
Bradley Button, seorang penumpang asal Australia, pada Februari 2019 menemukan benda mencurigakan yang diyakini sebagai gigi manusia di dalam makanannya saat terbang dengan Singapore Airlines rute Wellington ke Melbourne. Insiden tersebut terjadi pada penerbangan SQ248, ketika Button tengah menyantap hidangan nasi dan merasakan ada benda keras yang kemudian diketahui berbentuk seperti gigi geraham.
Button menyatakan merasa sangat tidak nyaman dan mual sepanjang sisa penerbangan setelah penemuan mengerikan tersebut. Ia melaporkan kejadian itu kepada awak kabin, yang menurutnya sempat bersikeras bahwa benda asing tersebut hanyalah batu kecil dan perlu diambil untuk pengujian. Setelah insiden itu, Button menerima voucher senilai S$75 (sekitar 750 ribu Rupiah) yang dapat digunakan untuk produk bebas bea dalam penerbangan Singapore Airlines. Maskapai tersebut mengeluarkan pernyataan permintaan maaf dan mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki insiden tersebut serta telah mengirim objek asing itu untuk dianalisis.
Kontaminasi benda asing dalam makanan penerbangan, meskipun jarang terjadi, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap standar keamanan pangan dan kebersihan dalam industri katering penerbangan global. Insiden serupa, seperti penemuan benda tajam mirip bilah dalam makanan Air India pada Juni 2024, menggarisbawahi tantangan dalam menjaga kualitas dan keamanan pasokan makanan di ketinggian. Air India mengidentifikasi benda asing tersebut berasal dari mesin pengolah sayuran di fasilitas mitra kateringnya, yang memicu penyelidikan dan penguatan langkah-langkah pencegahan, termasuk pemeriksaan mesin yang lebih sering.
Sistem katering penerbangan melibatkan rantai pasokan yang kompleks, mulai dari persiapan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian di pesawat, yang setiap tahapnya berpotensi terjadi kontaminasi. Regulasi keamanan pangan untuk katering penerbangan diatur oleh berbagai badan otoritas kesehatan dan standar internasional seperti International Flight Services Association (IFSA) dan The Association of Europe Airlines (AEA), yang mengadaptasi panduan dari WHO. Standar ini mencakup pengendalian titik-titik kritis seperti penerimaan bahan mentah, penyimpanan dingin/beku, proses memasak, pendinginan cepat, dan penataan nampan makanan. Meskipun protokol ketat diterapkan, laporan menunjukkan bahwa implementasi standar keamanan pangan masih belum konsisten dan pengawasan cenderung lemah di beberapa area.
Implikasi dari insiden kontaminasi makanan tidak hanya berdampak pada reputasi maskapai dan penyedia katering, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan serius bagi penumpang, terutama pada penerbangan jarak jauh di mana fasilitas medis terbatas. Para ahli kesehatan, seperti Michael Sheedy, seorang ahli kesehatan dan pelatih pribadi dari Las Vegas, bahkan menyarankan penumpang untuk menghindari makan selama penerbangan karena tekanan kabin dan ketinggian dapat memengaruhi sistem pencernaan, menyebabkan makanan tidak dicerna dengan baik dan memicu radang gastrointestinal. Perubahan tekanan di pesawat juga dapat menyebabkan gas di dalam perut dan usus mengembang, menimbulkan ketidaknyamanan.
Masa depan keamanan pangan di industri penerbangan menuntut peningkatan transparansi dan akuntabilitas dari seluruh pihak dalam rantai pasokan. Penyelidikan menyeluruh atas setiap insiden, seperti yang dilakukan Singapore Airlines dan Air India, krusial untuk mengidentifikasi akar masalah dan menerapkan perbaikan berkelanjutan. Maskapai dan penyedia katering perlu berinvestasi lebih lanjut dalam teknologi pemantauan, pelatihan karyawan yang lebih ketat tentang praktik kebersihan, serta audit berkala yang independen untuk memastikan kepatuhan terhadap standar tertinggi. Tanpa langkah-langkah proaktif ini, kepercayaan konsumen terhadap makanan dalam penerbangan akan terus tergerus, yang pada akhirnya memengaruhi pengalaman perjalanan udara secara keseluruhan.