Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tanpa Kapok! Pengunjung Safari Bogor Viral Keluar Mobil di Zona Satwa Liar

2025-12-30 | 19:22 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T12:22:00Z
Ruang Iklan

Tanpa Kapok! Pengunjung Safari Bogor Viral Keluar Mobil di Zona Satwa Liar

Video amatir yang menunjukkan sekelompok pengunjung keluar dari kendaraan mereka di zona satwa liar Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor kembali menjadi viral di media sosial pada akhir November 2025, memicu kekhawatiran serius tentang keselamatan pengunjung dan kesejahteraan satwa. Insiden tersebut, yang menampilkan individu-individu berjalan bebas di area yang jelas melarang interaksi langsung dengan satwa buas, mengulang pola pelanggaran serupa yang telah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir, menyoroti tantangan berkelanjutan dalam menegakkan protokol keamanan di fasilitas konservasi tersebut.

Pihak manajemen Taman Safari Indonesia Bogor, melalui Kepala Komunikasi dan Pemasaran F. Ricco, telah mengonfirmasi keaslian video tersebut dan menyatakan bahwa insiden itu terjadi pada Jumat, 28 November 2025. "Kami sangat menyayangkan kejadian ini dan telah menindaklanjuti dengan mengidentifikasi para pelaku. Mereka melanggar aturan tegas yang telah kami sosialisasikan berulang kali," ujar Ricco dalam keterangan pers resmi pada Sabtu, 29 November 2025. Taman Safari Bogor telah memberlakukan larangan keras bagi pengunjung untuk keluar dari kendaraan atau membuka jendela di zona satwa liar, dengan penandaan dan pengumuman yang jelas di seluruh area. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat berujung pada sanksi pengeluaran dari area taman dan, dalam kasus tertentu, pelaporan kepada pihak berwenang jika dianggap membahayakan.

Peristiwa ini bukan kali pertama pengunjung mengabaikan aturan keselamatan dasar di Taman Safari Bogor. Pada tahun 2023, sebuah insiden serupa menjadi sorotan ketika seorang pengunjung terekam memberi makan kuda nil dari luar kendaraan, sementara pada tahun 2022, beberapa video menunjukkan pengunjung membuka jendela dan berinteraksi langsung dengan beruang. Berbagai insiden ini secara konsisten memicu perdebatan publik mengenai tingkat kesadaran dan kepatuhan pengunjung, serta efektivitas pengawasan dan penegakan aturan oleh pihak pengelola. Data internal Taman Safari Bogor menunjukkan adanya peningkatan kasus peringatan lisan dan teguran tertulis terhadap pengunjung yang melanggar batas keamanan, naik sekitar 15% dari tahun 2023 ke 2024.

Para ahli konservasi dan perilaku satwa menyuarakan keprihatinan mendalam. Dr. Budi Santoso, seorang zoologis dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa tindakan keluar dari mobil di zona satwa liar bukan hanya membahayakan nyawa pengunjung, tetapi juga berpotensi mengubah perilaku alami satwa. "Memberi makan atau terlalu dekat dengan satwa dapat menyebabkan mereka kehilangan kewaspadaan alaminya terhadap manusia, bahkan memicu agresi jika mereka merasa terancam atau kecewa tidak mendapatkan makanan. Ini juga dapat mengganggu pola makan dan kesehatan mereka," jelas Dr. Santoso. Menurutnya, insiden yang berulang ini mengindikasikan bahwa edukasi dan sosialisasi saja tidak cukup efektif tanpa disertai sanksi yang lebih tegas dan konsisten.

Implikasi jangka panjang dari pelanggaran keamanan semacam ini dapat merusak reputasi Taman Safari sebagai lembaga konservasi terkemuka dan destinasi wisata yang aman. Industri pariwisata Indonesia sangat bergantung pada citra keselamatan dan profesionalisme, terutama untuk menarik wisatawan internasional. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengeluarkan peraturan terkait pengelolaan taman safari dan lembaga konservasi lainnya, yang menekankan pentingnya standar keamanan dan etika pengunjung. Namun, penegakan di lapangan kerap menghadapi tantangan. "Regulasi sudah ada, namun kesadaran dan ketaatan masyarakat adalah kunci. Pengelola harus lebih proaktif dalam pengawasan dan memberikan sanksi tanpa pandang bulu," kata Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK, Dr. Siti Nuraini, dalam sebuah forum diskusi terkait pengelolaan satwa liar.

Untuk mencegah terulangnya insiden serupa, sejumlah langkah perbaikan dapat dipertimbangkan. Selain memperketat pengawasan fisik oleh petugas, integrasi teknologi seperti kamera pengawas dengan fitur deteksi pergerakan anomali di zona sensitif dapat memberikan peringatan dini. Kampanye edukasi yang lebih interaktif dan visual, yang menekankan risiko nyata dan konsekuensi hukum, mungkin juga diperlukan. Namun, pada akhirnya, tanggung jawab tertinggi terletak pada setiap individu pengunjung untuk menghormati aturan yang dibuat demi keselamatan bersama dan pelestarian satwa. Tanpa kesadaran kolektif ini, upaya pengelola dan pemerintah akan terus diuji oleh tindakan sembrono yang membahayakan ekosistem dan pengalaman berwisata.