
Di tengah bayangan pandemi COVID-19 yang sempat melanda dunia, manusia mencari berbagai cara untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, termasuk melalui praktik spiritual dan kembali ke alam. Konsep "mandi hutan" atau Shinrin-yoku serta praktik spiritual para petapa gunung, seperti Dewa Sanzan di Jepang, muncul sebagai destinasi dan metode yang menawarkan ketenangan dan pemulihan.
"Mandi hutan", yang secara harfiah diterjemahkan sebagai Shinrin-yoku, adalah praktik Jepang yang telah ada sejak lama dan menjadi bagian penting dalam kebijakan serta pelayanan kesehatan di negara tersebut. Praktik ini melibatkan penghabiskan waktu di lingkungan hutan sambil menghirup aroma yang dikeluarkan oleh pepohonan, yang disebut fitonsida. Fitonsida ini dipercaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah kanker. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mandi hutan dapat menurunkan tingkat kecemasan, depresi, kemarahan, kelelahan, dan kebingungan, serta efektif mengurangi stres mental dan meningkatkan kualitas tidur. Selama pandemi COVID-19, ketika banyak orang terpaksa menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan, jauh dari lingkungan alami, Shinrin-yoku dianggap sebagai teknik pengurangan stres yang murah dan alami. Beberapa ahli bahkan menyatakan bahwa mandi hutan dapat membantu membangun kekebalan tubuh dan menurunkan tingkat stres selama pandemi COVID-19. Hal ini didukung oleh temuan bahwa aktivitas di alam terbuka dapat menurunkan kadar hormon stres seperti adrenalin, yang pada gilirannya dapat meningkatkan sel pembunuh alami dalam tubuh.
Di Jepang, para petapa gunung atau Yamabushi di pegunungan suci Dewa Sanzan, Prefektur Yamagata, telah mempraktikkan bentuk "mandi hutan" selama 1.400 tahun. Dewa Sanzan terdiri dari tiga gunung suci: Gunung Haguro, Gunung Gassan, dan Gunung Yudono, yang secara simbolis mewakili kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali. Ritual perjalanan melintasi tiga gunung ini sering dilakukan oleh para biksu gunung Jepang yang mempraktikkan Shugendo, sebuah agama yang menggabungkan elemen Shinto, Buddha, dan Taoisme. Para Yamabushi meyakini bahwa bertapa di lingkungan pegunungan dan hutan dapat membawa pencerahan. Mereka melakukan puasa yang lama dan meditasi di bawah air terjun, serta berjalan di malam hari dan mengunjungi lokasi dewa-dewa bersemayam di pegunungan untuk berdoa. Selama pandemi COVID-19, Kuil Dewa Sanzan telah mengambil langkah-langkah pencegahan infeksi, termasuk meminta pengunjung menjaga jarak sosial, memakai masker, melakukan pengukuran suhu, dan sterilisasi. Mereka juga menawarkan layanan doa dan jimat melalui pos bagi mereka yang tidak dapat berkunjung secara langsung. Pada tahun 2021 dan 2022, Dewa Sanzan bahkan menyelenggarakan kunjungan khusus bertema "syukur dan doa untuk pemulihan dan reproduksi" dengan harapan menghentikan penyebaran virus corona.
Secara lebih luas, spiritualitas memainkan peran penting dalam mengatasi dampak psikologis pandemi COVID-19. Banyak individu mengalami kecemasan, stres, dan depresi akibat pembatasan sosial, ketidakpastian masa depan, dan ketakutan akan wabah. Praktik keagamaan dan spiritualitas dapat memberikan ketenangan batin, memperkuat keyakinan diri, dan membantu individu menghadapi tekanan psikologis. Destinasi wisata spiritual, yang menawarkan pengalaman liburan yang menyegarkan jiwa dan memperkaya spiritualitas, menjadi alternatif yang dicari banyak orang. Konsep wisata kesehatan holistik, yang mencakup pemulihan fisik, mental, dan spiritual, juga semakin diminati.