
Ratusan peninggalan kebudayaan megalitikum berusia ribuan tahun menjadi saksi bisu peradaban prasejarah yang kaya di Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menawarkan jendela unik ke masa lalu yang belum mengenal tulisan. Situs Pekauman, yang diakui sebagai salah satu situs megalitikum terbesar dan terlengkap di Bondowoso, berfungsi sebagai bukti fisik pola permukiman dan sistem kepercayaan masyarakat kuno, menjadi destinasi edukasi dan penelitian arkeologi yang vital.
Situs Pekauman tersebar di area persawahan dan beberapa titik di Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, yang terletak sekitar 10-15 kilometer dari pusat kota Bondowoso, menjadikannya pusat informasi penting bagi pengunjung dan peneliti. Area ini menjadi penanda Bondowoso sebagai "kota seribu megalitikum" berkat keberadaan ribuan cagar budaya megalitikum yang tersebar luas. Benda-benda peninggalan yang ditemukan, sebagian besar terbuat dari batu andesit dan breksi, meliputi dolmen, sarkofagus, menhir atau arca menhir, batu kenong, arca batu, batu dakon, lumpang batu, dan punden berundak. Artefak-artefak ini diperkirakan berusia ribuan tahun Sebelum Masehi, dengan beberapa penelitian menunjukkan keberadaannya sejak abad ke-3 Masehi.
Fungsi artefak-artefak ini merefleksikan kompleksitas kehidupan sosial-budaya masyarakat prasejarah. Dolmen, misalnya, berfungsi ganda sebagai tempat sesaji persembahan bagi arwah leluhur dan juga sebagai lokasi penguburan dengan menempatkan jenazah di antara kaki dan atap meja batu. Sarkofagus, yang sering disebut masyarakat lokal sebagai batu pandhusah, merupakan peti mati batu berbentuk lesung atau perahu yang digunakan untuk menyimpan jenazah. Sementara itu, menhir didirikan untuk memperingati orang yang telah meninggal dan sebagai simbol pujaan. Batu kenong, yang berbentuk silindris dengan tonjolan, diyakini berhubungan dengan pemujaan arwah nenek moyang dan kesuburan, bahkan beberapa ahli mengasumsikan berfungsi sebagai bagian dari konstruksi bangunan semi permanen sebagai dasar penyangga struktur bangunan. Temuan tulang-belulang manusia, alat dari batu dan logam, manik-manik, serta gerabah di dalam kubur batu mengindikasikan praktik penguburan yang terstruktur.
Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) didirikan di Desa Pekauman untuk mengelola dan memfasilitasi akses informasi terkait warisan budaya ini. PIMB, yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, tidak hanya menyimpan koleksi benda prasejarah, tetapi juga berfungsi sebagai cagar budaya dan pusat penelitian megalitikum di Jawa Timur, serta klaster tematik untuk pembelajaran sejarah lokal. Geolog Heri Kusdaryanto menegaskan bahwa cagar budaya semacam ini sangat bermanfaat sebagai sarana pengenalan dan edukasi sejarah, khususnya bagi generasi milenial. Masyarakat umum dapat mengunjungi situs ini tanpa dipungut biaya, ditemani oleh pemandu wisata atau juru kunci PIMB.
Meskipun memiliki potensi edukasi dan wisata yang besar, Situs Pekauman menghadapi tantangan. Laporan pada tahun 2019 dan 2022 menunjukkan kekhawatiran tentang kerusakan benda megalitikum dan rencana perluasan lahan industri di dekat situs, yang berpotensi mengancam keberlangsungan cagar budaya. Namun, pemerintah daerah menyadari pentingnya situs ini. Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menyatakan bahwa Kabupaten Bondowoso memiliki lebih dari seribu titik cagar budaya megalitikum, dan eksplorasi lebih lanjut dapat berkontribusi tidak hanya bagi bangsa dan negara tetapi juga bagi dunia. Bupati Hamid menegaskan komitmennya untuk membuat kesepahaman dan kesepakatan dengan perguruan tinggi guna melakukan pengabdian dalam memahami kebermaknaan situs megalitik, serta meletakkan pondasi pembangunan jangka menengah untuk akselerasi pelestarian dan pengembangan. Kehadiran Situs Pekauman menempatkan Bondowoso dalam peta penting penelitian prasejarah global, sekaligus menawarkan narasi mendalam tentang akar peradaban di Nusantara.