:strip_icc()/kly-media-production/medias/1437445/original/042724100_1481871731-20161216-danau_singkarak-hitam3-sumbar.jpg)
Danau Singkarak, permata kebanggaan Sumatera Barat, yang selama ini memukau dengan keindahan alamnya yang asri, kini menyuguhkan pemandangan yang memilukan. Hamparan air jernih yang menjadi daya tarik utama, kini sebagian besar tertutup tumpukan kayu gelondongan, imbas dari bencana banjir bandang atau "galodo" yang melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir.
Sebelum bencana melanda, Danau Singkarak dikenal luas sebagai destinasi wisata yang menawarkan pesona tiada tara. Airnya yang bening memantulkan langit dan deretan perbukitan hijau yang mengelilinginya, menciptakan lanskap yang menenangkan dan udara yang sejuk membelai. Danau tektonik terluas kedua di Sumatera ini menjadi tempat favorit bagi wisatawan untuk bersantai, menikmati wisata perahu, atau sekadar memancing. Keunikan danau ini juga terletak pada keberadaan "ikan bilih," spesies ikan endemik yang hanya dapat ditemukan di Danau Singkarak, menjadi ikon kuliner lokal yang selalu dicari pengunjung. Lokasinya yang dapat dijangkau sekitar empat jam perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau menjadikannya pilihan ideal untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kota.
Namun, keindahan yang telah mendunia sejak dipublikasikan oleh naturalis Jerman Ernst Haeckel pada tahun 1905 ini kini berubah drastis. Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Solok dan sekitarnya pada akhir November hingga awal Desember 2025 telah membawa dampak kehancuran yang luas. Arus deras menghanyutkan material-material, termasuk kayu gelondongan dalam jumlah besar, yang kemudian bermuara dan menumpuk di Danau Singkarak, khususnya di Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok. Foto-foto udara menunjukkan permukaan danau kini diselimuti oleh material kayu tersebut, mengubah panorama biru tenangnya menjadi kelabu.
Bencana ini tidak hanya merusak estetika danau, tetapi juga menimbulkan keprihatinan serius terhadap ekosistem dan mata pencarian masyarakat lokal yang bergantung pada sektor perikanan dan pariwisata. Selain Danau Singkarak, banjir bandang di Sumatera Barat juga menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah dan memutus sejumlah jalur vital, seperti jalur nasional Bukittinggi-Padang. Hingga Senin (1/12/2025) pukul 17.00 WIB, tercatat 165 korban meninggal dunia di Sumatera Barat akibat bencana ini, di samping ratusan lainnya yang hilang dan ribuan rumah rusak berat, sedang, maupun ringan.
Pemerintah daerah dan pihak terkait tengah berupaya melakukan penanganan dan pembersihan material kayu. Upaya evakuasi warga yang terisolasi di Nagari Padang Laweh dan Guguak Malalo bahkan dilakukan melalui jalur Danau Singkarak menggunakan perahu, meski kondisi gelombang danau dan angin memerlukan kewaspadaan ekstra dari petugas. Sebagian sampah kayu yang terkumpul juga dimanfaatkan oleh masyarakat setempat atau disalurkan ke PT Semen Padang sebagai bahan bakar alternatif, sebagai bagian dari upaya penanganan pascabencana. Meskipun danau dipenuhi kayu, sebuah fenomena menarik terjadi di mana aliran air dari Danau Singkarak melalui bendungan Ombilin justru terlihat jernih dan deras, berbanding terbalik dengan kondisi banjir keruh di wilayah lain di Sumatera.
Perubahan drastis Danau Singkarak ini menjadi pengingat pahit akan kerapuhan alam di hadapan bencana. Tantangan besar menanti untuk mengembalikan keindahan dan fungsi ekologis Danau Singkarak, serta memulihkan kehidupan masyarakat yang terdampak.