
Tebing Breksi, destinasi wisata yang dulunya merupakan lokasi penambangan batu tuf aktif di Prambanan, Sleman, Yogyakarta, kini menghadapi tantangan fluktuasi jumlah pengunjung. Setelah mencatat lonjakan signifikan pasca-transformasinya menjadi situs geoheritage pada 2015, dan meraih berbagai penghargaan, data terbaru menunjukkan penurunan angka kunjungan harian pada Juni 2025, memicu perhatian pada strategi keberlanjutan dan inovasi pariwisata.
Transformasi Tebing Breksi berawal dari penghentian aktivitas penambangan pada tahun 2014, setelah penelitian oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) menemukan jenis batuan tuf yang langka, mendorong penetapannya sebagai situs Geoheritage Yogyakarta pada 2015. Peresmiannya sebagai objek wisata oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 30 Mei 2015 menandai era baru bagi perekonomian lokal.
Secara geologis, batuan di Tebing Breksi terbentuk dari endapan abu vulkanik letusan Gunung Api Purba Nglanggeran jutaan tahun lalu, yang kemudian mengeras menjadi batuan tufan. Dinding tebing yang dipahat artistik dengan relief cerita pewayangan dan patung naga, bersama dengan pemandangan Kota Yogyakarta, Candi Prambanan, serta Gunung Merapi dari ketinggian 200 meter di atas permukaan laut, menjadikannya daya tarik fotografi yang kuat, terutama saat matahari terbenam.
Pengelolaan Tebing Breksi secara mandiri oleh masyarakat lokal melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau BUMKal Sambimulyo, dengan konsep Community Based Tourism (CBT), telah memberikan dampak ekonomi positif. Objek wisata ini berhasil menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha bagi setidaknya 140 karyawan pada 2023, serta meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kalurahan Sambirejo hingga Rp 1,2 miliar pada tahun 2019. Namun, angka kunjungan wisatawan nusantara yang sempat mencapai 1.647.819 pada 2019, menurun drastis menjadi 180.000 pada puncak pandemi 2021. Laporan terbaru pada Juni 2025 mencatat kunjungan harian yang lebih rendah, dengan sekitar 600 pengunjung pada akhir pekan dan hanya 103 wisatawan domestik serta dua mancanegara sehari sebelum Iduladha.
Harga tiket masuk Tebing Breksi, yang efektif berlaku mulai 1 Januari 2025, adalah Rp10.000 untuk wisatawan domestik pada hari biasa, dan Rp15.000 pada akhir pekan atau hari libur nasional. Wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp20.000 pada hari biasa dan Rp30.000 pada akhir pekan atau hari libur nasional. Penyesuaian tarif ini bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan dan mendukung pengelolaan berkelanjutan, termasuk perawatan fasilitas dan pengembangan area wisata.
Para ahli pariwisata, seperti Dr. Ir. Djoko Wijono dari UGM, telah menekankan pentingnya pembenahan infrastruktur seperti akses jalan, toilet, dan ketersediaan air bersih untuk mengakomodasi lonjakan pengunjung dan menjaga keberlanjutan wisata. Sementara itu, GKR Bendara, putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, juga menyoroti kebutuhan inovasi berkelanjutan untuk menarik minat wisatawan dan menggerakkan ekonomi.
Implikasi jangka panjang dari keberadaan Tebing Breksi melampaui sekadar destinasi foto. Ia menjadi model bagi pemanfaatan lahan pascatambang yang kreatif dan berkelanjutan, mengubah potensi geologis menjadi aset ekonomi dan edukasi. Pentingnya Tebing Breksi bagi pembaca terletak pada representasinya sebagai bukti bahwa dengan pengelolaan yang berbasis komunitas dan inovasi yang adaptif, sebuah lokasi yang dianggap tidak produktif dapat berubah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pelestarian warisan budaya serta alam. Ke depan, tantangan terletak pada bagaimana pengelola dapat terus berinovasi, mungkin melalui pengembangan pertunjukan cahaya dan suara atau teknologi realitas virtual, sembari menyeimbangkan daya tarik wisata massal dengan statusnya sebagai geoheritage yang memerlukan konservasi.