
Terletak di tengah lanskap gersang Dataran Tinggi Adrar, Mauritania, sebuah formasi geologis melingkar raksasa yang dikenal sebagai Struktur Richat atau lebih populer sebagai "Mata Sahara" terus memukau para ilmuwan dan pelancong. Dengan diameter mencapai 40 hingga 50 kilometer, struktur ini menonjol sebagai anomali visual yang begitu sempurna sehingga mudah dikenali dari luar angkasa, menjadi penanda navigasi bagi para astronaut sejak misi Gemini 4 NASA pada tahun 1965. Namun, asal-usulnya, yang pernah diperdebatkan secara intens, kini semakin terkuak melalui penelitian geologi modern.
Meskipun pada awalnya sering disalahpahami sebagai kawah tumbukan meteorit karena bentuknya yang melingkar sempurna, penelitian lebih lanjut secara definitif menepis teori tersebut. Para ilmuwan tidak menemukan bukti khas kawah tumbukan seperti kuarsa terkejut atau batuan leleh yang terbentuk akibat panas ekstrem. Konsensus ilmiah saat ini menunjukkan bahwa Mata Sahara adalah sebuah kubah geologis yang terkikis secara mendalam, terbentuk dari serangkaian proses geologi kompleks yang membentang selama jutaan tahun.
Pembentukannya dimulai sekitar 100 juta tahun yang lalu, selama Periode Kapur, ketika batuan cair atau magma bergerak ke atas dari bawah permukaan Bumi. Intrusi magmatik ini tidak meletus menjadi gunung berapi, melainkan mendorong lapisan batuan sedimen di atasnya ke atas, menciptakan struktur berbentuk kubah atau antiklin. Seiring waktu, lapisan batuan sedimen dan beku yang berbeda – termasuk batupasir, batu gamping, kuarsit, riolit, gabro, karbonat, dan kimberlit – terkikis oleh angin dan air pada tingkat yang berbeda-beda. Lapisan batuan yang lebih keras dan lebih resisten terhadap erosi membentuk punggung bukit konsentris yang menonjol, sementara lapisan yang lebih lunak terkikis menjadi lembah di antaranya, menciptakan pola "cincin dalam cincin" yang kini terlihat jelas dari atas. Batuan beku alkali yang mendasarinya telah diperkirakan berumur antara 94 hingga 104 juta tahun.
Profesor geologi Haakon Fossen mencatat bahwa bentuk teratur Struktur Richat berasal dari gaya yang bekerja hampir pada satu titik, menyerupai "jari atau kepalan tangan yang mendorong bagian tengah tumpukan selimut, yang menciptakan tonjolan simetris pada lapisan di bawahnya." Penelitian terbaru, termasuk studi tahun 2024 oleh ahli geologi El Houssein Abdeina dan Gilles Chazot yang diterbitkan di Lithos, mengklasifikasikan Struktur Richat sebagai "teka-teki geologis polifase," menunjukkan bahwa itu adalah hasil dari setidaknya dua fase geologi berbeda yang berlangsung lebih dari 100 juta tahun.
Di luar daya tarik ilmiahnya, Mata Sahara juga menarik perhatian sebagai tujuan wisata unik. Meskipun lokasinya sangat terpencil di Gurun Sahara bagian barat-tengah Mauritania, dekat kota Ouadane, dan memerlukan kendaraan 4x4 serta pemandu berpengalaman untuk akses darat, pengalaman melihat langsung formasi ini sangat dicari. Banyak wisatawan memilih penerbangan balon udara panas atau pesawat kecil untuk mengapresiasi keindahan arsitektur geologisnya dari udara, meskipun struktur ini tidak terlihat sebagai "sasaran" yang sempurna dari permukaan tanah. Upaya promosi pariwisata bertanggung jawab sedang dilakukan, mencakup pelatihan pemandu lokal dalam prinsip konservasi, penetapan area berkemah, dan promosi prinsip "tidak meninggalkan jejak" di kalangan pengunjung.
Struktur Richat juga menyimpan jejak aktivitas manusia purba. Alat-alat Paleolitik Acheulean dan pra-Acheulean, seperti kapak tangan, telah ditemukan di sepanjang wadi (lembah sungai kering) di depresi annular terluar struktur, menunjukkan bahwa manusia awal memanfaatkan area ini untuk pembuatan alat dan perburuan jangka pendek, bukan sebagai permukiman permanen. Keberadaan artefak ini memberikan wawasan berharga tentang lingkungan masa lalu dan sejarah manusia di wilayah yang kini sangat kering.
Meskipun daya tarik mitos seputar klaim bahwa Struktur Richat adalah lokasi kota Atlantis yang hilang, yang digambarkan oleh Plato dengan cincin-cincin daratan dan air, tetap menjadi topik spekulasi populer, komunitas ilmiah tidak mendukung teori ini. Plato menggambarkan Atlantis sebagai pulau di Samudra Atlantik, sedangkan Struktur Richat berada jauh di daratan Gurun Sahara. Selain itu, bukti geologis dan arkeologis tidak selaras dengan deskripsi Plato, menjadikannya lebih sebagai interpretasi imajinatif daripada fakta ilmiah.
Ke depan, Mata Sahara tetap menjadi situs penting untuk studi geologi Bumi dan planetary sciences. Formasinya menawarkan penampang alami kerak Bumi, memperlihatkan jutaan tahun sejarah geologis dan memberikan wawasan tentang proses tektonik, erosi, dan aktivitas magmatik. Tantangan konservasi muncul dari peningkatan minat wisata, menuntut keseimbangan antara mempromosikan akses dan apresiasi situs dengan memastikan perlindungan jangka panjangnya. Perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan penggurunan juga dapat memengaruhi lanskap Mata Sahara di masa depan, dengan potensi lebih banyak bukit pasir yang menutupi bagian struktur tersebut.