:strip_icc()/kly-media-production/medias/5406523/original/072243300_1762580050-WhatsApp_Image_2025-11-08_at_11.01.03.jpeg)
Banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera, mencakup Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah menyebabkan kerusakan signifikan, termasuk merendam Situs Bongal di Tapanuli Tengah, yang diyakini sebagai titik awal perdagangan Islam di Nusantara. Bencana alam yang terjadi sekitar akhir November dan awal Desember 2025 ini telah menimbulkan dampak serius pada situs bersejarah dan infrastruktur di sekitarnya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa sejumlah aset kebudayaan terancam oleh banjir bandang ini, dan Situs Bongal merupakan salah satu yang terendam dan mengalami kerusakan. Akses jalan menuju situs tersebut juga terputus akibat dampak banjir, sehingga menyulitkan upaya penilaian dan penanganan. Sebuah galeri yang sedang dibangun di lokasi tersebut juga dilaporkan terendam dan rusak. Selain itu, rumah-rumah juru pelihara cagar budaya di Aceh dan Sumatera Barat turut terdampak, bahkan ada yang hancur.
Situs Bongal, yang secara administratif terletak di Desa Jago-Jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Berbagai penelitian arkeologi telah menemukan bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa situs ini merupakan salah satu pelabuhan dagang maritim paling awal yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam, dengan temuan artefak yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, bahkan beberapa menunjukkan eksistensi sejak abad ke-1 Masehi. Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ery Soedewo, menyebutkan penemuan artefak di Situs Bongal ini lebih tua dari era Kesultanan Islam di Nusantara. Lokasi strategis Bongal yang menghadap Samudra Hindia dan diapit jalur Selat Malaka serta Selat Sunda menjadikannya pusat persinggahan kapal dagang dari Afrika Timur, Timur Tengah, India, Sri Lanka, hingga Cina. Ekskavasi di situs ini telah mengungkap ratusan artefak global, termasuk koin Arab-Sasaniyah, dirham Umayyah dan Abbasiyah, keramik Changsha dari Dinasti Tang, pecahan kaca Persia, manik-manik Romawi, perhiasan batu pirus, papan kapal beraksara Pallawa, dan lempengan logam bertuliskan huruf Suryani.
Hingga saat ini, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan masih mendata kondisi situs budaya lainnya yang terdampak, termasuk di kawasan Museum PDRI di Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat, yang mengalami longsoran kecil namun bangunannya masih aman. Prioritas utama pemerintah saat ini adalah upaya penyelamatan korban bencana, terutama dengan menyediakan makanan bagi masyarakat yang terputus akses jalan dan komunikasinya.
Banjir bandang di Sumatera ini sendiri telah menelan korban jiwa. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa total korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 770 orang per 3 Desember 2025. Data lain pada 30 November 2025 menyebutkan 116 korban tewas akibat banjir bandang Sumatera, dengan Tapanuli Tengah menjadi wilayah yang paling parah terdampak. Kondisi geografis Sumatera yang rentan dengan curah hujan tinggi, ditambah kerusakan lingkungan dan deforestasi di hulu daerah aliran sungai, disebut menjadi faktor penyebab parahnya dampak bencana hidrometeorologi ini.