Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Merbabu dan Gunung Lainnya Tutup Pendakian Malam Tahun Baru: Cek Daftarnya

2025-12-31 | 15:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T08:31:27Z
Ruang Iklan

Merbabu dan Gunung Lainnya Tutup Pendakian Malam Tahun Baru: Cek Daftarnya

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengumumkan penutupan total seluruh jalur pendakian Gunung Merbabu mulai 1 Januari hingga 28 Februari 2026. Keputusan ini diambil menyusul insiden pendaki tersambar petir dan peringatan dini cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan potensi hujan deras, angin kencang, dan petir di wilayah pegunungan Jawa Tengah. Penutupan ini menjadi bagian dari pola berulang di berbagai gunung di Indonesia menjelang akhir dan awal tahun, yang dipicu oleh faktor keselamatan, pemulihan ekosistem, serta penyesuaian regulasi.

Selain Gunung Merbabu, sejumlah gunung populer lainnya di Indonesia turut menutup jalur pendakiannya menjelang atau selama periode Tahun Baru 2025/2026. Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat telah ditutup sejak 13 Oktober 2025 untuk penataan kawasan, penanganan tumpukan sampah, dan pemulihan lingkungan. Demikian pula, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menutup seluruh aktivitas pendakian Gunung Salak mulai 22 Desember 2025 hingga 31 Maret 2026 karena cuaca buruk, pemulihan ekosistem alami, dan mitigasi risiko keselamatan pendaki.

Situasi serupa terjadi di Gunung Semeru, yang telah ditutup sejak 19 November 2025 hingga Maret 2026 akibat potensi erupsi, awan panas beruntun, dan cuaca ekstrem. Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, juga memberlakukan penutupan seluruh jalur pendakian mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2026. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Yarman menyatakan penutupan ini bertujuan untuk mitigasi risiko bencana hidrometeorologi serta pemulihan ekosistem. Sementara itu, Gunung Merapi telah ditutup untuk pendakian sejak Mei 2018 karena aktivitas vulkanik yang tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda akan dibuka kembali.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Dr. Anggit Haryono, menekankan bahwa insiden kecelakaan pendaki akibat sambaran petir mengindikasikan tingginya risiko pendakian saat cuaca ekstrem. Oleh karena itu, penutupan ini menjadi langkah mitigasi dan pencegahan kecelakaan. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebelumnya juga mengumumkan penutupan lima gunung, termasuk Merapi dan Merbabu, menjelang akhir 2024, mempertimbangkan kondisi cuaca ekstrem dan rekomendasi dari Balai Taman Nasional serta Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Fenomena penutupan gunung pada akhir dan awal tahun bukan hal baru. Pada era 1990-an, jalur pendakian gunung kerap dibuka sepanjang tahun, bahkan menjadi lokasi favorit pergantian tahun. Namun, seiring meningkatnya jumlah pengunjung, tekanan terhadap ekosistem gunung juga bertambah. Penutupan periodik kini dianggap esensial untuk menjaga ekosistem dan memulihkan lingkungan yang terbebani oleh ratusan ribu pendaki setiap tahunnya. Kepala Balai Besar TNGGP Sapto Aji pada 2023 menjelaskan bahwa selain pemulihan ekosistem, cuaca ekstrem juga menjadi faktor utama penutupan.

Implikasi penutupan jalur pendakian meluas. Dari sisi konservasi, periode tanpa aktivitas manusia memberi kesempatan bagi flora dan fauna untuk beregenerasi, serta mengurangi tumpukan sampah dan kerusakan jalur. Namun, penutupan ini juga berdampak signifikan pada perekonomian lokal yang bergantung pada sektor pariwisata pendakian. Komunitas pemandu wisata, porter, dan pengelola penginapan di sekitar basecamp kehilangan pendapatan substansial. Pada 2015, penutupan Gunung Rinjani setelah erupsi Gunung Baru Jari diperkirakan merugikan kegiatan ekonomi warga sekitar hingga Rp50-100 juta per hari. Meskipun demikian, pemerintah, melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menegaskan bahwa keselamatan pendaki dan keberlanjutan ekosistem adalah prioritas utama.

Ke depan, pemerintah Indonesia sedang merumuskan kebijakan baru untuk mengatur aktivitas pendakian berdasarkan tingkat kesulitan dan risiko gunung, demi meningkatkan keselamatan pendaki. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengutarakan ide untuk membuat ketentuan prasyarat pendakian yang didasari level kesulitan suatu gunung, termasuk kemungkinan sertifikasi atau pengalaman pendakian sebelumnya untuk jalur-jalur ekstrem. Langkah-langkah ini menunjukkan pergeseran paradigma dari hanya mengukur keberhasilan pariwisata alam dari angka kunjungan menuju pendekatan yang lebih holistik, menempatkan konservasi dan keselamatan sebagai fondasi utama pariwisata berkelanjutan.

Meskipun demikian, beberapa jalur pendakian di Gunung Merbabu, seperti Thekelan, sempat dibuka dengan kuota terbatas pada akhir tahun 2023 dan menunjukkan peningkatan antusiasme pendaki hingga 50 persen pada libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, dengan kuota harian 118 orang yang terisi penuh. Hal ini mengindikasikan tingginya minat masyarakat terhadap wisata gunung, sekaligus menegaskan urgensi regulasi yang lebih ketat dan pengawasan yang konsisten untuk menyeimbangkan antara aksesibilitas wisata dan perlindungan alam.