:strip_icc()/kly-media-production/medias/2386781/original/055470500_1539852287-1.jpg)
Pelancong di seluruh dunia semakin mengadopsi strategi perjalanan tanpa bagasi terdaftar, sebuah respons langsung terhadap kebijakan biaya tambahan maskapai yang terus meningkat dan berpotensi memberatkan. Tren ini, yang didorong oleh kebutuhan untuk menghemat biaya dan menghindari kerumitan, telah mengubah cara jutaan individu merencanakan perjalanan mereka, menciptakan pergeseran signifikan dalam kebiasaan konsumen yang berdampak pada model bisnis maskapai.
Sejak American Airlines mempelopori biaya bagasi terdaftar sebesar $15 pada Mei 2008, industri penerbangan telah melihat pendapatan tambahan melonjak secara dramatis. Langkah ini, awalnya disebut sebagai respons terhadap tingginya harga bahan bakar dan resesi global, dengan cepat diikuti oleh maskapai besar lainnya, mengubah layanan yang dulunya inklusif menjadi sumber pendapatan yang krusial. Pada tahun 2023, maskapai global meraup $33 miliar dari biaya bagasi saja, meningkat 15% dari tahun sebelumnya dan melampaui angka pra-pandemi 2019. Maskapai AS sendiri mengumpulkan rekor $7,27 miliar dalam biaya bagasi terdaftar pada tahun 2024, menggarisbawahi pentingnya pendapatan ini bagi profitabilitas mereka.
Saat ini, sebagian besar maskapai besar di AS mengenakan biaya setidaknya $35 hingga $40 untuk bagasi terdaftar pertama pada penerbangan domestik, dengan biaya yang meningkat untuk tas tambahan, kelebihan berat, atau ukuran. Bahkan maskapai yang secara historis dikenal dengan kebijakan "bagasi gratis", seperti Southwest Airlines, mulai memberlakukan biaya $35 untuk bagasi terdaftar pertama pada tahun 2025. Maskapai berbiaya rendah (LCC) seperti Spirit dan Frontier seringkali memiliki biaya yang lebih tinggi dan batasan berat yang lebih ketat, bahkan terkadang mengenakan biaya untuk tas jinjing berukuran standar atau menerapkan "harga lonjakan" berdasarkan waktu perjalanan puncak.
Andrew Nocella, chief commercial officer United Airlines, berargumen bahwa biaya ini menawarkan pilihan kepada pelanggan dan memungkinkan maskapai untuk menawarkan tarif dasar yang lebih rendah, sehingga penumpang dapat memilih dan membayar hanya untuk layanan yang mereka inginkan. Pernyataan ini didukung oleh studi Kellogg Insight tahun 2015 yang menunjukkan bahwa biaya bagasi dapat menurunkan biaya operasional maskapai dan berkontribusi pada penurunan harga tiket dasar, menciptakan "win-win" dengan menyelaraskan kepentingan maskapai dan penumpang dalam pengurangan biaya. Namun, analisis lain menunjukkan bahwa meskipun harga tiket mungkin sedikit menurun, harga total dengan biaya tambahan seringkali menjadi lebih tinggi.
Di sisi lain, kritikus, termasuk Senator AS Richard Blumenthal dan Josh Hawley, menyebut praktik ini sebagai "biaya tak terduga" (junk fees) yang mempersulit konsumen untuk membuat anggaran perjalanan dan terkadang melebihi harga tiket penerbangan itu sendiri. Senator Hawley secara khusus mengkritik maskapai seperti Frontier dan Spirit karena memberikan bonus kepada karyawan yang berhasil mengidentifikasi dan mengenakan biaya kepada penumpang dengan tas kabin yang kelebihan ukuran, memperkuat persepsi bahwa maskapai sengaja mencari keuntungan dari kebingungan kebijakan bagasi. Sebuah laporan tahun 2023 menunjukkan bahwa hampir separuh pelancong di Australia percaya maskapai dengan sengaja mengambil keuntungan dari kebijakan bagasi yang membingungkan.
Menghadapi biaya ini, pelancong telah mengembangkan berbagai strategi untuk terbang tanpa bagasi terdaftar. Pendekatan "minimalis" semakin populer, dengan fokus pada pengemasan yang efisien dan hanya membawa barang yang benar-benar penting. Para pelancong kini berinvestasi pada tas jinjing dan barang pribadi yang dirancang agar sesuai dengan dimensi maskapai, memaksimalkan setiap ruang yang diizinkan. Teknik pengemasan seperti menggulung pakaian alih-alih melipatnya, menggunakan kubus pengemasan (packing cubes) atau kantong kompresi, serta mengisi sepatu dengan barang-barang kecil, menjadi praktik umum untuk menghemat ruang.
Selain itu, tren beralih ke perlengkapan mandi padat (solid toiletries) membantu menghindari batasan cairan TSA dan menghemat ruang. Untuk perjalanan yang lebih lama, pelancong seringkali hanya mengemas pakaian untuk satu minggu dan merencanakan untuk mencuci di tujuan, sebuah strategi yang didukung oleh pilihan kain yang ringan dan cepat kering. Memakai barang-barang terberat seperti sepatu bot atau jaket pada hari perjalanan juga merupakan taktik umum untuk mengurangi berat dan ruang dalam tas. Bagi mereka yang tetap ingin membeli oleh-oleh, mengirimkannya pulang atau membeli barang-barang kecil dan mudah dibawa menjadi alternatif untuk menghindari biaya bagasi tambahan.
Pergeseran perilaku konsumen ini memiliki implikasi jangka panjang bagi industri perjalanan. Meskipun biaya bagasi terus menjadi pendorong pendapatan yang signifikan bagi maskapai, pertumbuhan keengganan konsumen untuk membayar dapat mempercepat inovasi dalam penawaran layanan dan teknologi. Maskapai yang dapat mengintegrasikan personalisasi dan nilai yang jelas dalam layanan tambahan mereka mungkin mendapatkan keunggulan kompetitif, sementara tekanan pada "biaya tak terduga" kemungkinan akan terus berlanjut. Ini menyoroti evolusi berkelanjutan dalam hubungan antara maskapai dan pelancong, di mana efisiensi pribadi menjadi mata uang baru dalam upaya menavigasi biaya perjalanan udara modern.