Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak Keajaiban Tidung Kecil: Kerangka Paus 13 Meter dan Surga Terumbu Karang

2025-12-25 | 07:16 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T00:16:12Z
Ruang Iklan

Menguak Keajaiban Tidung Kecil: Kerangka Paus 13 Meter dan Surga Terumbu Karang

Pulau Tidung Kecil, bagian dari gugusan Kepulauan Seribu Selatan, Jakarta, mengukuhkan posisinya sebagai destinasi ekowisata bahari yang berorientasi edukasi dengan keberadaan kebun terumbu karang seluas 2,5 hektare dan kerangka utuh paus sperma berukuran 13 meter. Kedua atraksi ini tidak hanya menarik minat wisatawan, tetapi juga berfungsi sebagai pusat penelitian dan konservasi laut yang vital.

Keberadaan kerangka paus sperma (Physeter macrocephalus) sepanjang 13 meter di Museum Ikan Paus Tidung Kecil memiliki narasi sejarah yang panjang. Paus ini pertama kali ditemukan terdampar dalam kondisi hidup di perairan Tanjung Pakis, Karawang, pada tahun 2012. Upaya penyelamatan yang melibatkan Tim SAR Nasional, nelayan, dan warga setempat sempat berhasil menarik paus kembali ke laut dalam, namun kondisi paus yang melemah membuatnya kembali terdampar dan akhirnya mati di perairan Kepulauan Seribu. Mengingat potensi edukatifnya, Dinas Perikanan DKI Jakarta, bekerja sama dengan tim dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan masyarakat Pulau Tidung, memutuskan untuk mengawetkan dan merakit ulang kerangka tersebut. Proses yang memakan waktu dua tahun ini, termasuk pemendaman di Pulau Kotok untuk menghilangkan sisa daging dan minyak, menghadapi tantangan signifikan, seperti kondisi kerangka yang banyak patah dan bau menyengat yang memerlukan perawatan rutin menggunakan resin dua kali setahun. Museum yang didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ini bertujuan sebagai sarana penelitian, pendidikan, dan pariwisata, menawarkan pembelajaran langsung mengenai anatomi paus dan isu paus terdampar.

Di sisi lain, kebun terumbu karang di timur dermaga Pulau Tidung Kecil, yang dikembangkan sejak tahun 2009, merupakan inisiatif konservasi untuk merehabilitasi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Seribu. Area seluas 2,5 hektare ini menjadi rumah bagi berbagai jenis terumbu karang seperti Acropora, Montipora, Goniopora, dan Pocillopora. Penting untuk dicatat, keindahan kebun karang ini tidak diperuntukkan bagi kunjungan umum, melainkan khusus untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ekosistem. Upaya pelestarian terumbu karang di wilayah ini sangat krusial mengingat data dari Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) pada tahun 2022 menunjukkan penurunan persentase tutupan karang hidup di Kepulauan Seribu dari 34,2% menjadi 31,7% dalam dua tahun akibat kematian dan kerusakan. Kerusakan ini seringkali disebabkan oleh aktivitas manusia seperti sampah plastik, sedimentasi, dan penangkapan ikan destruktif. Program rehabilitasi melalui transplantasi karang telah menunjukkan pertumbuhan rata-rata 1 hingga 3 sentimeter per tahun, sementara teknologi biorock dapat mempercepat pertumbuhan hingga 4 sentimeter dalam dua tahun.

Pulau Tidung Kecil, dengan luas sekitar 17 hektare, ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut dan agrowisata yang tidak berpenghuni, dihubungkan dengan Pulau Tidung Besar melalui Jembatan Cinta sepanjang 800 meter. Selain museum paus dan kebun karang, kawasan ini juga memiliki program pembibitan mangrove, penangkaran penyu sisik, budidaya ikan laut, serta lahan agrowisata untuk tanaman buah naga dan tanaman obat keluarga. Pada awal 2024, sekitar 8.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata ditanam untuk memperkuat ekosistem pesisir. Konservasi yang komprehensif ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut dan daratan, sembari mendukung pariwisata berbasis pendidikan lingkungan hidup. Namun, aktivitas snorkeling dan penyelaman di area transplantasi karang hanya diizinkan untuk para ahli guna menjaga kelestarian ekosistem muda.

Pengembangan ekowisata di Pulau Tidung Kecil mencerminkan pendekatan strategis untuk menyeimbangkan pariwisata dengan pelestarian lingkungan. Studi mengenai potensi ekowisata di Pulau Tidung Kecil menunjukkan nilai sumber daya alam dan geostrategis yang tinggi, serta indeks tata kelola yang kuat, meskipun indeks infrastruktur dan sosial-ekonomi-budaya masih menjadi area pengembangan. Integrasi kerangka paus sebagai media edukasi dan upaya rehabilitasi terumbu karang yang berkelanjutan memberikan model bagaimana destinasi wisata dapat berkontribusi signifikan terhadap literasi lingkungan dan konservasi. Kehadiran fasilitas ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga kekayaan bahari Kepulauan Seribu untuk generasi mendatang.