Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mangi-Mangi Warrior: Benteng Terakhir Mangrove Raja Ampat dari Gempuran Resort

2025-12-15 | 19:20 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-15T12:20:55Z
Ruang Iklan

Mangi-Mangi Warrior: Benteng Terakhir Mangrove Raja Ampat dari Gempuran Resort

Gerakan komunitas Mangi-Mangi Warrior telah muncul sebagai garda terdepan dalam upaya menyelamatkan ekosistem mangrove di Raja Ampat yang sempat terancam oleh pembangunan resor dan homestay. Stevanus Wawiyai, seorang pemuda lokal, mendirikan komunitas ini sebagai respons terhadap praktik penebangan mangrove yang masif untuk dijadikan pondasi bangunan akomodasi pariwisata. Minimnya sumber kayu lain di tengah pesatnya industri pariwisata Raja Ampat menjadikan mangrove sebagai pilihan mudah untuk ditebang.

Wawiyai menyadari bahwa hilangnya hutan mangrove bukan hanya berarti lenyapnya sumber pangan, tetapi juga perlindungan pantai dan cara hidup masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada laut. Keresahan ini menjadi pemicu bagi Stevanus untuk bertindak, terutama setelah berdiskusi dengan lima tokoh adat, termasuk kelompok perempuan, pada tahun 2018. Mereka mengungkapkan bahwa mangrove yang dulu melimpah kini menipis, berdampak pada kebutuhan harian warga, dan menimbulkan kekhawatiran bahwa anak cucu tidak akan lagi mengenal mangrove. Perempuan pesisir menjadi pihak yang paling rentan saat ekosistem mangrove menghilang.

Pada September 2024, perjuangan Mangi-Mangi Warrior mendapatkan legitimasi penting ketika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menerbitkan Surat Keputusan (SK) Hutan Desa seluas 1.025 hektare di Kampung Friwen, Distrik Waigeo Selatan. Keputusan ini memberikan hak kelola yang sah kepada masyarakat dan memperkuat posisi mereka dalam menjaga kelestarian mangrove. Komitmen terhadap pengelolaan berkelanjutan memastikan bahwa masyarakat dapat menjaga alam sambil juga memperoleh manfaat darinya.

Peran perempuan sangat ditekankan dalam gerakan ini, dengan filosofi bahwa penguatan perempuan akan menguatkan bangsa. Empat kelompok usaha telah dibentuk di bawah kepemimpinan perempuan, meliputi agroforestri, kerajinan tangan, pangan berbahan dasar mangrove, dan patroli konservasi. Selain menjaga mangrove, warga juga aktif mengembangkan ekowisata skala kecil berbasis budaya lokal dan menghidupkan kembali pangan tradisional yang sudah dikenal sejak abad ke-14.

Inisiatif Mangi-Mangi Warrior ini mendapat apresiasi dari Citra Septiani, ahli ekosistem laut di World Resources Institute (WRI) Indonesia. Ia menilai bahwa gerakan ini adalah contoh nyata bagaimana perubahan positif dapat terjadi ketika masyarakat ditempatkan sebagai pemilik wilayah mereka sendiri. Pendekatan yang berakar pada nilai budaya dan kepemimpinan lokal inilah yang membuat gerakan seperti Mangi-Mangi Warrior mampu bertahan, tidak hanya memulihkan ekosistem tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga pesisir melalui pemulihan stok ikan, penurunan biaya budidaya, dan peningkatan pendapatan warga. Stevanus Wawiyai sendiri telah memperkaya pandangannya melalui program kepemimpinan berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Yayasan Upaya Indonesia Damai (United in Diversity/UID), yang mengajarkan tentang keterhubungan antara manusia, alam, dan sistem sosial.

Hutan mangrove di Raja Ampat memiliki luas sekitar 27.180 hektare, meskipun data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019 menunjukkan bahwa sekitar 20 persen dari total 3,3 juta hektare mangrove nasional telah rusak. Upaya Mangi-Mangi Warrior menjadi krusial dalam melindungi keanekaragaman hayati dan mata pencarian masyarakat di salah satu permata pariwisata dunia ini.