:strip_icc()/kly-media-production/medias/5453890/original/050586700_1766537498-planetarium_2.jpeg)
Planetarium Jakarta, ikon edukasi astronomi di jantung ibu kota, kembali membuka pintunya untuk publik pada Selasa, 23 Desember 2025, setelah "mati suri" selama lebih dari 13 tahun sejak terakhir beroperasi penuh pada tahun 2012. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, secara resmi meresmikan pengaktifan kembali fasilitas di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) tersebut, menandai berakhirnya penantian panjang masyarakat terhadap salah satu pusat pembelajaran antariksa tertua di Asia Tenggara.
Penghentian operasional Planetarium Jakarta secara total dimulai pada Maret 2020 akibat pandemi COVID-19, bertepatan dengan dimulainya proyek revitalisasi menyeluruh kawasan Taman Ismail Marzuki yang ambisius sejak tahun 2019. Selama periode tersebut, kerusakan proyektor bintang utama, Universarium M VIII, yang telah digunakan sejak 1996 dan sering bermasalah, menjadi kendala teknis krusial yang menunda pembukaan kembali. Selain itu, dualisme pengelolaan antara PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebagai pengelola hasil revitalisasi dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta yang bertanggung jawab atas fungsi edukasi publik, turut menghambat pemulihan operasional. Gubernur Pramono Anung Wibowo menekankan prinsipnya untuk menuntaskan proyek-proyek yang belum terselesaikan, termasuk Planetarium ini.
Transformasi Planetarium Jakarta kini menghadirkan fasilitas yang jauh lebih modern dan imersif, jauh melampaui kondisi sebelumnya. Integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu daya tarik utama, dengan hadirnya AI Virtual Host yang berfungsi sebagai pemandu digital interaktif. "Dulu ketika saya kecil, fasilitasnya belum sebagus sekarang. Ditambah sekarang ada teknologi AI gubernur dan Wagub bisa menjadi pengalaman berbeda dan lebih edukatif," ujar Gubernur Pramono Anung Wibowo saat peresmian. Peremajaan ini meliputi sistem visualisasi astronomi digital, simulasi tata surya berbasis data sains terkini, serta area pameran yang dilengkapi replika benda angkasa, teleskop, dan panel interaktif. Pembaruan ini bertujuan menjadikan pembelajaran astronomi lebih interaktif, relevan, dan menarik bagi generasi muda.
Sebagai bagian dari upaya strategis untuk menghidupkan kembali minat masyarakat, khususnya pelajar, terhadap ilmu pengetahuan dan astronomi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggratiskan tiket masuk Planetarium bagi seluruh pelajar selama tiga bulan ke depan. Kebijakan ini berlaku bagi pelajar dari Jakarta maupun luar daerah, meskipun orang tua atau pendamping tetap dikenakan tarif normal. Langkah ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan fasilitas edukasi ini secara maksimal, terutama bertepatan dengan musim liburan akhir tahun.
Planetarium Jakarta, yang digagas oleh Presiden Soekarno pada tahun 1964 dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 10 November 1968 bersamaan dengan Taman Ismail Marzuki, memiliki sejarah panjang sebagai pelopor edukasi antariksa. Didirikan dengan visi untuk memajukan ilmu astronomi dan memerangi takhayul di tengah masyarakat, fasilitas ini menjadi pusat edukasi astronomi pertama di Asia Tenggara. Penutupan yang berlangsung lama telah menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya momentum edukasi dan minat generasi muda terhadap sains.
Pembukaan kembali Planetarium ini diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsinya sebagai pusat edukasi sains, tetapi juga sebagai katalisator bagi ekosistem seni dan budaya di kawasan TIM secara keseluruhan. Peningkatan kunjungan diproyeksikan akan menggerakkan sektor pendukung seperti UMKM dan unit usaha kreatif di sekitar lokasi, sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang berdaya saing dan berkarakter. Ke depan, pengelolaan kawasan TIM akan diarahkan pada sistem "single management" untuk memastikan integrasi, transparansi, dan profesionalisme, dengan harapan dapat berkembang menjadi ruang ekspresi seni dan pusat edukasi publik yang mandiri serta berkelanjutan.