:strip_icc()/kly-media-production/medias/5441684/original/057081700_1765514822-WhatsApp_Image_2025-11-29_at_10.30.06__1_.jpeg)
Tren pernikahan pada tahun 2026 diproyeksikan akan didominasi oleh konsep kemewahan yang bertanggung jawab atau "conscious luxury", sebuah pergeseran dari kemewahan semata menuju perayaan yang lebih bermakna dan berkesadaran. Alban Kibarer, pengusaha asal Prancis dan pendiri K Club Ubud, menyatakan bahwa tren ini didorong oleh kemewahan yang bertanggung jawab, ekspresi personal yang mendalam, serta keinginan untuk menciptakan pengalaman yang unik. Pernikahan intim dengan jumlah tamu di bawah 150 orang menjadi pilihan utama bagi segmen kelas atas, berfokus pada kualitas interaksi dan pengalaman tamu yang tak terlupakan.
Perayaan "conscious luxury" juga sangat didorong oleh kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. Calon pengantin akan cenderung memilih vendor lokal, berupaya mengurangi limbah dengan katering tanpa sisa (zero-waste catering), serta menggunakan dekorasi dengan dampak lingkungan yang minimal. Konsep ini lebih menitikberatkan pada makna dan tujuan, ketimbang kemewahan yang berlebihan atau eksklusivitas berdasarkan harga. Gaun pengantin "soft glam" juga muncul sebagai evolusi dari "quiet luxury", menawarkan gaya yang elegan, personal, dan tidak berlebihan, menjadi titik tengah antara minimalisme dan maksimalisme.
Selain itu, permintaan untuk "wedding weekend" atau perayaan yang berlangsung dua hingga tiga hari, meningkat signifikan. Ini bertujuan untuk memaksimalkan waktu kebersamaan dengan tamu, menjadikannya sebuah acara liburan mini bagi seluruh keluarga dan teman. Personalisasi menjadi kunci, dengan pasangan memilih konsep atau desain acara yang benar-benar mencerminkan jati diri mereka, mungkin dengan sentuhan modern-tradisional atau tema yang lebih artistik dan palet warna yang berani seperti biru kobalt.
Di tengah perubahan tren ini, Bali tetap mempertahankan posisinya sebagai destinasi pernikahan favorit global. Pulau Dewata ini sekali lagi terpilih sebagai Destinasi Pernikahan Terkemuka di Asia dalam World Travel Awards 2025, setelah memenangkan penghargaan yang sama secara berturut-turut dari tahun 2019 hingga 2023. Bahkan, Bali menduduki peringkat kedua sebagai destinasi pernikahan terpopuler di dunia pada tahun 2024 menurut survei Bounce, dengan skor pernikahan 8,19/10.
Daya tarik Bali terletak pada keindahan alamnya yang memukau, mulai dari pantai berpasir putih, sawah hijau, hingga tebing dramatis, yang menjadi latar sempurna untuk mengikat janji suci. Budaya yang kaya, pengalaman autentik, dan keramahtamahan khas Bali turut menambah pesona pulau ini. Bali menawarkan keragaman di setiap wilayahnya, dari Ubud yang kaya budaya hingga Uluwatu yang dikenal dengan kemewahan tebingnya, menyediakan pilihan tempat yang sesuai untuk setiap gaya dan visi pernikahan. Perusahaan perencana pernikahan di Bali, seperti Tirtha Bali dan Luxotic Wedding, menawarkan paket eksklusif dan tempat menakjubkan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasangan, menegaskan kapasitas Bali dalam mewujudkan pernikahan impian.
Meskipun secara nasional terjadi penurunan jumlah pernikahan di Indonesia, khususnya di kalangan milenial dan Gen Z, yang lebih memilih menunda atau memandang pernikahan sebagai komitmen sadar berlandaskan pertumbuhan emosional dan kesehatan mental, tren "conscious luxury" di Bali menunjukkan bahwa bagi mereka yang memilih menikah, kualitas dan makna jauh lebih penting daripada kuantitas atau kemegahan semata.