
Banjir ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera baru-baru ini, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, disebabkan oleh kombinasi mematikan antara pola hujan aneh dan deforestasi yang masif. Hal ini diungkapkan oleh Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Ir. Mahawan Karuniasa, MM, yang juga seorang dosen di Sekolah Ilmu Lingkungan UI.
Menurut Mahawan Karuniasa, hujan deras berhari-hari yang terjadi pada akhir November itu bukanlah hujan biasa. Ia menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem tersebut dipengaruhi oleh kemunculan Siklon Tropis Senyar yang unik, karena siklon ini terbentuk di dekat garis khatulistiwa, padahal biasanya menjauh dari ekuator. Fenomena ini menyebabkan badai siklon yang memicu curah hujan ekstrem melebihi 50 mm per hari, menyebabkan sungai-sungai meluap secara masif. Badan Geologi Kementerian ESDM dan BMKG juga mengonfirmasi bahwa cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi menjadi faktor dominan penyebab banjir dan longsor di Sumatera. Beberapa stasiun BMKG bahkan mencatat curah hujan mencapai lebih dari 150 mm, bahkan 300 mm per hari di beberapa wilayah, mendekati level curah hujan ekstrem seperti banjir Jakarta 2020.
Selain faktor cuaca, deforestasi juga berperan besar dalam memperparah bencana hidrometeorologi ini. Bayu, seorang pengamat, menjelaskan bahwa deforestasi berskala besar selama bertahun-tahun di Sumatera akibat pembalakan, pembukaan lahan, dan aktivitas tambang telah mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air. Kondisi ini membuat hujan ekstrem, bahkan dengan intensitas yang relatif rendah sekalipun, mampu memicu aliran permukaan dalam jumlah besar, yang seringkali membawa kayu gelondongan dan material lumpur. Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih, menambahkan bahwa perubahan tutupan lahan yang tidak sesuai fungsi kawasan hutan memperburuk kondisi hidrologis di daerah terdampak. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara juga menyoroti maraknya deforestasi yang membuat tanah kehilangan daya serap air, menjadikannya "perkawinan sempurna" dengan badai tropis untuk melahirkan bencana banjir bandang.
Banjir ekstrem terbaru ini telah menimbulkan dampak serius, dengan data per 27 November mencatat sedikitnya 34 orang meninggal dunia dan 52 masih hilang, serta ribuan warga mengungsi. Beberapa laporan bahkan menyebutkan korban meninggal dunia melampaui 400 jiwa dan ratusan masih hilang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini telah melanda berbagai kabupaten seperti Aceh Utara, Langkat, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Tapanuli Selatan, Humbang Hasudutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.
Pakar dari berbagai institusi menekankan perlunya penguatan koordinasi lintas sektor untuk mitigasi dan adaptasi yang lebih efektif. Langkah-langkah prioritas mencakup konservasi kawasan hulu, rehabilitasi lahan kritis, serta pengendalian alih fungsi lahan. Selain itu, peningkatan kapasitas masyarakat desa rawan bencana melalui edukasi tanda-tanda awal longsor, penentuan jalur evakuasi, dan pemulihan vegetasi di area lereng juga dianggap fundamental.