:strip_icc()/kly-media-production/medias/4997368/original/020316500_1731131130-19WMS_1.jpg)
Fenomena salju di Arab Saudi, meskipun jarang, bukanlah kejadian yang sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya, melainkan hasil dari kombinasi kondisi meteorologi unik yang kadang-kadang diperparah oleh pergeseran iklim global. Pada November 2024, wilayah Al-Jawf, khususnya gurun Al-Nafūd di utara, mengalami salju untuk pertama kalinya dalam sejarah yang tercatat, mengubah lanskap gurun yang gersang menjadi pemandangan musim dingin yang langka. Peristiwa serupa juga tercatat pada bulan Desember 2025 di Tabuk, Hail, dan bahkan bagian utara Riyadh, dengan beberapa wilayah melaporkan salju untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir.
Penyebab utama terjadinya salju di Arab Saudi melibatkan interaksi antara massa udara dingin dan sistem tekanan rendah yang membawa kelembaban. Umumnya, fenomena ini terjadi ketika massa udara dingin dari Eropa atau Siberia bergerak ke selatan menuju Timur Tengah selama bulan-bulan musim dingin, yaitu antara Desember dan Februari. Massa udara dingin ini dapat menurunkan suhu secara drastis, kadang-kadang hingga di bawah 0°C di beberapa lokasi, terutama di daerah dataran tinggi. Misalnya, Turaif di wilayah Perbatasan Utara, salah satu tempat terdingin di Arab Saudi, pernah mencatat suhu hingga -12°C, menjadi salah satu suhu terendah yang pernah tercatat di Semenanjung Arab. Pada musim dingin 2022 dan 2024, Turaif kembali mencatat suhu -6°C.
Kelembaban yang diperlukan untuk salju sering kali berasal dari sistem tekanan rendah yang bergerak dari Laut Arab, seperti yang terjadi pada November 2024. Sistem ini membawa uap air yang, ketika bertemu dengan suhu dingin, memicu badai petir, hujan lebat, hujan es, dan bahkan salju. Meskipun gurun dikenal dengan panas ekstrem, daerah dataran tinggi di Arab Saudi, seperti pegunungan di wilayah Tabuk, memainkan peran penting. Jabal Al-Lawz, atau "Gunung Almond," di Tabuk, yang menjulang hingga sekitar 2.600 meter di atas permukaan laut, merupakan salah satu lokasi paling rentan terhadap salju karena ketinggiannya. Daerah lain yang sering mengalami salju termasuk Al-Jawf, Perbatasan Utara (Arar, Turaif), dan kadang-kadang bagian utara Hail.
Sejarah mencatat bahwa salju di Arab Saudi, terutama di daerah pegunungan utara, bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Namun, Mohammed bin Reddah Al Thaqafi, seorang astronom dan ahli di Taif Astronomical Sundial dan anggota Arab Union for Space and Astronomy Sciences, menyatakan bahwa meskipun salju terjadi secara berkala setiap musim dingin di Saudi bagian utara, frekuensinya tidak mengikuti siklus astronomi yang tetap dan sangat bergantung pada kondisi iklim dan atmosfer yang bergeser. Peristiwa tahun 2016 menyaksikan salju turun di antara Mekah dan Madinah untuk pertama kalinya dalam 85 tahun.
Implikasi dari fenomena ini melampaui keunikan sesaat. Para klimatolog menyarankan bahwa peristiwa cuaca atipikal seperti salju ini mungkin akan meningkat frekuensinya karena pergeseran kondisi atmosfer yang terkait dengan perubahan iklim global. Ilmuwan menunjukkan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas peristiwa cuaca ekstrem di seluruh dunia, dengan daerah yang lebih hangat mengalami periode dingin dan sebaliknya. Pergeseran ini memicu pertanyaan tentang apa yang akan terjadi di masa depan seiring dengan pergeseran pola iklim global. Pusat Meteorologi Nasional Saudi telah memperingatkan warga untuk bersiap menghadapi cuaca yang semakin parah, termasuk angin kencang, badai es, dan banjir bandang.
Dari perspektif pariwisata, salju di gurun telah menjadi daya tarik yang unik. Daerah seperti Tabuk telah melihat lonjakan wisatawan yang ingin mengalami pemandangan musim dingin yang langka ini. Pengelola pariwisata lokal mulai memanfaatkan kejadian langka ini dengan mempromosikan kegiatan musim dingin di Saudi bagian utara, dengan resor dan hotel di Tabuk bersiap untuk masuknya turis. Jabal Al-Lawz, misalnya, telah menjadi magnet bagi pengunjung selama musim dingin. Fenomena ini berpotensi memicu lonjakan ekowisata, dengan pelancong dari seluruh dunia mencari kesempatan langka untuk menyaksikan gurun dalam bentuk yang sama sekali berbeda.
Secara ekologis, meskipun lapisan salju tipis mungkin tidak terlihat berdampak besar, peristiwa ini berpotensi memberikan manfaat pertanian yang signifikan, terutama di wilayah seperti Al-Jawf yang dikenal subur. Suhu dingin dan kelembaban dapat menyuburkan tanah dan mendorong pertumbuhan berbagai tanaman yang biasanya tidak aktif di daerah tersebut, berpotensi mengubah daerah itu menjadi tujuan ekowisata yang lebih menarik. Namun, bersamaan dengan kegembiraan akan pemandangan musim dingin, muncul juga kekhawatiran tentang kondisi dingin dan jalanan yang licin, dengan pihak berwenang mendesak masyarakat untuk berhati-hati dan mematuhi peraturan lalu lintas. Peristiwa ini menjadi pengingat akan ketidakpastian alam dan urgensi tindakan untuk mengatasi perubahan iklim.