:strip_icc()/kly-media-production/medias/5040368/original/076839100_1733631509-Foto_Emirates_-_Pesawat_A350_Terbaru_Emirates__1_.jpg)
Kembalinya sejumlah penerbangan internasional ke Tel Aviv menandai langkah tentatif menuju normalisasi perjalanan udara ke Israel, menyusul serangkaian perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Meskipun situasinya tetap dinamis dan memerlukan pemantauan ketat, maskapai-maskapai besar mulai memulihkan layanannya ke Bandara Internasional Ben Gurion (TLV), memberikan harapan bagi sektor pariwisata dan konektivitas.
Gelombang pertama pemulihan penerbangan terlihat pada awal tahun 2025. Wizz Air, misalnya, menjadi salah satu maskapai Eropa pertama yang kembali ke Tel Aviv, melanjutkan penerbangan di berbagai rute pada pertengahan Januari 2025. Pada 15 Januari, maskapai berbiaya rendah ini, termasuk anak perusahaannya di Inggris dan Malta, telah melanjutkan penerbangan dari Athena, Budapest, Bukares, London Luton, Wina, dan Vilnius. Sehari kemudian, pada 16 Januari, Wizz Air juga melayani rute dari Sofia, Milan Malpensa, Krakow, Roma Fiumicino, dan Warsawa Chopin. Anak perusahaan Wizz Air yang berbasis di Abu Dhabi juga mengoperasikan penerbangan dari Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi ke Tel Aviv pada 16 Januari. Secara total, Wizz Air dan anak perusahaannya telah melanjutkan penerbangan ke 12 destinasi dari Israel sejak pengumuman gencatan senjata tersebut. Maskapai ini juga dilaporkan memiliki jadwal musim panas penuh untuk penerbangan ke Tel Aviv, dimulai pada 30 Maret.
Lufthansa Group, yang mencakup Brussels Airlines, Eurowings, Austrian Airlines, dan Swiss International Air Lines, juga mengumumkan akan melanjutkan penerbangan ke Tel Aviv mulai 1 Februari 2025. Sementara itu, maskapai lain seperti Air Europa dan Aegean Airlines telah melayani Tel Aviv selama beberapa minggu sebelum pengumuman gencatan senjata Januari, dengan Air Europa beroperasi sejak Februari 2024 dan Aegean Airlines melanjutkan layanan pada Desember sebelumnya.
Maskapai penerbangan AS juga telah mengalami serangkaian penangguhan dan pemulihan sepanjang tahun 2025 karena situasi keamanan yang bergejolak. United Airlines, yang telah secara intermiten menangguhkan layanannya karena eskalasi konflik di Timur Tengah, mengonfirmasi akan melanjutkan penerbangan harian ke Tel Aviv pada 21 Juli 2025, dengan penerbangan kedua setiap hari menyusul pada hari berikutnya. Sebelumnya, United sempat menghentikan penerbangan pada 12 Juni setelah pasukan Israel dan Iran saling menembakkan rudal, setelah juga sempat menangguhkan layanan pada Mei 2025 setelah serangan rudal Houthi mendarat di dekat Bandara Ben Gurion.
Delta Air Lines juga telah mengumumkan pemulihan layanan. Delta dijadwalkan untuk melanjutkan penerbangan harian ke Tel Aviv dari Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) New York pada 1 September 2025. Maskapai ini akan menggunakan Airbus A330-900neo untuk rute tersebut. Delta sebelumnya juga telah menangguhkan penerbangan pada Juni 2025 setelah Israel dan AS melancarkan serangan ke Iran, dan juga pada Mei 2025 karena serangan Houthi. American Airlines, dengan satu-satunya rute Israel yang tersisa dari New York ke Tel Aviv, berencana untuk melanjutkan penerbangan pada musim gugur, dengan jadwal kembali pada 27 Oktober.
Meskipun ada kembalinya maskapai penerbangan ini, situasinya tetap rapuh. Gencatan senjata yang berlaku pada 10 Oktober 2025 antara Israel dan Hamas, sebagai bagian dari fase pertama rencana perdamaian yang didukung AS, tetap dijaga, namun kekerasan sporadis oleh Israel dan militan Palestina terus mengancam gencatan senjata tersebut. Dewan Keamanan PBB juga telah mengakui kerapuhan gencatan senjata ini, menyerukan semua pihak untuk menahan diri.
Maskapai-maskapai seperti Ryanair telah membatalkan penerbangan ke Israel hingga setidaknya awal Agustus 2025 karena faktor di luar kendali mereka. EasyJet, yang semula menangguhkan penerbangan hingga Maret 2025, menyatakan akan meninjau kembali rencananya menyusul berita gencatan senjata. Otoritas Penerbangan Sipil Israel terus memantau situasi dengan cermat, berkoordinasi dengan badan-badan penerbangan internasional untuk memastikan keamanan perjalanan udara. Mengingat volatilitas yang sedang berlangsung, para pelancong disarankan untuk memverifikasi status penerbangan langsung dengan maskapai sebelum menuju ke bandara.