan inspirasi bagi jiwa yang haus petualangan di tengah rutinitas WFH.