:strip_icc()/kly-media-production/medias/5451540/original/053220900_1766307642-WhatsApp_Image_2025-12-21_at_09.57.19.jpeg)
Semarang bersiap menyambut pergantian tahun dengan perpaduan unik antara sejarah dan budaya kontemporer. Museum Lawang Sewu, ikon warisan kolonial, akan menjadi pusat festival akhir tahun meriah yang berkolaborasi dengan Jakarta Clothing (Jakcloth) dan panggung hiburan berskala nasional, berlangsung dari 30 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Acara ini dirancang untuk menarik 15.000 pengunjung pada malam puncak perayaan, menandai upaya signifikan PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata) dalam merevitalisasi situs bersejarah menjadi ruang budaya yang dinamis.
Festival ini, yang mengusung konsep perpaduan pameran busana dan produk kreatif lokal, bazar kuliner UMKM khas Semarang, serta penampilan musik dari musisi ternama seperti Padi Reborn, Barasuara, Glenn Fredly Live by The Bakuucakar x Ryan Ekky Pradipta, dan Hall of the Elder, menawarkan pengalaman perayaan Tahun Baru yang berbeda. Direktur Utama KAI Wisata, Hendy Helmy, menegaskan bahwa Lawang Sewu bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan "ruang budaya yang hidup" yang dikemas lebih kreatif dan relevan bagi generasi muda serta keluarga.
Langkah KAI Wisata mengundang Jakcloth ke Lawang Sewu melanjutkan tren pemanfaatan situs warisan budaya untuk kegiatan modern. Sebelumnya, Lawang Sewu telah menjadi tuan rumah berbagai acara, termasuk perayaan Tahun Baru 2024 yang menampilkan musik langsung, pemutaran film klasik, dan pesta kembang api. Integrasi festival fesyen dan musik ini pada sebuah bangunan ikonik yang pernah berfungsi sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) ini menunjukkan evolusi dalam strategi pelestarian dan promosi budaya.
Kolaborasi ini berdampak positif terhadap perekonomian lokal, terutama bagi pelaku UMKM dan industri kreatif di Semarang. Penyelenggara menargetkan 5.000 hingga 10.000 pengunjung per hari, dengan puncak 15.000 pada malam pergantian tahun, diharapkan menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan. Harga tiket masuk reguler sebesar Rp 50.000, dengan tiket konser terpisah mencapai Rp 150.000 hingga Rp 750.000, mencerminkan nilai tambah yang ditawarkan dari perpaduan hiburan dan edukasi sejarah.
Pemanfaatan Lawang Sewu sebagai pusat perayaan modern ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menarik wisatawan melalui pengalaman yang imersif dan interaktif. Analisis dampak frekuensi kunjungan wisatawan pada Lawang Sewu menunjukkan peluang besar dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat sekitar. Ini sekaligus merespons kebutuhan generasi milenial yang mencari pengalaman wisata sejarah dengan sentuhan inovasi dan hiburan.
Di masa depan, model kolaborasi antara pengelola situs warisan dan penyelenggara acara kontemporer ini kemungkinan akan menjadi contoh bagi destinasi sejarah lainnya di Indonesia. Dengan demikian, bangunan bersejarah dapat terus hidup, tidak hanya sebagai monumen masa lalu, tetapi sebagai ruang aktif yang mendukung ekosistem kreatif dan ekonomi, sambil tetap melestarikan nilai-nilai sejarahnya bagi generasi mendatang. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan relevansi situs-situs bersejarah di tengah perubahan zaman dan preferensi wisatawan yang dinamis.