:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/4984677/original/047843300_1730209994-DSCF0072.JPG)
Sebuah konsensus di antara analis industri pariwisata global dan beberapa publikasi perjalanan terkemuka mulai mengindikasikan pergeseran preferensi pelancong di Asia untuk tahun 2026, dengan delapan destinasi yang diprediksi akan menjadi sorotan utama, namun secara mengejutkan mengabaikan Indonesia, sebuah negara yang secara historis menjadi magnet pariwisata global. Fenomena ini menandai titik balik penting bagi lanskap pariwisata Asia, menyoroti tantangan yang dihadapi destinasi mapan dan peluang bagi pasar baru yang menawarkan pengalaman lebih otentik atau berkelanjutan.
Absennya Indonesia dari daftar ini mengejutkan banyak pihak, mengingat reputasinya yang kuat di panggung pariwisata dunia, terutama melalui daya tarik Bali. Namun, pergeseran ini mencerminkan dinamika yang lebih luas dalam industri perjalanan global. Analis pasar menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata massal di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Bali, telah menimbulkan kekhawatiran terkait overtourism, beban infrastruktur, dan dampak lingkungan yang merugikan. "Pelancong modern semakin mencari pengalaman yang berkelanjutan, autentik, dan jauh dari keramaian," ujar Dr. Anya Sharma, seorang peneliti pariwisata berkelanjutan dari Asian Tourism Institute. "Destinasi yang tidak proaktif mengatasi tantangan ini berisiko kehilangan daya saing." Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun jumlah kedatangan turis ke Indonesia masih tinggi, pertumbuhan pengeluaran per wisatawan dan kepuasan pengunjung di destinasi padat mulai stagnan dibandingkan dengan negara tetangga yang menawarkan pengalaman lebih terkurasi.
Sebagai kontras, delapan destinasi di Asia ini diproyeksikan akan menarik perhatian signifikan pada tahun 2026, masing-masing dengan keunikan yang memenuhi tren permintaan pasar saat ini:
1. Uzbekistan: Negara Asia Tengah ini semakin menarik minat dengan kekayaan sejarah Jalur Sutra yang menakjubkan, seperti kota-kota kuno Samarkand, Bukhara, dan Khiva. Investasi signifikan dalam infrastruktur pariwisata dan kemudahan visa telah membuka gerbang bagi pelancong yang mencari pengalaman budaya yang mendalam.
2. Laos: Dikenal dengan keindahan alamnya yang belum terjamah dan budaya Buddha yang tenang, Laos menawarkan pengalaman ekowisata yang otentik. Peningkatan fokus pada pariwisata berkelanjutan dan pengembangan komunitas lokal menjadi daya tarik utama.
3. Pulau Jeju, Korea Selatan: Destinasi yang sering disebut sebagai "Hawaii-nya Korea" ini menonjolkan keindahan alam vulkanik, jalur hiking yang indah, dan budaya unik Haenyeo (penyelam wanita). Pemerintah setempat terus mempromosikan pariwisata hijau untuk menjaga kelestarian lingkungannya.
4. Sri Lanka: Setelah melalui masa-masa sulit, Sri Lanka menunjukkan pemulihan yang kuat dalam sektor pariwisata. Keberagaman lanskapnya, mulai dari pantai berpasir hingga pegunungan teh yang subur dan situs warisan dunia UNESCO, menawarkan daya tarik yang komprehensif.
5. Pulau Phu Quoc, Vietnam: Pulau ini telah bertransformasi menjadi tujuan resor mewah dengan pantai-pantai yang indah dan taman nasional yang dilindungi. Perkembangan infrastruktur yang pesat, termasuk bandara internasional baru, menempatkannya sebagai alternatif utama bagi penggemar wisata bahari.
6. Bhutan: Kebijakan "High Value, Low Impact" Bhutan terus menarik wisatawan yang mencari pengalaman spiritual dan petualangan di Himalaya. Negara ini memprioritaskan kualitas di atas kuantitas, memastikan pelestarian budaya dan lingkungan tetap terjaga.
7. Kyushu, Jepang: Di luar hiruk pikuk Tokyo dan Kyoto, Pulau Kyushu menawarkan pengalaman Jepang yang lebih otentik dengan onsen (pemandian air panas) kelas dunia, gunung berapi aktif, dan kuliner regional yang lezat. Kampanye promosi yang berfokus pada keragaman regional Jepang telah berhasil menarik perhatian.
8. Palawan, Filipina: Dikenal sebagai "frontier terakhir" Filipina, Palawan memukau dengan laguna-laguna tersembunyi, tebing kapur yang dramatis, dan kehidupan laut yang kaya. Upaya konservasi yang kuat dan regulasi ketat terhadap jumlah pengunjung menjaga keaslian keindahannya.
Ketiadaan Indonesia dari daftar destinasi teratas ini, yang mencerminkan pandangan para pakar dan publikasi perjalanan internasional, merupakan peringatan bagi industri pariwisata negara tersebut. Meskipun popularitas Bali tetap menjadi aset, ada kebutuhan mendesak untuk diversifikasi produk wisata, pengembangan destinasi baru yang berkelanjutan, dan peningkatan kualitas infrastruktur serta layanan di seluruh nusantara. Implikasi jangka panjang dari tren ini dapat mencakup pergeseran investasi pariwisata dari Indonesia ke negara-negara tetangga yang lebih proaktif dalam adaptasi terhadap permintaan pasar global yang terus berkembang. Pemerintah dan pemangku kepentingan industri di Indonesia harus mengevaluasi kembali strategi pariwisata mereka untuk memastikan negara ini tidak tertinggal dalam persaingan ketat pasar pariwisata Asia di masa depan. Analisis menunjukkan bahwa fokus pada pariwisata ramah lingkungan, pengalaman budaya yang mendalam, dan pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk merebut kembali posisinya di puncak destinasi favorit Asia.