:strip_icc()/kly-media-production/medias/1745474/original/091286700_1508481756-Mandalika_3.jpg)
InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mengumumkan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, telah memasuki fase pengembangan baru yang disebut "Next Chapter of The Mandalika." Inisiatif strategis ini mencakup pembangunan marina untuk memperkuat konektivitas laut dan mendukung visi Mandalika sebagai destinasi sportstainment berskala global. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menyatakan bahwa pengembangan ini didorong oleh peningkatan intensitas acara dan aktivitas di kawasan.
KEK Mandalika, yang luasnya 1.175 hektar dengan garis pantai sepanjang 16 kilometer, telah menarik total investasi sebesar Rp 5,73 triliun hingga kuartal IV tahun 2025, dengan estimasi Internal Rate of Return (IRR) sebesar 11,2 persen. Angka ini mencerminkan daya tarik kawasan sebagai destinasi investasi yang kompetitif dan berkelanjutan.
Sejak ditetapkan sebagai KEK Pariwisata melalui Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014, Mandalika telah dirancang sebagai lokomotif ekonomi nasional, memanfaatkan potensi bahari yang memukau. Pertamina Mandalika International Circuit menjadi penarik utama aktivitas kawasan, terbukti dari dampak ekonomi ajang MotoGP yang menyumbang Rp 4,96 triliun dan menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja lokal. Sirkuit ini juga mencatat lebih dari 309 aktivasi per tahun, meliputi olahraga internasional, hiburan, budaya, hingga kegiatan komunitas.
Pengembangan marina adalah bagian dari upaya ITDC untuk memperkuat konektivitas laut, melengkapi infrastruktur darat dan udara yang sudah ada, termasuk bypass Bandara Internasional Lombok. Selain marina, inisiatif lain mencakup masuknya merek internasional, pembentukan eastern premium zone, penguatan central zone sebagai tuan rumah acara global, serta komersialisasi kawasan hunian dan retail-lifestyle untuk mendukung aktivitas ekonomi jangka panjang. Ahmad Fajar menjelaskan bahwa setiap aktivasi di sirkuit dan kawasan dirancang untuk menciptakan multiplier effect yang nyata, mulai dari peningkatan kunjungan wisatawan, penguatan perputaran ekonomi lokal, hingga penyerapan tenaga kerja.
Wakil Bupati Lombok Tengah, M. Nursiah, mengapresiasi nilai investasi yang masuk, menggarisbawahi manfaat yang mulai terasa signifikan, seperti penyerapan tenaga kerja lokal, produk UMKM, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Nursiah menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mempermudah perizinan bagi investor dan berkolaborasi menjaga keamanan serta kondusivitas daerah.
Meskipun progres pembangunan menunjukkan capaian signifikan, tantangan terkait dampak sosial-ekonomi dan lingkungan tetap menjadi perhatian. Laporan Koalisi Pemantau Pembangunan Infrastruktur Indonesia (KPPII) pada tahun 2018 menyoroti adanya konflik lahan, potensi pencemaran lingkungan, serta kurangnya keterlibatan bermakna dengan masyarakat terdampak proyek di Mandalika. Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa 89% responden merasa kekhawatiran mereka terhadap dampak negatif tidak ditanggapi serius oleh ITDC atau Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Isu-isu ini menggarisbawahi kompleksitas pembangunan kawasan pariwisata berskala besar dan kebutuhan akan pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
ITDC berharap pengalaman pengelolaan KEK Mandalika dapat menjadi praktik terbaik bagi pengembangan KEK lain di Indonesia, memperkuat posisinya sebagai ikon transformasi pariwisata nasional berbasis acara, investasi, dan dampak ekonomi nyata. Dengan fase pengembangan baru ini, Mandalika berupaya tidak hanya menjadi destinasi pariwisata kelas dunia, tetapi juga pendorong pertumbuhan ekonomi regional yang berbasis pada inovasi sportstainment.