Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tragedi Konservasi: Virus EEHV Tewaskan Anak Gajah di PKG Sebanga

2025-12-23 | 03:46 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T20:46:42Z
Ruang Iklan

Tragedi Konservasi: Virus EEHV Tewaskan Anak Gajah di PKG Sebanga

Kematian tragis anak gajah sumatera berusia satu setengah tahun bernama Laila di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Kabupaten Bengkalis, Riau, pada sekitar pukul 00.30 WIB tanggal 22 November 2025, telah dikonfirmasi akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV), sebuah virus mematikan yang menjadi ancaman serius bagi populasi gajah muda. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengonfirmasi hasil pemeriksaan laboratorium Medica Satwa Laboratoris Bogor terhadap sampel jaringan dan organ Laila yang dinyatakan positif EEHV pada pertengahan Desember 2025.

Laila, anak gajah betina yang lahir secara alami pada 6 April 2024 dari induk bernama Puja dan pejantan Sarma, mulai menunjukkan penurunan kondisi kesehatan pada 20 November 2025. Meskipun nafsu makan dan minumnya sempat normal, aktivitasnya berkurang signifikan. Tim medis BBKSDA Riau telah melakukan pemeriksaan intensif dan memberikan penanganan awal termasuk infus dan obat-obatan, namun virus EEHV menyerang organ vital, khususnya hati, menyebabkan kondisinya memburuk dengan cepat.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menjelaskan bahwa EEHV merupakan virus herpes yang secara spesifik menyerang gajah, terutama anak gajah, dengan tingkat kematian yang sangat tinggi dan perkembangan penyakit yang agresif. "Penyakit ini dikenal sangat agresif, sulit ditangani, dan penularannya hanya terjadi antar gajah," ujar Supartono. Hasil laboratorium ini menjadi dasar penting bagi BBKSDA Riau untuk melakukan evaluasi menyeluruh serta memperkuat langkah pencegahan di kawasan konservasi, terutama untuk melindungi anak-anak gajah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap infeksi EEHV.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni telah memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini, menegaskan komitmen pemerintah untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Kementerian Kehutanan telah berinisiatif menggandeng Fauna Land Indonesia untuk mendatangkan tim dokter gajah spesialis dari Vantara, sebuah pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan konservasi satwa liar raksasa di Jamnagar, Gujarat, India, yang dikenal memiliki salah satu rumah sakit gajah tercanggih di dunia. Menhut Antoni menyatakan, "Saya sudah kontak teman di India bisa menemukan antivirus itu, tinggal studinya apakah cocok atau tidak dengan gajah kita. Cuman saat ini sudah ada progres. Mereka bahkan mau ngasih gratis jika cocok dengan gajah kita. Tinggal satu step riset lagi."

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Satyawan Pudyatmoko menambahkan bahwa tim Vantara India bersama Fauna Land Indonesia telah tiba di Riau pada 22 Desember 2025 untuk melakukan analisis medis dan tindakan preventif terhadap penyebaran virus EEHV. Menurutnya, pencegahan kematian gajah akibat infeksi EEHV memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, terutama dalam mendeteksi gejala sejak dini. Kerja sama ini diharapkan dapat menyelamatkan populasi gajah Sumatera yang bukan hanya terancam akibat kehilangan habitat, tetapi juga ancaman EEHV. Upaya preventif ini tidak hanya akan dilakukan di Buluh Cina, tetapi juga akan diperluas ke seluruh kantong gajah di Taman Nasional Tesso Nilo, Sebanga, Way Kambas, dan lokasi konservasi lainnya.

Virus EEHV bukan merupakan ancaman baru bagi konservasi gajah di Indonesia dan dunia. Sejak terdeteksi pertama kali pada gajah Afrika sekitar tahun 1970-an dan pada gajah Asia di kebun binatang Washington pada 1995, virus ini telah menyebar ke berbagai wilayah, termasuk di Sumatera. Para ahli terus berupaya mengembangkan metode perawatan dan vaksin, meskipun tingkat keberhasilan masih relatif kecil. Per Desember 2025, penyakit ini dilaporkan telah merenggut nyawa 13 anak gajah. Populasi gajah Sumatera sendiri berada dalam kondisi rentan, dengan perkiraan sekitar 1.724 ekor yang tersisa di Sumatera pada tahun 2015, dan 85 persen di antaranya hidup di luar kawasan habitat.

Kondisi Pusat Konservasi Gajah Sebanga, yang didirikan pada tahun 1988, juga menambah kompleksitas tantangan konservasi. Kawasan yang dahulu dikenal dengan fasilitas lengkap dan area penggembalaan luas seluas 5.000 hektar pada tahun 1992, kini menghadapi penyusutan habitat drastis. Data terbaru menunjukkan bahwa dari lebih 5.700 hektar kawasan PLG Sebanga, hanya sekitar 10 persen yang masih berupa hutan alami, dengan area penangkaran standar yang tersisa sekitar satu hektar. Alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit dan aktivitas lain telah memutus jalur-jalur alami gajah dan menyempitkan ruang hidup mereka. Akibatnya, jumlah gajah yang dirawat di PKG Sebanga menurun, dari enam ekor kini menjadi lima ekor setelah kematian Laila. Situasi ini memerlukan tindakan konservasi yang lebih terstruktur dan kolaboratif, tidak hanya dalam penanganan penyakit, tetapi juga restorasi habitat dan mitigasi konflik antara gajah dan manusia, demi menjaga kelangsungan hidup spesies yang terancam punah ini.