:strip_icc()/kly-media-production/medias/5453420/original/012394500_1766478157-WhatsApp_Image_2025-12-23_at_13.08.16.jpeg)
Menteri Pariwisata Widiyanti baru-baru ini melakukan inspeksi mendalam terhadap Terminal 1C Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang telah direvitalisasi, memicu diskusi mengenai perpaduan antara desain modern dan sentuhan klasik Indonesia sebagai strategi kunci dalam meningkatkan pengalaman wisatawan. Kunjungan Widiyanti tersebut bertepatan dengan beroperasinya kembali Terminal 1C secara penuh sejak 12 November 2025, menandai sebuah fase baru bagi gerbang udara utama Indonesia ini.
Revitalisasi Terminal 1C, yang merupakan bagian dari proyek senilai Rp 1,3 triliun yang dimulai sejak 2019, telah secara signifikan meningkatkan kapasitasnya dari sebelumnya tiga juta menjadi delapan juta penumpang per tahun, bahkan beberapa sumber menyebutkan hingga 10 juta penumpang per tahun. Peningkatan ini turut mendongkrak kapasitas total Bandara Soekarno-Hatta menjadi 96 juta penumpang per tahun. Proyek ini dipimpin oleh PT PP (Persero) Tbk, dan telah menghasilkan pembaruan menyeluruh pada bangunan, modernisasi interior, serta reaktivasi sistem utilitas dan peralatan utama, menurut Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo. PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) sebagai pengelola bandara juga berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan.
Terminal 1, yang pertama kali beroperasi pada tahun 1985, selalu dikenal dengan desain arsitekturnya yang unik dan kental dengan nuansa lokal Indonesia, termasuk penggunaan ukiran kayu dan atap joglo. Dalam revitalisasi terbaru, filosofi desain hybrid berkarakter diimplementasikan, memadukan modernitas dengan warisan budaya. Fitur khas seperti bata merah terakota dan lampu gantung yang menjadi ornamen ikonik terminal dipertahankan dan diperkuat. Penambahan signifikan terlihat pada pemasangan plafon rotan sintetis bermotif batik, termasuk motif Truntum, Kawung, dan Samar, di area komersial. Bahan ini tidak hanya estetis dan ramah lingkungan, tetapi juga melibatkan lebih dari 200 pengrajin UMKM dari Tangerang, Serang, dan Cirebon dalam perakitannya, mencerminkan perpaduan nilai budaya Indonesia dengan desain modern bandara internasional.
Widiyanti, dalam pernyataannya, menyoroti pentingnya sentuhan budaya dalam infrastruktur pariwisata. "Pengalaman perjalanan dimulai dan diakhiri di bandara. Dengan mengintegrasikan elemen klasik dan modern, kita tidak hanya membangun terminal yang efisien, tetapi juga sebuah gerbang yang menceritakan kisah Indonesia kepada dunia," ujar Widiyanti. Penekanan pada gaya klasik di tengah upaya modernisasi juga sejalan dengan tren global di mana bandara semakin dianggap sebagai destinasi tersendiri yang mampu memperkaya perjalanan penumpang.
Secara operasional, Terminal 1 kini didedikasikan khusus untuk penerbangan domestik maskapai berbiaya rendah (LCC), dengan Terminal 1C melayani seluruh penerbangan domestik Citilink. Perubahan ini merupakan bagian dari strategi rebalancing maskapai untuk mendistribusikan lalu lintas penerbangan secara merata ke seluruh terminal, mengoptimalkan fasilitas dan kenyamanan. Inovasi dalam aspek keamanan juga diterapkan, dengan adopsi konsep pemeriksaan keamanan desentralisasi.
Volume penumpang di Bandara Soekarno-Hatta terus menunjukkan peningkatan. Selama periode 15 hingga 21 Desember 2025, bandara ini melayani 1.182.490 penumpang, dengan rata-rata harian normal sekitar 177.000 orang. Puncak arus libur Tahun Baru 2026 diprediksi pada 28 Desember 2025 dengan proyeksi 181.888 penumpang. Peningkatan kapasitas dan fokus pada pengalaman penumpang yang berakar pada budaya lokal ini diharapkan dapat memperkuat posisi Bandara Soekarno-Hatta sebagai salah satu bandara terbesar di dunia dan pendorong utama pariwisata nasional. Strategi ini juga mendukung tujuan InJourney Airports dalam memperkuat konektivitas penerbangan Indonesia dan sektor pariwisata, sejalan dengan Keputusan Menteri Nomor 31 Tahun 2024 tentang Penetapan Bandar Udara Internasional. Dengan harmonisasi budaya dan modernitas, Terminal 1C tidak hanya melayani pergerakan, tetapi juga menawarkan sebuah perjalanan berkesan yang merefleksikan identitas bangsa.