Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Turbulensi Ekstrem Garuda: Penumpang Panik Bersaksi Pesawat Anjlok Mendadak

2025-12-27 | 22:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-27T15:04:39Z
Ruang Iklan

Turbulensi Ekstrem Garuda: Penumpang Panik Bersaksi Pesawat Anjlok Mendadak

Sebuah penerbangan Garuda Indonesia dengan nomor GA 712 rute Jakarta menuju Sydney pada Kamis, 25 Desember 2025, mengalami turbulensi parah sekitar 30 menit sebelum mendarat di Bandara Internasional Kingsford Smith, Sydney, menyebabkan kepanikan di kalangan penumpang dan cedera ringan pada dua awak kabin. Insiden ini segera memicu perbincangan di media sosial, dengan seorang penumpang melalui akun Threads @fahargpjkt membagikan pengalamannya mengenai situasi kacau di kabin dan protes terkait pendingin udara yang dimatikan saat evakuasi kru dilakukan setelah pesawat mendarat.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, menegaskan bahwa pilot telah menjalankan seluruh prosedur keselamatan sesuai standar operasional penerbangan yang berlaku dan pesawat berhasil mendarat dengan aman di Sydney. Kairupan juga mengklarifikasi bahwa tidak ada awak kabin yang mengalami patah tulang, meskipun dua awak kabin memang mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit setempat. Satu awak kabin telah diperbolehkan pulang, sementara satu lainnya masih dalam pemantauan. Perusahaan juga telah menyiapkan helpdesk khusus untuk menindaklanjuti masukan dan laporan penumpang terkait kejadian tersebut.

Fenomena turbulensi, terutama yang parah, menjadi perhatian serius dalam industri penerbangan global dan di Indonesia. Menurut data dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), turbulensi merupakan penyebab kecelakaan pesawat terbanyak di dunia pada tahun 2023. Berbagai jenis turbulensi dapat terjadi, termasuk turbulensi udara jernih (Clear Air Turbulence/CAT) yang sulit terdeteksi oleh radar cuaca pesawat karena tidak terkait dengan awan atau badai. CAT biasanya terjadi di sekitar jet stream, arus udara berkecepatan tinggi di ketinggian jelajah pesawat.

Para ahli mengaitkan peningkatan frekuensi dan intensitas turbulensi dengan perubahan iklim global. Paul Williams, seorang Profesor Ilmu Atmosfer dari University of Reading di Inggris, menyatakan adanya bukti kuat bahwa turbulensi semakin meningkat akibat perubahan iklim. Penelitian timnya menunjukkan bahwa turbulensi udara jernih yang parah di Atlantik Utara telah meningkat sebesar 55 persen sejak tahun 1979. Proyeksi terbaru bahkan mengindikasikan bahwa turbulensi parah di jet stream dapat meningkat dua hingga tiga kali lipat dalam beberapa dekade mendatang jika kondisi global terus memburuk. Thomas Guinn dari Embry-Riddle Aeronautical University menjelaskan bahwa perubahan iklim dapat mengubah aliran jet dan meningkatkan pergeseran angin, yang pada akhirnya akan memperbanyak turbulensi di udara.

Menanggapi tantangan ini, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada Mei 2024 telah menekankan pentingnya adaptasi industri aviasi terhadap pola cuaca yang tidak teratur. Kementerian Perhubungan berencana untuk memaksimalkan fungsi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam mengontrol perubahan cuaca di Indonesia, serta menjalin kerja sama dengan otoritas penerbangan internasional seperti FAA dan ICAO untuk meminimalkan risiko kecelakaan.

Meskipun pesawat dirancang untuk menahan guncangan udara, bahkan dalam skala ekstrem, turbulensi tetap menimbulkan risiko cedera bagi penumpang dan awak kabin, terutama jika tidak mengenakan sabuk pengaman. Oleh karena itu, penting bagi penumpang untuk selalu mematuhi instruksi keselamatan, termasuk tetap mengenakan sabuk pengaman selama duduk, guna mengantisipasi turbulensi yang dapat terjadi secara tiba-tiba akibat kondisi cuaca yang semakin tidak terduga. Insiden seperti yang dialami GA 712 menggarisbawahi urgensi bagi maskapai, regulator, dan penumpang untuk terus meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi fenomena alam yang kian tak menentu ini.