:strip_icc()/kly-media-production/medias/5258240/original/023190800_1750345804-melihat-air-terjun-lembah-anai-objek-wisata-di-jalur-lintas-padang-bukittinggi.jpg)
Lembah Anai, sebuah permata wisata alam yang termahsyur, kini menyisakan duka setelah diterjang longsor dan banjir bandang. Sebelum bencana menghantam, kawasan ini adalah destinasi primadona yang memukau dengan pesona keindahan alamnya yang menakjubkan. Pengunjung disambut jalur lintas berkelok dengan panorama indah khas tanah Minangkabau, di mana tebing-tebing tinggi yang hijau dan aliran sungai yang jernih memanjakan mata.
Salah satu daya tarik utamanya adalah Air Terjun Lembah Anai yang ikonik, menjulang setinggi sekitar 35 meter, dengan air jernih dan pepohonan rindang di sekitarnya. Air terjun ini hanyalah satu dari tujuh air terjun yang tersembunyi di dalam Cagar Alam Lembah Anai, sebuah kawasan konservasi penting yang melindungi hutan tropis dan keanekaragaman hayatinya. Banyak wisatawan tidak sekadar melintas, melainkan sengaja berhenti untuk menikmati pemandangan dan mengabadikan momen di lokasi yang menjadi favorit untuk berfoto ini. Keunikan Lembah Anai juga diperkaya dengan keberadaan rel kereta api tua peninggalan kolonial Belanda yang berkelok melintasi jalan raya, menambah nilai historis pada bentang alamnya yang asri. Keramaian lalu lintas, terutama saat musim liburan, menjadi bukti betapa kawasan ini dicintai dan menjadi urat nadi perekonomian serta mobilitas vital yang menghubungkan Kota Padang, Bukittinggi, hingga provinsi tetangga seperti Riau.
Namun, pesona itu kini terenggut. Pada Kamis, 27 November 2025, Lembah Anai dilanda longsor dan banjir bandang besar yang dipicu oleh curah hujan intensitas tinggi. Bencana ini mengubah drastis wajah Lembah Anai. Air terjun yang tadinya jernih dan indah, kini berubah menjadi bah berwarna kecokelatan yang mengerikan, dengan debit air yang begitu deras hingga meluap ke jalanan. Sungai Batang Anai yang biasanya bening kini keruh, pekat oleh lumpur, pasir, dan bebatuan.
Jalur utama penghubung Kota Padang-Bukittinggi di kawasan Lembah Anai lumpuh total. Sedikitnya enam titik jalan mengalami keruntuhan, dan satu titik putus total di area pemandian Mega Mendung. Material longsor berupa tumpukan tanah dan batu menutup seluruh badan jalan. Akibatnya, mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi terganggu parah. Fasilitas wisata, termasuk pondok-pondok dan kafe di depan air terjun, turut porak-poranda bahkan lenyap dihantam air bah.
Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), telah meninjau lokasi pada Selasa, 2 Desember 2025, dan menargetkan pembukaan jalur darurat untuk kendaraan esensial dalam dua minggu ke depan. Alat-alat berat kini terus berjibaku membersihkan material longsor dan menormalisasi aliran sungai. Bencana ini merupakan bagian dari gelombang longsor dan banjir yang melanda Sumatera, menyebabkan ratusan jiwa melayang. Data per Senin, 1 Desember 2025, pukul 17.00 WIB, mencatat 604 korban meninggal dunia dan 464 jiwa masih dinyatakan hilang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lembah Anai, yang sebelumnya adalah simbol keindahan alam, kini menjadi pengingat akan dahsyatnya kekuatan alam dan urgensi mitigasi bencana.