Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak Pesona Valentine: Tradisi Cinta Terunik dari Seluruh Dunia

2025-12-26 | 21:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T14:05:18Z
Ruang Iklan

Menguak Pesona Valentine: Tradisi Cinta Terunik dari Seluruh Dunia

Perayaan Hari Valentine, yang berakar dari festival kuno Romawi Lupercalia dan legenda Santo Valentinus yang dihukum mati pada 14 Februari karena menikahkan pasangan secara diam-diam, telah berevolusi menjadi fenomena global dengan manifestasi budaya yang sangat beragam. Meskipun esensinya adalah ekspresi kasih sayang, interpretasi "romantis" bervariasi secara signifikan antarnegara, mencerminkan nilai historis, sosial, dan ekonomi yang unik.

Di Jepang, perayaan Valentine secara tradisional berpusat pada perempuan yang memberikan cokelat kepada laki-laki pada 14 Februari. Terdapat dua jenis cokelat utama: "Giri Choco" yang diberikan sebagai kewajiban sosial kepada teman, kolega, atau atasan tanpa nuansa romantis, dan "Honmei Choco" yang diberikan kepada orang yang benar-benar dicintai, sering kali dibuat sendiri sebagai simbol ketulusan. Sebulan kemudian, pada 14 Maret, kaum pria membalas hadiah tersebut dalam tradisi "White Day", umumnya dengan cokelat putih atau perhiasan. Fenomena "Giri Choco" ini dalam beberapa tahun terakhir mulai berkurang, seiring dengan perempuan yang lebih memilih membeli cokelat untuk diri sendiri, menunjukkan pergeseran dari tekanan sosial menuju self-love.

Korea Selatan mengembangkan tradisi serupa dengan White Day, namun juga menambahkan "Black Day" pada 14 April, di mana para lajang berkumpul dan makan jajangmyeon (mi saus hitam) sebagai perayaan status lajang mereka. Selain itu, ada "Pepero Day" pada 11 November, di mana pasangan dan teman saling bertukar biskuit stik berlapis cokelat. Ini menunjukkan narasi perayaan kasih sayang yang lebih inklusif, tidak terbatas pada hubungan romantis semata.

Di Eropa, beberapa negara menawarkan tradisi yang secara intrinsik mengedepankan romansa yang mendalam. Wales, misalnya, merayakan Hari Santo Dwynwen, pelindung pecinta, pada 25 Januari, di mana para pria secara historis mengukir "sendok cinta" dari kayu sebagai tanda kasih sayang yang mendalam kepada wanita yang dicintai. Isyarat buatan tangan ini, yang kaya akan simbolisme, merefleksikan dedikasi dan keterampilan personal. Sementara itu, Italia, khususnya kota Verona yang menjadi latar kisah Romeo dan Juliet, mengubah Hari Valentine menjadi festival "Verona in Love". Kota ini dihiasi motif hati, menawarkan diskon museum dan restoran, serta mempertahankan tradisi menulis "Surat untuk Juliet", yang dijawab oleh sukarelawan Juliet Club. Tradisi menggosok dada kanan patung Juliet untuk keberuntungan cinta juga populer. Perancis, sering disebut kota paling romantis di dunia, merayakan dengan makan malam romantis dan bertukar surat cinta. Desa St. Valentin bahkan menjadi pusat romansa antara 12 dan 14 Februari, dihiasi mawar dan catatan cinta.

Filipina mengadopsi pendekatan kolektif terhadap romansa dengan menggelar pernikahan massal pada Hari Valentine, sering kali didukung oleh pemerintah setempat untuk membantu ribuan pasangan mengikat janji suci secara resmi. Ini bukan hanya perayaan cinta individu, tetapi juga komitmen sosial dan dukungan komunitas. Di Slovenia, Hari Santo Gregorius pada 12 Maret dianggap sebagai "Valentine versi Slovenia", menandai awal musim semi ketika, menurut tradisi lisan, burung-burung mulai berpasangan. Anak-anak meluncurkan model perahu kecil berisi lilin ke sungai (gregorčki) sebagai simbol cahaya yang dilemparkan ke air, merayakan perpisahan dengan kegelapan.

Secara ekonomi, Hari Valentine mendorong aktivitas belanja yang signifikan. Di Amerika Serikat, total pengeluaran mencapai sekitar 27,5 miliar dolar pada 2025, dengan bunga, cokelat, kartu ucapan, dan makan malam menjadi item belanja utama. Namun, tren ini juga menunjukkan pergeseran menuju hadiah yang lebih personal dan pengalaman, serta peningkatan pengeluaran untuk perawatan diri. Survei oleh Federasi Ritel Nasional pada 2019 menunjukkan penurunan persentase orang yang merayakan Hari Valentine, dengan alasan utama adalah komersialisasi berlebihan, status lajang, dan ketidakminatan.

Melihat keragaman tradisi ini, definisi "paling romantis" bersifat subjektif dan terikat pada nilai-nilai budaya. Perayaan di Verona, Italia, dengan fokus pada warisan Romeo dan Juliet, surat kepada Juliet, dan festival cinta yang menghidupkan kota, menawarkan pengalaman yang mendalam dan imersif bagi mereka yang mencari romansa klasik dan dramatis. Tradisi sendok cinta di Wales, dengan isyarat tangan dan personalisasi yang kuat, juga menonjolkan kedalaman perasaan. Sementara itu, pernikahan massal di Filipina menunjukkan romansa dalam skala komunitas dan komitmen publik.

Implikasi jangka panjang dari evolusi tradisi Valentine ini menunjukkan adaptasi budaya terhadap globalisasi dan tekanan komersial. Negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan telah mengadaptasi perayaan ini dengan nuansa lokal yang kuat, bahkan menciptakan hari-hari tambahan yang merefleksikan dinamika sosial mereka, termasuk perayaan untuk kaum lajang. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan ketahanan tradisi, tetapi juga kapasitas budaya untuk berinovasi dalam mengekspresikan kasih sayang di tengah masyarakat modern yang terus berubah. Kritikus di beberapa negara mayoritas Muslim, seperti Arab Saudi, Iran, Pakistan, dan sebagian wilayah Indonesia, telah melarang atau membatasi perayaan ini, menganggapnya tidak sesuai dengan nilai agama dan budaya lokal. Hal ini mengindikasikan bahwa sementara cinta adalah emosi universal, cara perayaannya tetap menjadi medan perdebatan budaya dan identitas.