Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tanah Abang: Menguak Sejarah Tersembunyi di Balik Keramaian Ikonik

2025-12-04 | 04:11 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-03T21:11:22Z
Ruang Iklan

Tanah Abang: Menguak Sejarah Tersembunyi di Balik Keramaian Ikonik

Di balik hiruk pikuk transaksi dan keramaian pembeli yang tak ada habisnya, Pasar Tanah Abang menyimpan sejarah panjang yang membentang hampir tiga abad, menjadikannya salah satu ikon perdagangan tertua dan terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Keberadaannya bukan sekadar pusat grosir, melainkan cerminan evolusi kota dan denyut nadi perekonomian yang tak pernah padam.

Pasar Tanah Abang pertama kali didirikan oleh Yustinus Vinck pada 30 Agustus 1735. Vinck, seorang pengusaha Belanda yang juga anggota Dewan Hindia Belanda, memperoleh izin dari Gubernur Jenderal VOC saat itu, Abraham Patras, untuk membangun pasar ini. Awalnya, pasar ini dikenal dengan nama Pasar Sabtu karena hanya diizinkan beroperasi setiap hari Sabtu, menjual tekstil dan barang kelontong. Bangunan awal Pasar Tanah Abang sangat sederhana, terbuat dari dinding bambu, papan, dan beratap rumbia.

Sejarah mencatat bahwa kawasan Tanah Abang awalnya merupakan lahan yang dikuasai Belanda. Pada tahun 1648, seorang kapitan China bernama Phoa Beng Gam bahkan pernah meminta izin VOC untuk membuka lahan perkebunan di area tersebut. Nama "Tanah Abang" sendiri memiliki beberapa versi asal-usul. Ada yang menyebutkan berasal dari kata "Nabang", sejenis pohon palem yang banyak tumbuh di daerah itu, sehingga orang Belanda menyebutnya "De Nabang" yang kemudian diplesetkan menjadi Tenabang oleh masyarakat setempat. Versi lain mengaitkannya dengan pasukan Mataram yang pada tahun 1628 melihat banyak tanah merah di kawasan ini dan menyebutnya "Tanah Abang" yang berarti tanah merah dalam bahasa Jawa.

Perjalanan Pasar Tanah Abang tidak selalu mulus. Pada tahun 1740, pasar ini hancur dan dibakar akibat peristiwa "Geger Pecinan", sebuah pembantaian etnis Tionghoa oleh pasukan VOC. Baru pada tahun 1801, aktivitas perdagangan mulai pulih, dan pasar ini dibangun kembali, dengan izin beroperasi pada hari Rabu dan Sabtu. Pada awal abad ke-19, pemerintah Batavia melakukan perombakan besar-besaran, mengubahnya menjadi bangunan permanen pada tahun 1926 dengan tiga los panjang berdinding tembok dan beratap genteng. Pasar ini semakin berkembang pesat setelah dibangunnya Stasiun Tanah Abang. Bahkan, dari tahun 1800-an hingga 1950-an, Tanah Abang pernah menjadi pasar kambing.

Kini, Pasar Tanah Abang dikenal luas sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, menarik pembeli dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara. Menjelang hari-hari besar seperti Idulfitri, pasar ini selalu dipadati pengunjung. Pada puncak musim Ramadhan 2024, jumlah pengunjung di Blok B Pasar Tanah Abang mencapai 54.827 orang dalam sehari, meningkat dari sekitar 40.000 orang di tahun sebelumnya. Bahkan, pada salah satu hari menjelang Lebaran tahun 2021, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai 100.000 orang. Sementara itu, pada Maret 2025, lebih dari 30 ribu pengunjung memadati Pasar Tanah Abang untuk berburu baju Lebaran. Diperkirakan puncak kunjungan dapat mencapai 100.000 orang pada Jumat, Sabtu, dan Minggu di pekan puncak jelang Lebaran, saat banyak orang menerima gaji dan THR.

Meskipun menghadapi tantangan dari tren belanja daring yang sempat membuat omzet pedagang menurun, Pasar Tanah Abang tetap menjadi destinasi belanja favorit dan terus berupaya beradaptasi. Keberadaan Pasar Tanah Abang, dengan sejarahnya yang kaya dan perannya sebagai pusat perdagangan vital, menjadikannya bukan hanya tempat berbelanja, tetapi juga sebuah destinasi yang menarik untuk memahami geliat sejarah dan ekonomi Jakarta.