
Mar Martinez Ortuno, istri dari pelatih tim wanita Valencia B, Martin Carreras Fernando, mengisahkan detik-detik mengerikan saat kapal pinisi wisata KM Putri Sakinah tenggelam di perairan Selat Pulau Padar, kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, pada Jumat malam, 26 Desember 2025. Kapal yang membawa 11 orang, terdiri dari enam wisatawan Spanyol, empat kru, dan seorang pemandu wisata, dihantam gelombang tinggi secara tiba-tiba sebanyak dua kali, menyebabkan mesin mati dan kapal akhirnya karam. Insiden tragis ini mengakibatkan Fernando Martin dan ketiga anaknya, yang berusia 12, 10, dan 9 tahun, dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian intensif oleh tim SAR gabungan. Mar Martinez sendiri berhasil selamat bersama putri bungsunya yang berusia tujuh tahun.
Setibanya di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Mar Martinez terlihat menangis dan berulang kali mengucapkan kata "help, help" kepada petugas penyelamat, menanti kabar suami dan ketiga anaknya yang belum ditemukan. Tim SAR gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Basarnas, KSOP, dan masyarakat setempat terus melakukan upaya pencarian, meskipun menghadapi kendala cuaca buruk dan gelombang laut yang masih kuat. Operasi pencarian ini direncanakan berlangsung selama tujuh hari sesuai Standar Operasional Prosedur.
Peristiwa tenggelamnya KM Putri Sakinah memperpanjang daftar panjang kecelakaan laut yang kerap terjadi di Labuan Bajo, destinasi pariwisata super prioritas Indonesia. Sepanjang tahun 2024 hingga akhir Desember 2025, tercatat setidaknya 15 kecelakaan kapal wisata terjadi di perairan Labuan Bajo dan sekitarnya. Insiden-insiden tersebut umumnya disebabkan oleh cuaca ekstrem, gelombang tinggi, serta gangguan teknis pada kapal. Pada tahun 2024, lebih dari delapan insiden besar terjadi, dan pada tahun 2025, Kepolisian Manggarai Barat mencatat lima kejadian dari Januari hingga Juli.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan otoritas maritim telah berupaya menegakkan regulasi serta standardisasi keselamatan kapal wisata di Labuan Bajo guna mencegah insiden serupa. Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, telah menerbitkan petunjuk pelaksanaan baru untuk meningkatkan keamanan pelayaran sebagai respons atas maraknya kecelakaan kapal wisata. Risdiyanto menjelaskan bahwa potensi kecelakaan di perairan Labuan Bajo meliputi kandas akibat karang dan gosong, putaran arus laut kuat, serta perubahan cuaca yang tiba-tiba. Namun, pengamat maritim Marcellus Hakeng Jayawibawa berpandangan bahwa kecelakaan yang berulang bukan sekadar musibah akibat cuaca buruk atau kelalaian individu, melainkan cermin dari sistem tata kelola yang rapuh dan pilihan kebijakan yang terlalu sering menempatkan keselamatan sebagai variabel yang bisa ditawar. Banyak kapal wisata, khususnya di daerah terpencil, masih beroperasi tanpa izin resmi atau tidak memenuhi standar keselamatan yang berlaku akibat kurangnya pengawasan dan penegakan hukum. Lonjakan jumlah wisatawan juga terkadang mendorong operator kapal untuk mengabaikan prosedur keselamatan demi memenuhi tingginya permintaan, terutama pada musim liburan.
Tragedi ini menyoroti urgensi peninjauan kembali dan penegakan regulasi keselamatan maritim yang lebih ketat, tidak hanya di Labuan Bajo, tetapi juga di seluruh perairan wisata Indonesia. Komitmen pemerintah untuk mengutamakan keselamatan wisatawan dan memastikan penanganan musibah secara transparan, humanis, dan bertanggung jawab perlu diwujudkan melalui tindakan konkret untuk membangun sistem keselamatan yang kokoh. Langkah-langkah preventif, termasuk pemeliharaan rutin kapal, pemeriksaan kelaiklautan yang ketat, serta pelatihan kru untuk menghadapi situasi darurat, merupakan investasi krusial untuk menjaga reputasi Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia dan melindungi nyawa para wisatawan.